Sendiri

Aku sendiri heran, kenapa adik ku memberi tahu mereka bahwa aku pulang, mengapa mereka malah menangis begini? Batinku bertanya-tanya. Ya sudah bu kita bawa dia masuk saja, mungkin dia masih shock, kata ayahku. Hey kenapa mereka melewatiku begitu saja? Apa mereka marah karena aku pulang tanpa memberi kabar? Aku tak habis pikir. Aku mengikuti mereka dari belakang.

Ibu dan ayah mengantar adikku ke kamarnya. 2 hari aku di rumahku, tapi tak satupun bicara padaku. Aku sangat sedih, aku pulang ke kampung halamanku berharap akan dapat berkeluh kesah pada keluargaku tentang kehidupan ku di kota rantauan, tapi mereka malah menganggapku tak ada. Aku benar-benar merasa sendirian. Aku menangis di kamarku. Tiba-tiba, kak? Suara halus membuyarkan tangisanku.

Voni, adikku yang manis, dia menemuiku. Akhirnya setelah 2 hari. Aku tersenyum senang. Kakak maafin adek yah? Adek sudah bilang sama ayah sama ibu kalau kakak pulang tapi mereka diam aja kak, kata Voni ku dengan wajah polosnya. Aku hanya mengangguk dan mengusap kepalanya. Voni tersenyum senang. Adek kangen sama kakak, adek mau ikut kakak tapi ayah sama ibu bilang gak boleh, katanya masa depan adek masih panjang. Kata Voni. Aku berpikir, apa maksud adikku di kalimat terakhirnya?

Adek, suara ibu memanggil adikku. Yah bu jawab Voni. Kamu ngapain? Keluar yuk, jangan disitu kata ibuku. Iyah bu jawab Voni. Dia berlari keluar meninggalkan aku. Apa ibu semarah itu padaku sampai tak mengijinkan Voni dekat dengan aku? Pikiranku mulai kacau. Ku dengar bel pintu depan berbunyi. Aku lari keluar kamar dan melihat Pak Bakri berada di ruang tamu. Eh Pak Bakri silahkan, kata ayahku. Ada apa pak? Tanya ayah. Nggak pak, saya cuma mampir aja, saya teringat Ruri, jawab Pak Bakri.

loading...

Yah Ruri adalah namaku. Mungkin Pak Bakri datang untuk memberi tahu mereka. Tapi kenapa raut muka Pak Bakri sedih? Iya pak, kami sekeluarga sebenernya juga kangen sama Ruri, apa lagi Voni, Jawab ayah. Aku terharu sampai meneteskan air mata. Sejak 2 hari lalu Voni selalu bilang kalau kakaknya pulang, mungkin saking kangen nya kali. Lanjut ayah sembari mengusap matanya. Pak Bakri menghela nafas panjang, ada kalanya bapak sama ibu harus percaya yang dikatakan Voni. Jawab Pak Bakri.

Maksud bapak? Tanya ayah heran. Sebenarnya saya kesini mau menyampaikan, bahwa 2 hari yang lalu saat bapak sekeluarga keluar, saat saya lewat depan sini, saya dengar suara pintu diketok pak, pas saya samperin gak ada siapa-siapa. Jawab Pak Bakri. Aku ingat 2 hari lalu setelah bel ku tekan dan tak ada yang buka pintu, aku sempat teriak dan mengetuk pintu rumah.

Seketika itu juga ayahku menangis, ibu yang baru menenangkan Voni heran melihat hal itu. Ada apa yah? Tanya ibu. Ayah menjelaskan semuanya, ibu ikut menangis. Aku makin heran. Lalu ayah berkata, nak kalau memang kamu pulang, gak apa-apa, asal kamu tahu kami sudah mengikhlaskan kepergianmu, tenanglah di alam sana, dunia kita sudah beda sayang, kata ayahku.

Aku bingung, siapa yang diajak bicara? Aku? Bagai disambar petir siang hari. Ruri, ibu sayang kau, tapi ibu sudah ikhlasin semuanya, sambung ibuku. Aku baru menyadari sesuatu, aku mengingat semua, saat aku memungut buku yang berserakan di jalan saat kejadian itu, mereka berteriak, bukan Aaa!! Tapi Awaasss!!! Dan benda keras yang membenturku saat itu, adalah truk tangki.

Yah setelah diserempet motor aku tertabrak truk tangki dan meninggal di TKP. Pemuda di bus itu, dia bukan tak mempedulikan aku tapi memang dia tak melihatku, bahkan kondektur bus itu. Lalu taxi itu? Yah itu adalah taxi sebulan yang lalu kecelakaan di depan terminal dan menewaskan sang sopir. Jadi aku sudah dan kini aku benar-benar sendiri.

Share This: