Saudaraku Kerasukan Gara-gara Aku

Assalamuaalaikum. Wr.wb. Hai, kenalkan namaku Mridwan, umurku 16 tahun. Aku ingin menceritakan pengalamanku. Pada tanggal 17 agustus saudaraku datang dari kampung. Dengan tujuan ingin tamasya bersama sama. Kami berangkat pagi sekitar jam 8 dan pulang jam 11 malam.

Karna sangat capek sekali akhirnya kami semua ingin langsung tidur di ruang tamu, tiba tiba ibu datang dan memberikan duit untuk membeli soffel karena sudah larut malam maka aku minta di temani si rony (saudaraku) dia pun setuju. Ketika kami nyampe di tengah jalan tepat di pepohonan rambutan dan banyak lagi. Aku menendang sebuah batu kecil di hadapanku dan akhirnya kami nyampe juga di warung, kami langsung beli dan segera pulang.

loading...

Keesokan harinya aku dan si roni di suruh nyuci piring oleh ibu karena semuanya sedang sibuk. Ketika sedang mencuci piring tiba-tiba si roni sakit kepala dan aku langsung menyuruhnya untuk istirahat. Dia langsung pergi ke rumah, waktu aku sedang mencuci piring tiba tiba ada suara teriakan, aku langsung kaget dan ternyata si roni kerasukan. Hal ini membuatku bingung dan sangat bingung, aku langsung masuk kerumah dan melihatnya.

Karena ibuku juga orang pintar dia langsung menahan nya, yang ingin marah marah, dan tiba dia memanggil manggil namaku membuatku mati ketakutan, dan menyuruhku untuk minta maaf dengan cara datang ke rumahnya di pepohonan rambutan itu. Aku merasa sangat takut sekali, dan ibuku bertanya, “apa yang telah kalian lakukan kemarin?”.

Yang Aku ingat saat berjalan aku menendang sebuah batu kecil. Ibuku menjawab bahwa yang kamu tendang itu mengenai dia (kuntilanak), membuatku merasa bersalah. Ibu langsung menyuruhku untuk minta maaf kepadanya (kuntilanak), aku mengulurkan tanganku untuk bersalaman dengannya tapi dia menolak, dan mengatakan jika ingin minta maaf kita harus kesana ke tempat pohon rambutan itu katanya.

Ibu langsung melarangnya karena jika kesana akan lebih parah lagi karna di sana lebih banyak lagi teman dia (kuntilanak). Akhirnya ibu menyruhku untuk membaca ayat kursi, aku langsung membacanya dan dia langsung teriak, panas, panas ampun, sepertinya dia amat kesakitan, setelah itu aku minta maaf lagi dan dia akhirnya memaafkan.

Ternyata dia baik juga dan kadang tertawa sendiri sedangkan saudaraku masih di rasukinya hingga siang hari baru dia pamit pergi dan tidak akan mengganggu lagi. Sebetulnya ini masih panjang dan masih banyak lagi yang ingin aku ceritain. Wassalam ini adalah kisah nyataku.

Share This: