Sasana Budaya Ganesha (SABUGA) Berhantu

Kejadian ini sudah sangat lama sekali. Waktu itu aku berdua dengan seorang teman akan menonton konser band di sebuah concert hall Sasana Budaya Ganesha (SABUGA) yang terletak di daerah Taman Sari dekat Institut Teknologi Bandung. Konser yang akan dimulai pukul 8 malam itu banyak didatangi anak muda. Maklum, band yang akan manggung adalah band indie yang cukup terkenal. Aku dan temanku sudah datang sejak sore. Sampai akhirnya gerbang utama dibuka pada pukul 7 malam.

Kami pun masuk dan menikmati performance dari band yang kami tunggu-tunggu. Tiba-tiba aku merasa ingin sekali buang air kecil. “Dun, gw ke belakang dulu ya.” Fardun awalnya sempat melarang, alasannya takut tidak bisa masuk lagi karena penontonnya lumayan banyak. Tapi, aku sudah tidak kuat menahannya. Aku memang harus buang air kecil, tidak peduli apa kata Fardun. “Ya sudah lo tunggu aja. Gampanglah nanti masuknya”.

Aku langsung keluar dari pintu tengah, mencari toilet yang terdekat. Ternyata toilet yang di tengah rusak dan tidak bisa dipakai. Aku pun bertanya kepada panitia. Mereka menyuruhku untuk memakai toilet di sayap kanan atau sayap kiri gedung. Toilet sayap kanan kayaknya lebih dekat, aku membalikkan badan dan pergi ke toilet itu. Toilet dalam keadaan kosong. Sebenarnya, aku bisa saja buang air kecil di urinoir atau tempat buang air kecil gantung, tapi aku tidak biasa.

Aku pun ke kloset tertutup. Aku masuk dan mulai mengunci pintu. Selesai buang air kecil, aku lalu mencuci muka. Sepertinya, aku mendengar ada seseorang di kamar mandi ujung. Awalnya tidak aku hiraukan, sampai aku mendengar suara rintihan minta tolong. Suaranya seperti seseorang yang sedang kesakitan. Aku terdiam dan langsung menghampiri sumber suara. Aku pun mengetuk toilet yang ujung itu. “Mas ada apa?”.

Tidak ada jawaban dari dalam. Kucoba membuka pintu kamar mandi, tapi terkunci. Aku segera ke luar toilet untuk mencari pertolongan. Belum jauh aku melangkah, tiba-tiba saja terdengar suara seseorang sedang berusaha membuka pintu dari dalam toilet itu dan suara rintihan terdengar lagi. Aku spontan berbalik dan berusaha membantunya. Dengan sekuat tenaga aku berusaha membuka pintu toilet itu dan astaga. Aku perlahan mundur karena ternyata di dalam toilet itu tidak ada siapa-siapa.

Aku melangkah mundur dan ada sesuatu yang kutabrak, sesuatu yang berada di belakangku. Aku membalikkan badan. Di belakangku berdiri sosok mahluk yang terbungkus kain putih dengan muka pucat yang menyeramkan. Mukanya lebam seperti habis dipukuli. Kornea matanya mengecil. Aku segera berlari, ingin segera pergi dari toilet itu. Ke mana si Fardun? Kan sudah aku suruh tunggu. Aku panik mencari-cari Fardun. Perasaanku sudah tidak jelas ketakutan dan bingung bercampur aduk.

Hingga konser musik selesai, aku tidak menemukan Fardun. Aku keluar dari gedung itu, duduk di bawah tiang bendera yang terdapat beberapa meter dari pintu masuk utama. Sambil meneguk air mineral, aku masih menunggu Fardun. Pulsaku habis untuk sms, aku menunggu saja. Orang-orang masih tampak berhamburan keluar dari concert hall. “Doy” Aku merasakan seseorang menempuk punggungku. “Huh! Dari mana aja, sih lo dari tadi dicari-cari, Ayo pulang” Aku mengajak Fardun pulang.

Singkat cerita, kami berdua sudah berada di mobil. Aku mengendarai mobil dan meninggalkan concert hall tersebut. Di mobil, Fardun tampak sudah tertidur pulas. Aku masih ketakutan karena kejadian tadi. Badanku masih terasa lemas. Tiba-tiba Fardun mengigau. Aku mendengar suara igauan nya suara minta tolong. Aku ingat kata-kata yang diucapkan Fardun. itukan kata-kata yang aku dengar di toilet tadi? Spontan aku mempercepat laju mobilku, tanganku menepuk-nepuk badan Fardun berusaha untuk membangunkannya.

loading...

“Fardun, kenapa lo Dun? Bangun Dun”. Fardun tidak bangun-bangun meski aku sudah memukul-mukul dan meneriakinya. Dia seperti tidak sadar. Sementara, dia terus mengucapkan kata-kata tadi. Aku mengalihkan pandanganku ke depan, karena aku tetap menyetir. Aku melihat ke arah Fardun. Astaga di sebelahku bukan lagi sosok Fardun, melainkan sosok mahluk berkain putih yang tadi aku temui di toilet.

Makhluk itu menatapku dengan muka yang penuh lebam dan kornea mata yang mengecil. akhirnya aku berhenti mendadak, mobilku berhenti seketika. Dengan perasaan berkecamuk aku kemudian turun, membuka pintu samping dan menarik mahluk itu keluar dari mobilku. “Keluar kamu, ngapain kamu ikut-ikut aku?”. Aku menjatuhkan makhluk itu tepat di Jembatan Babakan Siliwangi, tidak jauh dari concert hall.

Jalan itu cukup sepi dan gelap karena waktu sudah dini hari. Aku sangat ketakutan, Aku harus cepat sampai rumah. Aku masuk kembali ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan. Aku pun tiba dirumah. Ketika aku memasukkan mobil ke garasi, aku melihat pintu rumah terbuka dan ada seseorang yang sedang duduk di teras rumah. “Dun, ngapain lo di sini ? Gw cari-cari lo tau nggak, sampai ketemu setan yang mirip lo”.

Fardun hanya tertawa. Dia menjelaskan kalau dia pulang duluan karena berpikir aku sudah pulang karena memang jarak rumahku dan concert hall tidak terlalu jauh. Akhirnya, malam itu Fardun menginap di rumahku. Setelah menceritakan kejadian tadi, aku dan Fardun pun tertidur. Tapi ketika aku bangun pagi harinya, aku sudah tidak melihat Fardun di kamarku. Ibu bilang Fardun sudah pulang sebelum aku bangun.

Tapi, ketika aku bertemu dengan Fardun di kampus. “Doy, lo yah ninggalin gw sendirian. Bete gw balik sendiri tadi malem. Naek angkot pula, lo tau kan kost gw jauh banget”. Aku hanya terdiam dan tertegun. Jadi yang menginap di rumahku semalam itu siapa?.

Share This: