Setan di Kerjain Olehku

Hai ketemu lagi sama Gina. Aku sudah lumayan banyak berbagi kisah kejadian nyata seram maupun lucu (walau masih ada lagi yang lebih banyak, *hehe). Kalau kalian pada membaca kisah-kisahku, kalian pasti sudah gak asing dengan penunggu rumahku ini. Ya siapa lagi kalau bukan si setan/makhluk usil dan jahil, aku kasih nama dia susil, padahal aku gak tahu sebenarnya dia ini cewek atau cowok *soek karena susil ini pandai dan sering mengubah-ubah wujud.

Mulai dari wujud wanita cantik, pria tampan, wanita seram, genderuwo, kuntilanak, pocong, nenek-nenek, kakek-kakek, anak-anak, anggota keluargaku dan pernah juga si susil ini mengubah wujud menjadi diri aku sendiri. Dan dia juga pandai loh memainkan berbagai versi suara, suara apapun lah. Dia itu adalah setan yang paling kreatif yang pernah aku lihat dan aku kenal. Tepuk tangan untuk Susil *prok, prok, prok.

Ya lanjut cerita. Jadi ini adalah kejadian lucu banget yang aku dan kak Al alami, percaya gak percaya kalian harus percaya deh dengan ceritaku. Ini asli lucu dan kejadian, biasanya tuh aku yang selalu di kerjain setan tapi kali ini malah aku yang ngerjain setan. Begini ceritanya. Kak Al kan pertama kali pernah tuh di kerjain si Susil di cerita “pengalaman pertama kak Aldan” itulah kali pertama ia berkenalan dengan Susil si setan usil *haha.

Jadi setelah kejadian itu dan kak Al pingsan sampai 2 hari, aku bilang itu dia ngajak kenalan. Tapi kak Al kala itu masih trauma dan berniat minta di tutup kembali mata batinnya. Ya setelah sebulan di tutup mata batinnya, kak Al kurasa berubah pikiran dan meminta untuk di bukakan lagi selama-lamanya. Ah, yang benar? Nanti pingsan lagi, takutnya malah sampai sebulan *haha.

Tapi mau di apakan lagi, memang anak itu dekil *eitz degil maksudku *hehe tapi aku salut sama kak Al, semenjak ia minta di bukakan mata batinnya dia gak pernah minta untuk di tutup kembali sampai sekarang. *Wow! Amazing. Dan dia pun sama kayak aku yang sudah kebal sama si Susil dan kami sudah mengangkat susil sebagai anggota keluarga kami. *Ajib kali ah dengan demit yang satu ini. Sukses terus mit.

Jadi ini terjadi seminggu yang lalu. Di rumah cuman ada aku sama Kak Al. Malam minggu tepatnya. Mama, papa dan Herin pergi menginap di rumah Pak Felix Fradah dia itu kakaknya papaku. Jadi mereka akan pulang besok karena di rumah Pak Felix ada arisan, aku dan kak Al gak ikut, walau sudah di ajak karena bosan banget kalau sudah arisan. Pasti itu-itu saja. Sewaktu di rumah aku kok merasa bosan ya.

Gak ada kegiatan, gak ada Oi (entah kemana dia, padahal sudah di panggil. Bosan kali dia ya, main sama aku atau dia mau cari cewek kali, karena malam minggu. Ya demit pun boleh juga dong cari cewek, kasihan dia kalau kayak aku), dan gak ada cowok yang ngajak ngapel, (karena maklum, masih jomblo) kalau aku rasa makanya Oi gak datang karena cari cewek, doi gak mau sampai nasibnya kayak aku *hihi.

Terus si Al yang mau ku ajak ngobrol malah di kamar (dia gak malam mingguan, karena lagi *slek sama sang pacar. *hiks, hiks kasihan amat si jelangkung). Aku yang sendirian teringat akan penjaga rumahku, biasanya dia tuh yang usil sama aku, tapi hari ini kok adem ayem ya? Gak kayak biasa-biasanya. Kemudian aku tanya sama kak Al kemana si demit itu, kak Al bilang “malam mingguan, *kale”. Alah! Banyak gaya tuh si demit Susil.

