Setelah Membuka Mata Batin

Kisah ini berawal karena aku penasaran ingin membuka mata batin. Sore itu tepatnya hari Kamis, 28 November 2013 sekitar pukul 17.00 WIB, Kidung bersama Om Cepi sedang bersantai dan minum kopi bersama di Pos Kamling depan gang rumah Kidung tepatnya di Pondok Cikunir Jalan Rajawali No.2 Bekasi Barat.

Om Cepi adalah ayah temannya sekaligus tetangganya, mereka ngobrol santai dan sesekali mereka tertawa atau meneguk kopi susu yang sedari tadi ikut menemani mereka. Saat itu suasana rumah warga sekitar agak sepi dari biasanya, tak ada anak-anak kecil yang bermain disana ataupun orang yang hanya sekedar numpang lewat. Angin sepoi-sepoi yang menggoyangkan daun-daun pada batang pohon membuat suasana terasa semakin tenang.

Kidung dan Om Cepi merasa betah, lalu mereka berganti topik pembicaraan yaitu tentang makhluk-makhluk gaib sampai akhirnya Kidung berkata.

“Om, saya penasaran deh sama wujud Jin itu seperti apa” ungkap Kidung.
“Oya?” tanya Om Cepi.
“Ya, jujur sebelumnya saya memang belum pernah melihat makhluk-makhluk seperti itu” jawab Kidung.
“Hahaha, memangnya betul kamu mau lihat mereka?” tanya Om Cepi dengan ekspresi tertawa.
“Hemm, mau sih Om” jawab Kidung agak ragu. Padahal di dalam hatinya tersimpan rasa ketakutan.

“Sebenernya saya ini Indigo, Dung. Saya bisa membuka mata batin kamu kalo kamu memang mau melihat wujud makhluk-mahkluk halus” jelas Om Cepi.
“Oh gitu Om, masa sih? haha apa om bisa membuka mata batin saya?” Kidung membalas pernyataan Om Cepi dengan candaan.
“Ok, ya sudah nanti kalo Om membuka mata batin kamu, kamu jangan teriak-teriak ya apalagi pingsan” jawab Om Cepi dengan serius.
“Beneran mau dibukain nih Om?” tanya Kidung tak percaya.

“Iya, serius. Kalau kamu mau ya, Om akan membuka mata batin kamu sekarang” jawab Om Cepi dengan serius, Kidung tak menyangka ternyata Om Cepi benar-benar akan membuka mata batinnya, rasa ragu dan takut mulai menyelimuti pikirannya. Kidung merasa termakan omongan sendiri, mau tidak mau Kidung memutuskan untuk tetap dibukakan mata batinnya karena tidak ingin dianggap takut dan sebenarnya memang penasaran ingin bisa melihat makhluk gaib.

“Ya sudah Om, bukain mata batin saya” pinta Kidung dengan kurang yakin.
“Sekarang kamu pejamkan mata kamu ya” perintah Om Cepi.

Kidung menutup matanya sementara Om Cepi membacakan sebuah doa disamping Kidung yang sedang dalam posisi duduk, mungkin itu doa untuk membukakan mata batin seseorang. Setelah selesai berdoa.

“Nah, sekarang buka mata kamu pelan-pelan” perintah Om Cepi dengan nada suara pelan Kidung membuka matanya perlahan-lahan sesuai perintah dan ia melihat ke sekeliling. “Astagfirullahhaladzim” teriak Kidung dalam hati, ia masih mencoba berusaha tenang betapa kagetnya Kidung setelah membuka mata batin nya, ia melihat ke sekitarnya dan ternyata Jin ada dimana-mana dengan bentuk-bentuk tubuh yang tidak sempurna dan aneh.

Jin-Jin itu melakukan aktivitas namun tidak seperti layaknya manusia beraktivitas yang punya tujuan, mereka seperti bermain-main dalam ruang lingkupnya masing-masing. Makhluk-makhluk itu juga memiliki jenis kelamin jantan dan betina. Ia melihat Jin besar yang sedang berdiri menjaga rumah seorang warga sekitar. Kidung tak menyangka di sekitar tempat tinggalnya juga merupakan tempat tinggal para Jin.

Saat Kidung menoleh kebelakang, ia juga melihat beberapa tuyul yang sama persis seperti yang ada pada film-film horror. Mereka berwujud seperti anak-anak kecil, berkepala botak, bermuka pucat, memiliki daun telinga yang berbentuk lancip di ujungnya tidak seperti telinga manusia dan hidungnya seperti mengeluarkan cairan ingus, mereka hanya mengenakan celana dalam berwarna putih.

Tuyul-tuyul itu sedang bermain dan berlari-lari dipinggir kali tepat dibelakang tempat Kidung duduk. Kidung bergidik dan bulu kuduknya berdiri merasakan merinding dan membuatnya tak nyaman. “ih itu Astagfirulah” Tiba-tiba Kidung menjerit ketakutan ketika melihat sosok didepannya, “argh ya Allah serem banget om, itu om” teriakan Kidung semakin menjadi, ia kembali menutup matanya.

