Selendang Hijau Misterius

Tahun 2013 entah tanggal berapa aku sudah tak mengingatnya lagi. Malam itu ku sudah merencanakan untuk pergi ke suatu daerah tepatnya di pantai Balekambang, Malang bersama seorang sahabatku yang kini sudah tiada (almarhum). Perkenalkan nama saya fais.

Gimana bro besok pagi jadi gak acara kita? Kalau iya besok aku jemput pagi-pagi soalnya aku mau ke kampus sorenya. “Oke jadi” jawabnya. Mentari mulai nampak melewati gelapnya malam. Lolongan ayam jantan mulai terdengar, ku bersiap-siap menjemput temanku di rumahnya, yang memang aku sendiri main bahkan bermalam di rumahnya.

Kamu sudah siap? Kalau sudah ayo berangkat keburu siang perjalanan dari rumah memang sangat jauh hampir 4 jam menuju lokasi pesisir. Is ingat gak kata orang-orang kalau ke pantai gak boleh pakai yang warna merah. Di tengah perjalanan aku baru sadar bahwa aku memakai slayer warna merah buat menutupi derasnya polusi di jalanan. Oh iya gak apa-apa zi panggilan temanku. Cuma slayer saja kok lanjut saja.

Detik demi detik menit sampai beberapa jam kita lalui melewati jalanan yang kian sepi sampai kami melewati jalanan tuwang alias jalanan sepi. Tak banyak percakapan kami selama di jalanan. Terdengar alunan khas kumbang yang menghiasi rerimbunan pohon-pohon besar selama perjalanan. Sepi banget is kata temanku. Kebetulan hari itu bukan liburan sekolah tak banyak orang lewat bahkan ketika kami di parkiran hampir sepi tak ada pengunjung di wisata tersebut.

Mas belok sini kata seorang penjaga parkiran motor. Dan kulihat arah pantai lumayan jauh. Iya mas makasih saya parkir di dalam saja kejauhan soalnya. Jawab saya. Kami tak banyak membawa bekal hanya ponsel sama kamera digital buat kenang-kenangan. Ku parkir motorku. Ku lepas semua perlengkapan kami seperti jaket slayer dan helm. Kami menyusuri pesisir rumah kosong yang entah di buat warung atau apa kami tak tahu saat itu semua terlihat sepi pada tutup semua, hanya ada beberapa saja yang buka.

Langkah demi langkah kami menyusuri sampai pada bangunan seperti candi kami hempaskan badan kami buat menikmati pemandangan onbak yang menyapu karang di lautan. Bagus ya is. Tapi sepi tanya temanku, ya memang sepi ini kan bukan hari liburan. Ku mencoba foto hampir di semua tempat kita berfoto. Sampai akhirnya waktu menunjukkan dzuhur kita ganti turun ke bawah. Tas yang aku bawa ku letakkan di pesisir, ku tinggal agak jauh karena di dalamnya sudah tak ada apapun.

Eh tas nya apa gak apa-apa di tinggal? Sudah biarkan saja itu juga gak ada isinya jawabku sambil berlalu. Fauzi kejauhan nampak ada seorang perempuan berlari-lari mungkin dia bermain air pikirku. Setengah jam berlalu kami meninggalkan tas saya yang di dalamnya hanya berisi slayer kami. Ku lihat di kamera sudah penuh berisi foto kami. Sudah sore zi balik yuk beli kopi nongkrong-nongkrong dulu. Terserah kamu lah. Dia sambil membetulkan celananya yang di singkap.

Ayo ambil tas dulu, ajakku. Ombak kian membesar, ketika kami menuju tempat yang ku taruh tasku tadi. Apik is ombaknya, tanyanya. Iya bagus memang tapi sudah jam segini kalau gak balik nanti aku kemalaman ke Kedirinya, bujukku. Di depan kami sudah nampak tas warna coklat milikku tak ada yang berubah sama sekali posisinya. Hanya saja sedikit basah oleh luapan ombak.

loading...

Zi, fauzi ku tertahan memanggilnya. Dengan jantung berdetak-detak. Zi ku panggil ketiga kalinya. Ada apa is? Ku berhenti sejenak. Zi kamu masih ingat gak mitos orang jawa katamu kemarin? Tanyaku sedikit gugup. Ya is yang gak boleh pakai warna merah. Memang kenapa? Ku gak berani menunjuk. Namun ku hanya menoleh ke arah tas saya. Zi lihat benda apa itu? Aku mulai agak khawatir.

Is itu kan selendang warna hijau? Seperti sorban tidak terlalu panjang dan tidak terlalu besar. Tepat di samping tas saya. Warna hijau perpaduan emas yang semakin mengkilau terkena terik matahari. Temanku mulai gugup sedikit ketakutan juga. Kami tak berani mendekat. Kamu tadi taruh kan kagak ada kain itu? Iya memang benar aku taruh kan juga kamu lihat tak ada apapun di sebelanya kan? Bahkan sampah pun tak ada.

Ya bener. Terus itu selendang punya siapa? Tanyanya serius. Aku juga gak ngerti. Kami mulai mendekat sesaat mau ku ambil. Dan akhirnya. Jangan di ambil kata temanku sambil melotot. Jangan is mending kita pergi saja pulang. Kesunyian semakin terasa saat itu tak ada ombak pun yang datang. Apa ini kebawa ombak tadi ya? Aku semakin penasaran. Gak faham aku is. Mending kita cabut saja. Ku ambil tasku dan kami bergegas ke parkiran sambil berlari.

Coba lihat mana slayermu tadi? Ku buka isi tasku sampai aku jungkir-jungkir ke bawah. Gak ada zi. Aku mulai panik. Masa tadi kan kamu taruh di dalam tas, yang ku temukan hanya slayer temanku ini motif warna hitam. Mulai dari jok motor sampai isi jaket aku selidiki Namun nihil tak ku temukan. Gimana ketemu? Gak ada zi. Juru parkir pun menemui kami, cari apa mas? Tanyanya.

Gak kok mas ini cuma cari kontak saja, elakku. Ku bayar parkiran dan ku nyalakan motor keluar dari pantai tersebut. Selama perjalanan ku berfikir kemana slayerku tadi. Terus kain berupa selendang hijau tadi punya siapa? Kami lewati sebuah pohon besar yang entah sudah berumur berapa puluh tahun. Selintas ku lihat ada sekelebat orang melintas. Ku rem motorku dengan cepat.

Woy ada apa? Temanku kaget. Nggak, nggak ada apa-apa. Kamu gak apa-apa? Apa perlu saya yang nyetir? Tawar temanku. Gak usah. Akhirnya temanku memaksa dan dia yang nyetir sampai kami tiba di rumah menjelang maghrib. Aku masih penasaran kira-kira tadi kainnya siapa dan di mana slayerku tadi? Sekian wassalam, terima kasih.

KCH

fais

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

fais has write 2,694 posts