Sate Bakar Kambing Yang Tidak Matang

Salam kenal saya buddi, awal cerita pada tahun 2002 tepatnya seminggu setelah lebaran haji 2 orang teman baik ku datang kerumahku sekitar jam 7 malam. Kami bertiga kumpul tepat diteras depan rumahku sambil minum kopi dan bersenda gurau. Salah satu temanku sebut saja namanya yopi, dia bilang dirumahnya masih memiliki daging kambing jatah dari panitia kurban yang belum sempat di olah.

Karena memang niatan kami ingin begadang jadi ide yang cukup baik untuk membuat sate kambing. Akhirnya dengan segera yopi pulang untuk mengambil daging kambing tersebut. Sambil menunggu yopi mengambil daging saya memutuskan untuk membuat tusuk sate. Karena kebetulan tepat didepan rumahku ada lahan kosong yang di beri pagar potongan bambu oleh pemiliknya.

Ada ideku untuk mengambil sedikit potongan bambu tersebut untuk dijadikan tusuk sate, awalnya saya merasa biasa aja ketika mencabut pagar bambu tersebut satu persatu. Begitu saya ingin membawanya ke rumah mendadak seperti ada yang meniup pundak saya, rasanya dingin sekali. Tapi saya tidak terlalu menganggap itu hal yang aneh, saya anggap mungkin angin malam.

Sekitar jam 8 malam yopi kembali ke rumahku dengan membawa sekantong daging kambing beku karena terlalu lama dalam freezer. Jadi kami putuskan untuk membuat bara terlebih dahulu sambil menunggu daging yang membeku itu lunak dengan air panas. Saat itu selain kami bertiga, dirumahku ada juga kedua orang tua ku dan juga keponakan ku yang memang sedari kecil tinggal bersama ibuku.

Singkat cerita daging tersebut sudah lunak dan menjadi 12 tusuk dengan potongan daging yang agak besar dari pada sate kambing yang biasa di beli. Sambil menunggu sate matang kami lanjut bercerita, aku, yopi, dan satu lagi temanku yaitu udin. Kami memang sering kumpul kadang bergantian di rumah mereka kalau pas lagi ada kesempatan waktu seperti ini.

loading...

Dan uniknya temanku yang bernama udin ini dia punya kelebihan yang biasa orang sebut indera ke-6, saat kita mengobrol saya perhatikan udin sering sekali melihat pagar rumahku. Timbul rasa penasaran tapi aku takut juga untuk bertanya jadi aku belaga cuek melihat sikap dia. Waktu yang ditunggu tiba, sate sudah terlihat matang, disitulah saya mulai merasa janggal dari 12 tusuk sate yang dibakar kenapa hanya 9 yang matang.

3 masih nampak seperti daging mentah, karena perut sudah lapar terpaksa kita makan aja yang 9 tusuk tersebut, karena kebetulan orang tuaku tidak mengkonsumsi daging kambing jadi kami bertiga aja yang menikmati. Setelah selesai santap malam kami makin dibuat penasaran kenapa sisa 3 itu masih belum matang. Bahkan tusuk sate hampir habis karna terbakar lama, akhirnya udin bilang “biarin aja bud, gak usah ditungguin. Gak akan matang itu sate”. Saya terdiam dan membiarkan itu sate diatas bara.

Share This: