Sekar dan Ambar Bagian 5

Sebelumnya sekar dan ambar bagian 4. Sore hari pukul 16: 00 The Flover’s Cafe pertemuan Pandu dan Ambar untuk kedua kalinya. Dan Pandu memarkirkan mobilnya di sudut cafe,

“Hai sayang, sudah lama ya tunggu masnya?” ucap Pandu manis.
“O-oh gak apa-apa sayang, mas kamu mau pesan apa? Biar aku yang traktir” balas Ambar.
“*Hmm, tidak usah sayang! Kita langsung ke danau saja yuk” bujuk Pandu saat itu.
“Oke deh, yuk mas” ucap Ambar sambil menarik lengan Pandu.

Di tengah perjalanan Pandu dan Ambar terlibat cek-cok, dengan segera pandu menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang saat itu sepi sekali tidak ada satupun kendaraan yang lalu lalang.

“Apa benar kamu hamil mbar?” tanya Pandu mencoba memancing emosi Ambar.
“Iya mas aku hamil” tegas Ambar.
“Tidak mungkin! Pasti kamu tidur dengan lelaki lain, lalu menuduh aku yang telah menghamili kamu” ucap Pandu berpura-pura.
“Tapi ini memang anakmu mas! Kamu jangan pura-pura dasar b*jing*n” bentak Ambar dengan nada marah dan sedih.

Ambar mulai menampar pipi Pandu keras sekali, Pandu membalas dengan pukulan tepat mengenai wajah Ambar. Ambar jatuh tersungkur dan segera bangkit kembali dengan memberi pukulan kearah Pandu. Dengan segera Pandu mengambil sebuah besi yang sudah di siapkan di dalam mobilnya dan memukulnya di kepala Ambar, lalu Pandu mendorong Ambar hingga terjatuh dan tak sadarkan diri. Dengan segera Pandu mencari tali untuk mengikat kedua tangan dan kaki Ambar. Saat itu pula Pandu menjadi panik,.

“Sial kau mbar, kau mau hancurkan hidupku, kau membuatku terjebak dalam permainanmu ini! Dasar perempuan jal*ng” gerutu mas Pandu.

Di angkatnya tubuh Ambar dan di bawanya ke dalam mobil, kemudian di lajunya mobil kearah danau Cempaka. Sore itu suasana danau memang sepi, tak ada orang yang datang kesana, danau itu milik seorang pengusaha kaya dari Jawa Tengah, bapak Sudiman Tejha yang tak lain adalah ayah dari Sekar dan Ambar. Tubuh Ambar yang terikat di masukannya ke dalam karung, lalu di beri pemberat batu, di bawanya tubuh Ambar ke tengah-tengah danau menggunakan perahu milik penjaga danau. Di pastikan sudah berada di tengah-tengah danau, lalu di lemparkannya tubuh Ambar ke dalam danau.

“Selamanya kau akan diam Ambar, selamanya” ucap Pandu dengan senyum menyeringai.

Pagi hari di danau Cempaka di tempat Sekar tinggal. Teh hangat, roti dan rokok menemaniku pagi itu, jika sudah penat dengan kerjaan yang menumpuk hanya sebatang rokoklah obat penenang stresku.

“*Argh, siapa perempuan yang mengajak aku ke danau dan siapa perempuan tua yang melarang aku berada di danau belakang rumah? Mengapa aku merasa sangat dekat sekali dengan perempuan tua itu, dan mengapa aku selalu memimpikan sebuah makam, apa hubungannya dengan semua ini? Kenapa perempuan tua itu akan selalu menjagaku? Semua membuatku menjadi gila” ucapku dengan nada kesal.

Sekar membanting tubuhnya di atas kasur, pandangannya menatap langit-langit kamarnya seakan-seakan mencari jawaban disana, *prang.

“Astaga, apa itu?”.

Sekar berlari ke sumber suara benda yang terjatuh. Dan di lihatnya vas bunga kesayangan ayahnya pecah berantakan.

“Ada apa ini? Lebih baik aku telepon ayah, kangen juga aku dengan ayah yang masih di luar kota” ucap Sekar dalam perasaan was-was.
“Assalamualaikum ayah” salam Ambar kepada ayahnya.
“Waalaikum salam sayang, ada apa? Tumben Sekar pagi-pagi begini telepon ayah, nak?” tanya pak Diman.
“*Hemm, ayah apa ayah baik-baik saja disana?” tanya Sekar kepada ayahnya.

“Memang ada apa sayang?” tanya pak Diman, pak Diman sangat paham dengan kepekaan naluri anaknya Sekar.
“Ah, tidak ada apa-apa yah! Hanya saja tadi vas bunga kesayangan ayah terjatuh, padahal tidak ada yang menyenggolnya” balas Sekar.
“Apa, vas bunga?” pak Diman merasa was-was.
“Iya ayah, vas bunga yang bergambar bunga melati dekat kotak musik itu” balas Sekar kepada ayahnya.

(*Hemm, siapa yang akan berbuat jahat kepada anakku Sekar?) ucap pak Diman dalam hati.

loading...

“Oh, mungkin kucing sayang” pak Diman berusaha menenangkan Sekar.
“Mungkin juga yah! Ya sudah ayah baik-baik saja disana ya, nanti kalau Sekar kangen ayah, Sekar telepon ayah lagi” ucap Sekar.
“Iya nak, kamu baik-baik di rumah, kalau ada apa-apa kamu segera hubungi ayah ya sayang” balas pak Diman kepada anaknya.
“Baik ayah” ucap Sekar.

Di matikannya ponsel dan Sekar masih berpikir keras untuk mengungkap kasus pembunuhan yang menjadi tugasnya tersebut.

“Rasanya sudah seharian ini aku berkeliling mencari informasi tentang kasus pembunuhan yang terjadi minggu lalu. Mas Pandu pun sepertinya sedang sibuk sekali sampai-sampai tidak memberi aku kabar, *huft” gerutuku dalam hati.

Selanjutnya sekar dan ambar bagian 6.

Salim

Salim

“,…Daku menuliskan kisah dari dimensi lain tanpa pena serta tanpa lampu”.

Hal yang aku senangi ialah tertawa, juga menghindar dari keramaian. Aku begitu bahagia bersembunyi di tempatku yang gelap, karena orang lain tidak dapat melihatku, dan aku sangat mudah melihatmu di tempat yang terang.

Terima kasih yang sudah membaca ceritaku !!

FB : Sa Lim.

All post by:

Salim has write 31 posts

Please vote Sekar dan Ambar Bagian 5
Sekar dan Ambar Bagian 5
3 (60%) 1 vote