“Tenang, kamu harus tenang, kamu istighfar aja, mereka gak akan ganggu kamu” Om Cepi berusaha menenangkan sambil mengusap pundak Kidung. Tubuh Kidung gemetaran dan merasakan merinding yang amat sangat, akan tetapi Kidung masih penasaran dan ia coba mengintip lagi apa yang ia lihat tadi dari balik tangannya sendiri yang menutupi wajahnya. Ia membuka mata batin nya secara perlahan dan ia mengamati apa yang ia lihat dari bawah ke atas secara perlahan.

Ia melihat sesosok makhluk tinggi besar berkulit hitam, tubuh makhluk itu kira-kira memiliki tinggi sekitar 30 meter seperti tinggi gedung kampus tempat Kidung kuliah. “Nah, makhluk itu yang dinamakan Genderuwo yang selama ini orang-orang bilang” Om Cepi seolah-olah menjawab pertanyaan yang ada dipikiran Kidung yang sebenarnya belum sempat Kidung tanyakan kepadanya.

Genderuwo itu berdiri disamping pohon mangga dengan jarak sekitar sepuluh meter dari depan Pos Kamling. Kedua mata makhluk itu mengeluarkan sinar berwarna merah menyala, mulutnya mengeluarkan kedua gigi taring yang panjang dan terlihat kuat, makhluk itu juga memiliki rambut gondrong. Sungguh terlihat sangat mengerikan apalagi ketika makhluk itu menatap Kidung dengan tajam.

loading...

“Astagfirulah” teriak Kidung spontan dengan nada ketakutan dan menutup matanya lagi dengan kedua tangannya “Om sudah Om, saya takut” Kidung menggoyangkan tangan Om Cepi meminta disudahi atas apa yang ia alami saat itu. Waktu berjalan dan sebentar lagi akan berkumandang adzan maghrib. Kidung merasa tidak kuat lagi melihat makhluk-makhluk yang aneh tersebut terutama dengan apa yang ia lihat didepannya karena itu yang paling dekat, jelas, dan mengerikan.

Ia merasakan seperti tidak bisa lagi berteriak dan akhirnya. ia meneteskan air mata, ia menangis ketakutan. Tubuhnya mulai berkeringat dan ia merasa lemas. “Hiks hiks, Ya Allah Astagfirulah” isak tangis Kidung dan ia masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya “Mau ditutup mata batin kamu sekarang?” tanya Om Cepi.

“Iya iya Om, saya udah gak kuat lagi, saya takut Om hiks. hiks Astagfirulah” Kidung mengusap air matanya dengan kepala menunduk karena ia tahu pasti Genderuwo itu masih berdiri didepannya, ia tak mau melihat makhluk besar itu lagi. “Ya sudah, pejamkan mata kamu lagi” perintah Om Cepi. Kidung menutup matanya, ia mengembuskan napas agar lebih rileks di telinga Kidung, suara Om Cepi terdengar sedang membacakan doa beberapa saat kemudian. “OK, sekarang kamu bisa buka mata kamu, bacalah basmalah” perintah Om Cepi.

“Bismillahirohmanirohim” ucap Kidung dengan nada pelan ia membuka matanya secara perlahan dan alhamdulillah makhluk-makhluk gaib yang tadi ia lihat tak muncul lagi karena memang mata batin Kidung sudah ditutup lagi. Om Cepi menatap Kidung dengan ekspresi senyum diwajahnya, “Gimana tadi? Seru kan?” candanya “Ya Allah Om, sumpah tadi itu serem banget, saya gak kuat ngelihatnya” ungkap Kidung

“Ya sudah kamu istigfar sebut nama Allah SWT terus supaya hati kamu menjadi tenang. Eh, sudah mau maghrib sebaiknya kita pulang saja” ajak Om Cepi. “Iya Om, saya juga sudah gak betah lama-lama disini” kata Kidung, lalu Om Cepi mengelus pundak Kidung mencoba menenangkan dan menghilangkan rasa takut yang mungkin masih dirasakan Kidung. Om Cepi mengantarkan Kidung sampai depan rumah orang tua Kidung, karena Om Cepi tahu bahwa Kidung masih merasa takut.

Setelah mengantarkan Kidung, Om Cepi pamit pulang. Kidung menjatuhkan tubuhnya diatas sofa dan menghela napas panjang, ia masih beristigfar. Ia menceritakan apa yang ia alami tadi kepada orangtuanya. Bayangan makhluk-makhluk itu terus ada di benaknya dan ia masih merasa takut. Didalam hati ia berjanji tak akan lagi meminta untuk membuka mata batin nya karena ia sudah tidak mau melihat makhluk-makhluk aneh dan mengerikan seperti itu lagi.

Di dalam Al-Quran telah dijelaskan bahwa jin itu ada tapi kita manusia diciptakan oleh Allah SWT yang paling sempurna akan fisik dan kemampuan berpikir, jadi intinya kita harus selalu bersyukur kepada Allah SWT karena kita adalah makhluk yang paling sempurna dan selama kita tidak mengganggu makhluk-makhluk halus itu, maka insyaallah mereka tak akan mengganggu.

Share This: