Si Putih

Cerita ke-98 ini saya ambil waktu dwi masih tinggal didesa Simbarwaringin. Tepatnya di Kampung Baru. Komplek kampung baru sangat padat rumah (jika mengikuti ceritaku pasti tahulah, *coz aku lupa nama judul cerita tentang rumahku ini. Saking banyaknya sih, hehe), yang aku ingat “cerita dari simbarwaringin” doang, *hehe.

Nah kebetulan waktu itu tetangga sebelah rumahku/bu bayan. Sedang diluar rumah beli sayuran langganan. Karena aku jarang keluar rumah atau tepatnya berbual dengan tetangga, jadi ketemu saat ada langganan sayur lewat saja. Lalu dia bercerita padaku tentang horor. Awalnya dia/bu bayan cengengesan/tertawa kemudian bercerita. Bahwa kemarin malam saat malam jumat. Dia akan mengambil air wudhu untuk shalat isya sekitar jam 10-an malam.

Tiba-tiba seperti ada yang hinggap diatas genteng dapur rumahnya. Lalu dia menoleh kebelakang setelah selesai berwudhu. Saat dia lihat, ternyata ada putih-putih gitu sedang meringkuk. Lalu dia berteriak memanggil pak bayan dan july (anaknya). Setelah diusir, ternyata si putih tidak bergeming, malah dia tidak bergerak dari tempatnya dan hanya terdiam dengan posisi yang sama.

Akhirnya mereka menyerah dan bilang “sudahlah pak, ini kan malam jumat, barang kali itu jelmaan leluhur kita, biasanya kan kalau malam jumat mereka datang untuk menengok kita” kata bu bayan. Akhirnya mereka percaya-percaya saja, lalu masuk kerumah kembali. Nah saat jam 1, pak bayan keluar mau buang air. Tapi setelah diperiksa ternyata si putih pindah tempat. Sekarang diatas atap kamar mandi dengan posisi yang sama, katanya. Setelah pak bayan masuk kerumah, lalu dia bercerita pada bu bayan.

“Bu, si putih masih ada tuh, tapi pindah diatas atap kamar mandi” kata pak bayan.
“Ya sudah pak, kita lihat besok pagi, jika si putih sudah gak ada, berarti itu benar” jawab bu bayan.

Lalu mereka tidur. Dan keesokan harinya, tepat adzan subuh. Bu bayan dan pak bayan bangun dan akan memulai shalat serta beraktivitas seperti biasa. Dan alangkah terkejutnya bu bayan melihat si putih masih ada diatas atap kamar mandi. Bahkan sudah adzan tidak hilang atau pergi. Saat si putih terbangun, lalu bu bayan sadar. Bahwa si putih itu adalah ayam milikku, yang beberapa hari memang suka keluyuran kerumahnya, bahkan pernah bertelur dikursi dapur rumahnya.

loading...

Sontak dia tertawa dan pak bayan juga. Karena terlalu percaya sama tahayul, katanya. Lalu dia bercerita padaku dengan akhiran tertawa kembali. Aku pun hanya ikutan tertawa, *hehe. Si putih adalah ayam dari ibuku. Lalu berkembang biak banyak dan menghasilkan keturunan berwarna putih semua. Sehingga dwi dulu punya ayam kampung banyak berwarna putih.

Hanya si putih betina/induk inilah yang suka melucu, karena dia sering berkeliaran kerumah tetangga (mungkin lupa pulang, karena diburu-buru anak-anaknya yang pejantan, *hehe). Buat para pembaca jangan terlalu percaya tahayul ya, apalagi sampai berlebihan seperti cerita diatas, *coz memalukan, *hihi. Sekian.

Dwy Dwi Dandwi

Dwy dwi dandwi

Jangan baca ini sendirian ya… :D
by:
penulis amburadul horor dari lampung tengah.

All post by:

Dwy dwi dandwi has write 118 posts

Please vote Si Putih
Si Putih
Rate this post