Setan Usil (Susil)

Hai guys reader KCH. Good morning, good day, good afternoon and good evening (tergantung bacanya kapan ya), semoga reader selalu dalam keadaan, good. Good job lah. Oh ya, aku mau ngucapin terima kasih yang besar dan besar banget kepada reader yang telah membaca dan suka dengan kisah-kisah ini. Wih! Thanks banget bro. Maaf nih ye, kalau aku gak sebut namanya satu persatu, soalnya aku sudah nenek-nenek, sudah tua (ya elah. Apa ada kali, nenek-nenek yang masih muda? Yang benar saja. *Soek) maksudnya nenek sudah pikun, sorry-sorry. Bercanda sedikit gak masalah kan? Ok, lanjut. Kalau reader pada baca ceritaku (aku malas sebutin ceritaku satu persatu, search saja ya di mbah google bagi yang penasaran atau search saja disitus KCH) rata-rata aku banyak membicarakan soal demit yang satu ini. Mari kita beri sambutan hangat untuk, Susil. *Prok, prok, prok.

Ya, Susil. Sebenarnya aku gak yakin sih ngasih nama nih bocah tua dengan nama Su-sil. Karena eh karena, aku sampai sekarang tanda tanya soal gendernya ini. Akte kelahiran dia gak punya, KTP dia gak ngurus, jadi jangan salahkan aku *dong ya, jika aku gak tahu gendernya (kelamin).

Di cerita ini aku akan menceritakan tentang bagaimana Susil ada di daerah rumahku, sebelum aku dan keluarga ada disana dan ia selalu menjaga rumahku dari ancaman luar seperti maling diantaranya maling duit, maling mangga (*hehe dirumahku ada dua pohon mangga, berbuah lebat dan buahnya ranum/manis, wangi), maling jemuran dan juga maling hatiku *cia. Ok, lanjut.

loading...

Jadi suatu kali, sudah lama lah pokoknya, aku lupa tahun berapa, aku berkomunikasi dengannya karena aku penasaran banget kenapa dia kok bisa ada dirumah ini? Begini ceritanya guys. 80 tahun yang lalu, komplek ini dulunya bukanlah kompleks, ini dulu semua belum ada rumah gedongan seperti sekarang dan masih hutan belantara. Banyak pohon-pohon besar disini dan disini hanya ada satu rumah gubuk.

Rumah itu yang punya adalah seorang nenek-nenek. Nenek itu tinggal dirumah tersebut sudah lama, yaitu sekitar 20 tahun. Dia hidup sendiri sebatang kara. Dia terpaksa hidup ditengah hutan, karena beliau telah diusir warga akibat dituduh pesugihan. Semenjak nenek itu tinggal disana, nenek itu punya kawan baru berupa demit/setan. Nenek itu juga punya indra ke-6 loh.

Pernah suatu kali sang nenek yang sedang mencari kayu bakar, tiba-tiba ia jumpa pada sosok hitam bayangan, kemudian nenek itu diam saja alias gak perduli dan melanjutkan mencari kayu bakar lagi. Tapi setelah sampai kerumah, anehnya nenek itu melihat bayangan hitam itu mengikutinya terus sampai kerumah. Ternyata oh ternyata bayangan hitam ini si Susil dan si Susil kadang berubah menjadi seorang anak kecil untuk menemani nenek, berubah menjadi seorang lelaki tampan nan gagah hanya untuk membantu nenek mencari kayu bakar.

Si Susil ini selalu membantu nenek, intinya itu. Jadi suatu hari, si nenek muntah darah, kala itu si Susil berubah wujud jadi anak-anak, dan nenek sudah anggap si Susil sebagai cucu, anak, peliharaan, suami, satpam dan lain-lain, karena Susil ini jago merubah wujud (aku kan sudah banyak share tentang Susil, semoga dibaca dan diingat ya). Jadi nih, kata si Susil, sebelum meninggal si nenek titip pesan agar si Susil tetap tinggal dirumah ini selama-lamanya, karena dirumah ini banyak banget kenangan dia bersama Susil.

Ya si Susil setuju-setuju saja, akhirnya setelah nenek itu meninggal, si Susil hidup sendiri *hiks, hiks, hiks, si Susil sudah yatim piatu sekarang, yang sabar, yang tawakal, Susil. Berpuluh-puluh tahun kemudian mulailah pepohonan yang ada disitu satu persatu dibantai alias ditebang guys, kemudian ilalang dibersihkan dan gubuk almarhumah nenek tersebut juga di sikat habis, melihat itu, Susil sangat marah dan mengamuk sampai-sampai merasuki seorang pekerja disitu dan bilang “jangan dibongkar! Ini rumahku”.

Tapi, gubuk itu tetaplah dibongkar setelah rombongan ustad datang untuk membacakan doa, karena si Susil ini kuat banget ilmunya sampai-sampai yang harus bertarung dengannya itu pakai bawa rombongan segala *hehe. Ok, sebelum gubuknya dibongkar, Susil meminta agar dia jangan diusir juga. Dia pingin tinggal didaerah ini. Rombongan ustad pun setuju. Satu persatu rumah-rumah mulai dibangun dan mulai dibikin kompleks sampai akhirnya tanah dan ada satu pohon tempat kediaman Susil (pohon itu gak ditebang, karena Susil yang minta) menjadi sebuah rumah.

