Seutas Kain Putih

Aku adalah orang yang paling beruntung, bagaimana tidak karena sejak aku meraih gelar sarjana sastra dengan predikat cumlaude. Aku sangat bahagia dan keluargaku sama seperti aku dan juga pacarku merasakan yang sama seperti yang aku rasakan. Perjuanganku selama 4 tahun di sebuah universitas bahasa yang terletak di sebuah jalan setiabudi itu akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan.

Kebahagiaan yang aku rasakan saat itu tidak sampai hanya disitu, yang membuatku semakin bahagia adalah disaat orangtuaku membelikan rumah buatku sebagai hadiah perjuanganku selama ini. Sebuah rumah kecil yang terletak di pemukiman warga di ujung berung tepatnya di kaki gunung manglayang, ujung timur kota bandung. Lokasi rumah baruku yang sangat berdekatan dengan alam, dipenuhi oleh pepohonan yang besar dan rindang. Udaranya juga sejuk dan dingin, ditambah warganya yang sangat ramah dan bersahabat.

Membuatku merasa nyaman untuk menetap dirumah baruku itu, jujur dari dulu aku sangat senang dengan suasana alam yang tenang dan jauh dari keramaian kota. Diawal aku pindah ke perumahan baruku itu aku disambut hangat oleh para warga, terutama pak mudasir yang sekaligus sesepuh dan dia mengajak aku untuk berjalan-jalan sore mengelilingi pemukiman sambil mengenalkanku kepada beberapa warga yang berada didaerah itu.

Dengan senang hati aku pun bersedia menerima ajakannya, sore itu sepanjang perjalanan kami berdua. Pak mudasir banyak bercerita tentang pemukiman ini dan yang menarik perhatianku saat pertama kali aku datang ke tempat itu adalah selalu terdapat sebuah pohon besar dan rindang disetiap rumah warga, namun anehnya disetiap pohon yang berada disetiap masing-masing rumah itu terdepat seutas kain putih yang sudah lusuh di ikat mengitari batang pohonnya.

Begitu juga dengan pohon mangga yang berada didepan rumah baruku itu. Pemandangan seperti itulah yang membuatku penasaran, aku menanyakan kepada pak mudasir tentang kenapa pohon disini di ikat dengan kain putih. Dengan tenang pak mudasir menjawab, “gak apa-apa de, jangan diganggu kalo terlepas tolong segera di ikat lagi”.

Aku tidak mengerti kenapa ikatannya jangan sampai terlepas, jawaban pak mudasir membuatku bingung. Namun aku tidak terlalu memikirkannya, lagipula hanya seutas kain putih yang lusuh dan tidak berarti apa-apa bagiku. Setelah cukup lama aku dan pak mudasir berkeliling pemukiman, akhirnya kami berdua kembali sampai didepan rumahku.

Pak mudasir yang sejak tadi mengantarku berkeliling dan tidak lupa aku mengucapkan terima kasih padanya. Tapi aku melihat sesuatu yang aneh, ketika pak mudasir berpamitan denganku dia mengucapkan dua kali salam. Pertama dia mengucapkan salam kepadaku, lalu yang kedua dia mengucapkan salam sambil memandang pohon mangga yang ada dihalaman depan rumahku.

Aku pun hendak bergegas masuk kedalam rumah, namun ketika aku melewati pohon itu entah kenapa aku terdiam sambil terpaku memandangi pohon itu. Aku menatapnya dengan sangat serius, mulai dari ranting, dedaunan yang cukup lebat dan juga beberapa buah mangga yang masih belum matang sehingga pada akhirnya tatapanku menjadi fokus ketika aku menatap tajam seutas kain putih yang sudah lusuh terikat longgar dibatang itu.

Aku coba memegangnya ternyata hanya kain biasa namun memang ketika aku memegangnya seketika itu bulu kuduk aku berdiri. Sampailah pada malam hari, aku bersantai sambil membaca majalah diruang tengah lalu sesekali aku memeriksa hape dan tiba-tiba aku mendengar suara aneh. Tapi aku tidak pernah mencari suara apa itu, hampir seminggu dan setiap malam aku masih sering mendengar suara aneh itu.

Lama-lama aku jadi penasaran, dan sampailah pada malam itu tepat malam jumat. Sekitar jam 11 malam suara yang aneh itu terdengar kembali. Pelan-pelan aku membuka gorden jendelaku dan mencoba melihat keluar namun tidak ada siapapun, lalu terdengar sebuah suara. Bergegas aku berlari sampai ke depan pintu, dan sampai didepan pintu aku mendengar suara rintihan orang kesakitan. Semakin lama suara itu semakin terdengar jelas, suara itu membuatku ketakutan hingga jantungku berdetak kencang.

Dan rasanya sulit bagiku untuk mengeluarkan suara, perlahan aku memberanikan diri membuka pintu depan untuk mencari tau siapa yang berada diluar sana. Dengan tangan gemetaran, aku pun membuka pintu secara perlahan dan tidak ada siapapun. Padahal jelas sekali aku mendengar suara rintihan itu, ditengah kebingungan itu aku mendengar kembali suara yang sering aku dengar setiap malam itu dan begitu aku melihat ke arah pohon, astaga aku melihat sesosok tubuh pria berpakaian seperti tentara tergantung dipohon itu.

loading...

Sekujur tubuhnya dipenuhi bercak darah dan wajahnya sangat pucat dan bola matanya menatap keatas sambil mengeluarkan suara yang sangat menakutkan. Kontan aku pun langsung membanting pintu dan berlari masuk kedalam kamarku. Hingga keesokan paginya aku terbangun dan kepalaku sangat pusing. Aku dibangunkan oleh pak mudasir yang ingin memberikan aku sebuah surat undangan. Aku menahan pak mudasir sebentar untuk menceritakan apa yang aku alami semalam, dan aku pun bertanya apa yang telah terjadi ditempat ini.

Awalnya pak mudasir bungkam namun akhirnya bercerita bahwa dulu sejak zaman belanda, pemukiman ini adalah hutan tempat dimana para prajurit indonesia digantung secara massal disetiap pohon yang ada disini. Oleh karena itu, setiap pohon yang ada dipemukiman ini di ikat seutas kain putih yang sudah diberikan doa oleh sesepuh. Agar arwah para korban tidak menampakan diri dan mengganggu warga sekitar. Dan salah satu pantangan yang ada disini adalah jangan pernah menyentuh kain putih itu.

Share This: