Setengah Gelas Susu dan Obat Nyamuk Bakar

Lagi, lagi hujan. Jam sudah menunjukan pukul 21.00 malam. Setelah mematikan televisi aku berjalan menuju dapur. Di dapur aku mengambil satu buah gelas. Lalu aku berjalan kembali menuju lemari es. Setelah membuka pintu lemari es aku mengambil satu buah kotak botol susu. Lalu aku menuangkannya ke gelas yang tadi aku bawa. Setelah itu aku menutup kembali pintu lemari es.

“*Glek, glek, aah” nikmat banget rasanya setelah meneguk air susu segar. Masih ada setengah gelas lagi susunya. “Buat nanti deh di kamar” ucapku ngomong sendiri. Dan aku pun membawanya ke kamar. Setelah aku membuka pintu kamar ternyata Lala belum tidur. Seperti biasa dia selalu menggoda imanku. Tanpa tertutup selimut Lala berbaring di tempat tidur.

Memakai baju tidur yang tipis berlengan pendek dan celana yang hanya sampai lutut. Kulitnya putih mulus. Karena aku orang baik jadi aku tidak akan tergoda walau tanpa sehelai kain pun. Lagian Lala itu keponakanku dan aku harus menjaganya serta mengajarinya kebaikan. Lala pun melirik ke arah tanganku yang sedang memegang setengah gelas susu.

Lala: buat aku mana om?
Aku: kamu mau susu juga?
Lala: ya mau lah.
Aku: kamu kan sudah punya.
Lala: nih! (Ucap Lala sambil mengepalkan tangan ke arahku dan menatapku dengan tajam).
Aku: iya bos aku ambilkan, bos tetap bobo manis saja ya. (Ucapku sambil menaruh setengah gelas susu di dekat obat nyamuk bakar).

Usia Lala sudah 20 tahun, 1 tahun di bawahku. Tapi dia masih selalu bersikap manja. Sebagai om yang baik aku pun selalu mengalah. Aku kembali berjalan menuju dapur. Di dapur aku ambil satu buah gelas lalu berjalan kembali menuju lemari es. Saat aku membuka pintu lemari es. “Mamah! Mamah!” Lala berteriak dari dalam kamar. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari menuju kamar.

Seingatku tadi, aku tidak menutup pintu kamarnya. Tapi aku lihat pintu kamarnya tertutup. Aku terus berlari hingga aku sampai di pintu kamarnya. “*Jlek, jlek” aku menaik turunkan pegangan pintu sambil mendorong pintu sekuat tenaga dengan bahu. Pintunya terkunci dan tidak bisa di buka.

Aku: Lala, kamu kenapa La! (Ucapku sambil teriak dan berusaha membuka pintu).
Lala: om cepat kesini aku takut.

Ucap Lala sambil menangis dan terdengar sangat ketakutan. Aku pun mundur beberapa langkah dari pintu. Lalu aku berlari dan menghantam pintu dengan sekuat tenaga “*bruk!” pintunya berhasil terbuka. Tapi ruang kamar sangat gelap. Hanya mengandalkan cahaya dari lampu ruang tengah.

Aku: Lala kamu dimana?

Tidak ada jawaban suasana kamar sangat hening. Aku lihat dia tidak ada di tempat tidur. Aku mencoba melihat ke setiap sudut ruangan serta ke bawah tempat tidur. Tapi dia tidak ada. Dengan perlahan aku berjalan menuju ke arah jendela dan membuka gorden jendela. Aku pikir tidak mungkin dia keluar lewat jendela karena ada teralis besi. Aku lihat di lemari serta laci pun tidak ada.

Aku: Lala kamu dimana?

loading...

Tetap tidak ada jawaban. Aku sangat bingung sebenarnya aku salah apa hingga membuat Lala menghilang dari kamar ini. Sejenak aku duduk di teras dan bersandar ke tempat tidur. Aku menarik napas dalam dalam lalu aku hembuskan secara perlahan. Dalam hati aku hanya bedoa supaya di kasih petunjuk. Dengan penuh rasa heran aku mencoba melihat-lihat ke setiap sudut ruangan.

Pandanganku terhenti pada gelas yang berisi setengah air susu. Gelas itu berada dekat obat nyamuk bakar dekat dinding. Tapi aku pikir tidak mungkin. Masa cuma gara-gara menaruh setengah gelas susu di dekat obat nyamuk bakar bisa sampai begini. Di cerita dan film juga tidak pernah ada. Pikirku untuk sekedar menenangkan diri tidak ada salahnya aku mencoba.

Gelas berisi setengah air susu itu pun aku genggam dengan kedua tanganku lalu “*glek, glek, aah” mantap jiwa. Air susu sudah habis tidak tersisa sama sekali dalam gelas. Tapi masih ada sisa-sisa air susu yang menempel di bibir. Dengan perlahan lidahku menyapu sisa-sisa air susu yang menempel di bibir “*slurp, aah” nikmat. Setelah itu aku berjalan menuju dapur dan menaruh gelasnya di tempat cucian piring.

Lala: om cepat kesini aku takut banget.

Ucap Lala sambil menangis dan ketakutan. Suaranya terdengar dari arah kamar. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari menuju kamarnya. Aku lihat kamarnya sudah terang oleh cahaya lampu. Tanpa menghentikan langkah aku terus berlari hingga aku sampai di kamarnya. Terlihat Lala sedang jongkok di pojok kamar. Dia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya sambil menangis. Aku langsung menghampirinya.

Aku: Lala kamu kenapa?
Lala: itu om aku takut.
Aku: sudah La kamu gak usah takut ada om disini.

Dengan perlahan aku menenangkan Lala. Lalu aku mengambilkan segelas air putih untuknya. Setelah meminum sedikit air putih dia mulai terlihat tenang. Keadaan pun kembali membaik dan sudah kondusif lagi. Lala sudah kembali berbaring ke tempat tidurnya.

Lala: om jangan tidur di lantai ya, tidurnya di samping aku saja, aku takut.
Aku: iya, kamu tenang saja gak usah takut. (Jawabku bergaya sok berani).

Aku pun tiduran di sampingnya dan mencoba menanyakan apa yang terjadi.

Lala: setelah om keluar kamar untuk mengambil segelas susu yang aku pinta. Pintu kamarnya tertutup sendiri dan lampu kamar padam. Lalu ada nenek tua berambut panjang, kusut, berwarna putih. Dia mengambil gelas yang om taruh dengan tanganya yang keriput dan berkuku panjang. Dia memasukkan obat nyamuk bakar kedalam gelas. Lalu dia berjalan kaku mendekat membawa gelas berisi obat nyamuk bakar sambil bilang “minumlah nak, ikutlah bersamaku”.

Keriting

Keriting

Lala & keriting .
Terimakasih sudah baca tulisan sederhana kami.
meski tidak seram aku harap bisa menghantui yang lagi sendiri dan terlarut sepi.
(^•^)
wassalam wr wb

All post by:

Keriting has write 28 posts

Please vote Setengah Gelas Susu dan Obat Nyamuk Bakar
Setengah Gelas Susu dan Obat Nyamuk Bakar
4.6 (91.67%) 12 votes