Tiba-tiba tak lama aku tanyakan kemananya si Susil, eh tahu-tahu tuh bocah demit sudah nongol. Tanda dia sudah nongol tuh pasti ada saja suara aneh darinya. Aku dengar ada suara cekikikan dari arah dapur, terus langsung ku tanya sama Kak Al. “Kak, si demit baru di ceritain, sudah nongol. Panjang umur tuh bocah tua”.

Jawaban kak Al “Tengil banget memang. Sehari saja gak nongol apa gak bisa. Harus di kasih sanksi dia, karena banyak membuat kerusuhan di markas”. Aku dan kak Al kemudian ngendap-ngendap ke dapur, dan kami dengar dia masih cekikikan gila-gilaan malah. Sampai di dapur apa gak terkejutnya batin kami sebagai anak, masa dia berubah menjadi kayak mama kami.

Apa-apaan tuh bocah demit, mama aku cantik ya. Lagian sejarahnya mama aku itu mana pernah ketawa kayak gitu kayak orang gila, cekikikan. Ah sudah gak bener nih si Susil bocah tua demit, akhirnya aku dan kak Al mencari ide untuk ngerjain si susil, sebenarnya aku gak mau ngerjain dia *bok los kalau memang dia mau cekikikan sampai mati (memang sudah mati) tapi yang gak kami terima, dia merubah wujudnya kayak mama kami.

Kak Al akhirnya dapat ide untuk ngerjain mama jadi-jadian itu, kak Al yang rupanya menyimpan *mercon dengan cepat mengambil *mercon di dalam kamarnya dan aku di suruh untuk pantau mama jadi-jadian kami. Setelah merconnya di ambil dan rupanya kak Al sekalian ambil selimut dan beberapa batu kerikil. Untuk apa kak semua ini? “Tenang saja lah” jawab kak Al. “Ini akan seru, permainan baru” sambungnya.

Dan gokilnya disini. Setelah kak Al kasih tahu strategi apa yang akan di lakukan kepadaku dan kami pun sepakat, maka kami langsung menjalankan misi yang luar biasa ini. Dengan mengendap-ngendap (aku pegang selimut dan kak Al siapin mercon) *Hap! Sap! Aku langsung bungkus si Susil dengan selimut dan ketika dia terperangkap kak Al langsung siap-siap pasang mercon agar ketika dia membuka selimut kami langsung siap melempari mercon dan batu kerikil *bur, bur.

Percaya gak percaya mama jadi-jadianku itu loncat ke atas, ya memang ke atas gak turun-turun lagi dia, alias terbang. Kami berdua melihat itu yang dari ketawa gila sampai sesak nafas seketika menjadi takut dan kemudian mama jadi-jadian kami menatap kami dengan tajam tiba-tiba kemudian menangis ala kuntilanak *hiks,hiks, *hihi begitulah tangisannya tapi dia masih melayang-layang.

loading...

Karena kakakku *palak kemudian dia tanpa sepengetahuanku yang membawa sebuah batu yang lumayan besar (untuk ancang-ancang) kemudian melemparkan batu itu dari bawah ke atas. Dan pas batu itu di lempas *swing gol, kak Al memang pencetak gol terbaik, kena ke kepala mama jadi-jadian dan kemudian si demit menghilang begitu saja. “*Wih, jago juga kau kak. Cocok banget kayak di film-film”.

Kak Al menjawab dengan bangganya “ya iyalah. Al gitu. Lelaki hebat, tangguh, tampan dan pemberani” *uwek dan selesai sudah misi kami untuk ngurusin mama demit. Sewaktu kami keluar dari dapur dan hendak pergi ke ruang TV tiba-tiba kami melihat papa, sedang di kursi sambil menonton TV dan tanpa ku sadari aku memegang pundak papa dan bilang “Papa”.

Alangkah terkejutnya aku melihat papaku yang matanya besar banget kayak jengkol dan melotot dan senyumnya itu lebar banget sampai ke telinga dan dia hanya bilang “*he-he”. Sekian ceritaku “*he-he.”

loading...