Setan Orok

Malam ini adalah malam minggu. Petruk dan bagong berencana akan nonton orkes dangdut didesa sebelah.

“Hey truk, lu malam ini ada acara gak?” kata bagong pada petruk.
“Entah nih gong, lagi jones (jomblo ngenes)” jawab petruk.
“Kalau gitu kita kedesa sebelah saja, kebetulan malam ini ada orkes dangdut truk” kata bagong mengajak petruk.

“Tapi ini kan sudah jam 9 malam gong, kalau kita kesana jalan kaki bisa sampai jam 11, belum lewatin hutannya” kata petruk yang sedikit khawatir.
“Eh elu *cemen si truk, malam minggu kan malam yang panjang, lagian kita kan jalan sambil berolahraga” kata bagong sambil mesem/senyum kuda.

“Ah elu ada-ada saja, kalau mau olahraga tuh pagi-pagi gong, bukan malam, kalau malam-malam namanya *ngoyo” kata petruk ketus.
“Eh sudah yuk, kita berangkat, nanti kemalaman dijalan malah kagak puas happy-happy” kata bagong sambil menarik tangan petruk yang agak malas.

Di tengah perjalanan menuju desa sebelah harus melewati sungai dan hutan. Kebetulan malam ini cuaca sedang cerah, dan terang rembulan. Sambil berjalan, petruk dan bagong mengobrol diselingi bercanda ria, untuk memecahkan keheningan malam. Tiba-tiba disaat sedang saling hening tanpa bicara, si petruk tidak sengaja melihat sesuatu dipinggir jalan yang tertutup oleh semak-semak.

“Apaan itu gong? Di pinggir jalan depan kita?” kata petruk pada bagong.
“Mana truk?” jawab bagong sambil matanya dipelototin kedepan.
“Itu, yang tertutup semak-semak” kata petruk sambil jarinya menunjuk.
“Oh iya, tapi kok mirip seperti bayi manusia ya truk” kata bagong tanpa mengedipkan mata.
“Iya, dan sepertinya masih merah alias baru dilahirkan” kata petruk yang sedikit melangkah sambil mengamati.

(Dan setelah mereka mendekat).

“Ah benar truk, ini orok yang baru saja dilahirkan, lihat tubuhnya masih merah terbungkus darah” kata bagong sambil terkejut.
“Tega *nian, siapa ya orang tua yang tega membuang bayi tak berdosa ini” kata petruk.
“Entahlah truk, sebaiknya kita apakan mayat orok ini truk” kata bagong.
“Tunggu sebentar, kita laporkan penemuan mayat bayi ini kepada pak RT terlebih dulu, lalu ke polisi, guna untuk menyelidiki siapa orang tua yang tega membuangnya” kata petruk yang mencegah bagong menyentuh mayat bayi itu.

Tapi sebelum mereka beranjak pergi, tiba-tiba ada sebuah cahaya terang terbang menghampirinya. Dan cahaya itu jatuh ke mayat bayi itu, kemudian terbang lagi sambil membawa mayat bayi itu. Sontak mereka terkejut ditambah ketakutan dengan apa yang mereka lihat.

“Truk, cahaya apaan itu truk dan kenapa membawa mayat orok tadi” kata bagong sambil gemetar dan memegang baju petruk.
“Sebaiknya kita lari dan tidak usah bercerita kepada siapapun” kata petruk yang memberi aba-aba untuk mengambil langkah seribu alias lari.

Lalu kemudian mereka berlari tunggang langgang, tak perduli dengan rencananya yang akan menonton orkes dangdutan.

“Truk, tungguin truk, gimana dengan orkesnya” kata bagong sambil menyusul petruk berlari.
“Ah mendingan pulang dari pada nanti pulangnya dicegat setan orok” jawab petruk yang lari didepan bagong.
“Iya, aku juga takut truk” kata bagong yang semakin cepat berlari.
“Ah sial amat ya malam ini, mimpi apa aku semalam” gumam petruk tanpa peduli ucapan bagong.

loading...

Namun apa yang akan terjadi selanjutnya? Dan kemanakah mayat bayi itu pergi? Kita lanjut nanti saja ya, *coz tangannya sudah pegal nih. *Hehe, sambil ingat-ingat kelanjutannya, jeda iklan bentar, *hehe. (Next: ini adalah cerita sewaktu dwi masih kecil, jadi harus mengingat dulu kelanjutannya). Selanjutnya di setan orok bagian 2.

Dwy Dwi Dandwi

Dwy dwi dandwi

Jangan baca ini sendirian ya... :D by: penulis amburadul horor dari lampung tengah.

All post by:

Dwy dwi dandwi has write 118 posts