Sekar dan Ambar Bagian 3

Sebelumnya sekar dan ambar bagian 2. 12 Maret 2014 di kamar 206, di sebuah apartemen tempat tinggal Ambar.

“Harun, sudah kau kerjakan apa yang aku perintahkan?” ucap Ambar tegas.
“Semua sudah kulakukan sesuai rencana mbak” balas Harun.
“*Hmm, bagus kalau begitu, nanti sisa uangnya aku kirim ke rumahmu” tegas Ambar.
“Baik aku tunggu mbak” jawab Harun.

Harun pun pergi setelah tugas yang di berikan Ambar terselesaikan.

“Aku harus mendapatkan kamu mas, aku tidak rela Sekar memilikimu, aku tidak mau berbagi dengan perempuan itu, aku tidak sudi! Aku sangat benci Sekar dan ibunya, ibunya perempuan yang sudah merebut ayahku dari ibuku. Aku harus membuat hidup Sekar hancur seperti hidupku. Aku sangat mencintaimu mas, tapi kau tidak pernah memperhatikan aku, kau selalu saja memperhatikan Sekar si*lan itu” gerutu Ambar saat itu.

(*Tok, tok, tok).

“Ya silakan masuk!” sahut Ambar.
“Kamu kenapa mbar? Harun bilang kau sakit, apa kamu baik-baik saja mbar?” tanya Pandu.
“*Emm, anu mas kepalaku agak sedikit pusing mungkin kelelahan saja mas” ucap Ambar.
“Oh, kalau begitu istirahat mbar, aku panggilkan dokter ya?” balas Pandu.

“A-ah tidak perlu mas aku baik-baik saja” rengek Ambar manja, sambil menarik tangan mas Pandu.
“Tolong ambilkan obat di laci itu mas, kepalaku sakit sekali” ucap Ambar.
“Baik tunggu disini, aku ambilkan air minumnya sekalian” balas mas Pandu.
“Iya terima kasih mas” ucap Ambar.

Di dalam benak pikiran Ambar saat itu, Ambar sudah mempersiapkan seribu cara untuk menaklukan Pandu malam itu.

“Kau harus jadi milikku mas Pandu” ucap Ambar di dalam hati.

Dupa yang dia dapatkan dari Harun, di bakar di pojok sudut kamar yang wanginya menyebar keseluruh ruangan, aromanya yang mengandung mistik tanpa di sadari mas Pandu bekerja dengan baik.

“Dengar Sekar akan ku dapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku” ucap Ambar sambil tersenyum penuh kemenangan.

Hari Minggu 06.50 pagi masih di apartemen tempat tinggal Ambar.

“Astaga! Di mana aku?” Pandu terbangun dari tidurnya.

Di lihatnya Ambar masih tertidur dengan lelap di sampingnya.

“Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan dengan Ambar?” Pandu merasa terkejut.

Lalu Pandu bergegas membenahi pakaiannya dan pergi dari kamar apartemen tanpa sepengetahuan Ambar.

loading...

“Terima kasih mak Rukmi, ritual berjalan dengan mulus, *haha” Ambar tertawa puas, saat Pandu pergi dari kamarnya.

Esok harinya Pandu kembali menemui Ambar di apartemen tempat Ambar tinggal dan terjadilah percakapan antara mereka berdua.

“Aku hamil mas” ucap Ambar pada mas Pandu.
“Apa? Kamu hamil? Tidak mungkin” bentak Pandu.
“Iya mas aku hamil, ini anak kamu mas” tegas Ambar.
“Tidak mungkin, kita berhubungan hanya satu kali saja Ambar, mana mungkin kau bisa hamil” balas Pandu.

“Tapi ini memang anakmu mas, kamu jangan coba mengingkarinya mas, aku tidak pernah berhubungan dengan lelaki manapun mas, percayalah padaku mas” ucap Ambar dengan nada sedih.
“Ini tidak mungkin Ambar, aku ini sudah mempunyai tunangan, aku sangat mencintai Sekar kau harus tahu itu” tegas Pandu kepada Ambar.
“Aku tidak mau tahu mas, kau harus bertanggung jawab atas kehamilanku dan kau harus menikahi aku, aku akan memberitahu mbak Sekar, agar mbak Sekar tahu seperti apa laki-laki yang dia cintai selama ini” ucap Ambar dengan nada kesal.

Dengan hati serasa di iris-iris dan di bakar api cemburu terhadap Sekar, lalu Ambar merebut ponsel dari tangan Pandu dan berusaha menghubungi Sekar.

“Ambar, jangan kau lakukan itu, aku mohon Ambar, aku sangat mencintai Sekar” rengek Pandu.
“Lalu aku ini apa mas? Apa arti hubungan kita selama ini *hah? Jawab aku mas” balas Ambar kesal.
“Maafkan aku, aku khilaf waktu itu Ambar” balas Pandu.
“Apa kau bilang khilaf? si*lan kau mas” ucap Ambar berapi-api.

Ambar melemparkan semua barang yang ada di dekatnya kearah Pandu. Pandu berusaha mendekati Ambar, tetapi Ambar mengelak merasa jijik di pegang tanganya oleh Pandu, Ambar menangis sejadi-sejadinya saat itu. Saat melihat Ambar menangis di atas kasur, Pandu pun segera meninggalkan Ambar yang dalam keadaan hancur hatinya. Selanjutnya sekar dan ambar bagian 4.

Salim

Salim

“,…Daku menuliskan kisah dari dimensi lain tanpa pena serta tanpa lampu”.

Hal yang aku senangi ialah tertawa, juga menghindar dari keramaian. Aku begitu bahagia bersembunyi di tempatku yang gelap, karena orang lain tidak dapat melihatku, dan aku sangat mudah melihatmu di tempat yang terang.

Terima kasih yang sudah membaca ceritaku !!

FB : Sa Lim.

All post by:

Salim has write 31 posts

Please vote Sekar dan Ambar Bagian 3
Sekar dan Ambar Bagian 3
3 (60%) 2 votes