Ya, itu adalah rumahku yang sekarang. Sebelum kami pindah ke Medan, kami dulu berada di Kalimantan. Singkat cerita, pindahlah kami ke Medan dan tinggal disalah satu kompleks di Medan. Memang sebelum kami menempati rumah ini, rumah ini sudah pernah dihuni oleh keluarga lain, tapi karena Susil suka jahil, alhasil mereka gak betah dan menjual rumah ini kepada kami. Anehnya, kami gak pernah merasa terganggu, tapi semenjak aku mendapatkan keistimewaan ini 6 tahun berikutnya, aku mulai diganggunya dengan tingkah konyolnya.

Mungkin dia hanya mau menampakkan diri dengan orang orang tertentu saja dan berteman denganku. Lama kelamaan aku pun mulai terbiasa dengan tingkah kocaknya itu. Mama dan adikku tidak pernah sekali pun diganggu, sedangkan papaku pernah sekali saja. *Hm jangan tanya aku berapa kali ya? Sudah kayak minum obat 1 hari 3 kali, bosan banget. Kalau kak Al, ada discountnya yaitu 1 hari 1 kali, lumayanlah berkurang 2.

Tapi gak apa-apa, gitu-gitu suka iseng, Susil selalu setia menjaga rumahku. Pernah suatu kali kami hendak berlibur ke Malaysia, mau menginap dirumah oma dan atok (sebelum atok wafat) selama dua minggu, sebelum meninggalkan rumah, aku bilang sama mama untuk tidak mengunci rumah dan untuk tidak mengunci gerbang rumah. Mendengar itu, mamaku pun marah *dong. “Nanti kalau terjadi apa-apa, kalau ada maling, bagaimana?” terus kak Al menjawab dengan santai “tenang ma, semua maling pasti kalau masuk nanti bakal disikat habis”.

Kemudian aku pun menyambung “iya ma. Tenang. Gak usah capek-capek dikunci, digembok. Biarkan saja”. Setelah mendengar penjelasan dari aku dan kak Al, barulah mama mengerti dan tidak menggembok walaupun masih takut dan was-was, nampak dari wajahnya. Dan sehabis pulang dari KL (Kuala Lumpur) dua minggu kemudian, aku dan keluargaku memasuki rumah kami.

Wow! rumah kami tetap utuh, tak ada satupun yang hilang. Jangankan uang, mangga saja yang biasa ketahuan dicolong sama anak-anak, ini malah utuh. Wow Susil, si *prikitew. Setelah beberapa jam kami pulang, kami pun didatangi pak RT kompleks rumah dan melihat kami baru kemas-kemas, pak RT malah kebingungan sendiri dan bertanya (dialog dipersingkat). “Waduh, mau liburan nih pak, ibu? Rencananya mau kemana?”. Mendengar itu kami heran dong, ya.

“*Hm tidak pak. Malahan kami baru pulang dari Malaysia, barusan pulang pak” kata papa. Mendengar penjelasan papa, pak RT sedikit shock dan bilang “yang benar pak? Nanti bapak bohong?”, papa menjawab “tidak pak, ngapain saya bohong. Kalau tidak percaya, tanya sama anak dan istri saya. Kenapa memangnya pak?”. Kemudian pak RT menjelaskan ada apa dirumah kami selama dua minggu ini.

Jadi selama dua minggu ini, pak RT kadang-kadang melihat aku manjat pohon mangga, besoknya melihat kak Al besihkan motor, dua hari kemudian melihat adikku main boneka diteras berselang satu hari kemudian pak RT melihat mama yang sedang nyapu halaman dan kadang melihat papa yang lagi baca koran diteras.

Tapi anehnya dia gak pernah melihat kami sekaligus seperti biasa, maksudnya gini, ketika papa lagi baca koran, disampingnya ada Herin yang main boneka terus didepan ada mama lagi nyapu halaman dan aku lagi manjat pohon mangga serta kak Al lagi bersihkan motor, pak RT gak pernah melihat begitu, tapi setiap dia lewat dia selalu melihat satu-satu dari kami.

Malam hari pun kalau satpam keliling kompleks ketika melihat rumah kami, dia merasa aneh karena dirumah kami itu bising banget, seperti ada pesta, pas dicek kerumah dari jendela (karena pagar gak dikunci) dilihatnya gak ada siapapun alias adem ayem. Satpam yang melihatnya sedikit ngeri dan langsung kabur. Mendengar itu, aku senang dan ternyata memang si Susil walaupun usil tapi dia baik hatinya. Susil, I love you, Susil, pri-ki-tew. Sekian.

Fiolin Fradah

Sezgina Fradah

Thank you for reading my stories. Thank you for liking my stories Thank you so much... Terimakasih,Thank you,Arigato gozaimasu, kamsahamnida,Xie-xie,Merci bien,Dankejewel,Matur nuwun,Tarimo kasih,Hatur nuhun,Bujur...

All post by:

Sezgina Fradah has write 94 posts