Sesajen

Hai semuanya yang sedang baca situs KCH apa kabarnya nih? De-ye mau nulis cerita lagi. Sebelumnya makasih buat kak Jhon yang baik hati sudah memposting ceritaku. Sebelumnya aku mau cerita dulu awalnya. Aku tinggal dengan kakek dan almarhumah nenek dari mamaku beserta beberapa tante dan om (maklum adik mamaku banyak). Mama sama bapakku kerja di daerah Ce****reng, Jakarta Barat.

Adikku tetap ikut orang tua tapi pakai jasa pengasuh anak. Aku di Kelapa G***ng, Jakarta Utara. Dari bayi aku disini. Karena waktu aku dititipkan ke orang tua dari bapak di Sr***en, Jawa Tengah. Aku nangis mulu (mungkin terlalu jauh ya Jakarta – Jawa. Dasar feeling bayi, *hehe). Ok ke inti ceritanya jadi dirumah orang tua dari mamaku ini terbilang seram karena dulunya disini masih pakai sesajen jika ada acara atau hajat apapun.

loading...

Mamaku dulu kecil bercerita kepadaku kalau dikamar belakang yang sekarang dijadikan gudang, dulunya untuk menaruh sesajen oleh kakek dan almarhumah nenek. Suatu hari siang-siang mamaku main kebelakang dan iseng kekamar sesajen tersebut. Di lihatnya banyak buah-buahan dan bunga serta menyan. Iseng pula mamaku memakannya, lapar kali mamaku. *Hehe.

Beberapa buah dimakan dikolong meja. Sudah kenyang mamaku tertidur disitu sampai malam. (Dulu mamaku juga pernah tidur dikolong tempat tidur 2 hari dikira kakek hilang. Ternyata oh ternyata). Sesuatu yang berisik mungkin mengganggu mamaku. Saat disingkap penutup mejanya mamaku kaget. Ada beberapa orang atau apa gitu kata beliau didepannya berjubah hitam. Seperti sedang makan/pestalah.

Mamaku gak berani keluar ataupun teriak. Akhirnya beliau terjaga sampai semua makhluk itu hilang. Besokannya mamaku dimarahin sama almarhumah nenekku gara-gara paginya dilihat buahnya berkurang, saat diperiksa ternyata mamaku ada dibawah kolong meja dengan ketakutan dan bertanya “tadi malam ada siapa emak? Kok disini ramai”.

Almarhumah nenek bilang “*hush. Sudah anak kecil gak perlu tahu, lagian ngapain kamu dikolong? Kamu tahu gak bahaya? Orang pada nyariin kamu, malah kamu disini”. Mamaku hanya senyum saja. Malu. Takut. Campur aduk. Sebenarnya sampai aku umur 19 tahun, aku masih dibuatkan sesajen kopi pahit, teh pahit, air putih gelas yang direndam bunga-bunga sama lilin sewaktu ulang tahun.

Dan dipojok-pojok rumah masih dikasih bunga-bunga yang ditempatkan didaun pisang. Serta bubur merah putih disaat aku ulang tahun. Aku sama sekali gak tahu untuk apa. Dan juga setiap lebaran selalu siram air yang diembernya penuh bunga-bunga. Yang pasti kakek/almarhum. Nenekku sudah baca-bacakan apa gitu sebelumnya. Pernah lebaran tahun berapa lupa, gak nyiram air keatas genteng. Karena pada kerepotan masak ketupat dan lainnya sampai jam 1 malam.

Saat subuh mau hangatin, semua masakan basi. *Hmm. Bikin iman goyah saja nih sajen. Gak mungkin kan gara-gara gak bikin sajen masakan basi. Tapi memang baru kali itu. Dan alhasil kita makan nasi sama mie goreng. Dan sisa-sisa ketupat yang masih bisa dimakan. Sayurnya berbusa semua dan asam. Tapi setelah almarhumah nenekku meninggal kami semua berangsur-angsur meninggalkan sesajen.

Tapi tidak dengan kakekku. Beliau setelah ditinggal istrinya masih buatkan sesajen makanan dan minuman kesukaan almharhumah nenekku. Aku yang iseng lihat sesajen untuk almarhumah nenekku heran kenapa cangkir kopi isinya menyusut tanpa ada bekas guncangan air kopi saat diambil dengan sendok ataupun diseruput? Siapa yang masuk kamar beliau?

KCH

fitri de-ye

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

fitri de-ye has write 2,670 posts