Sial di Malam Minggu

Halo semua, aku orang baru disini, dan aku mau share ceritaku, yang aku alami belum lama ini. Tepatnya pada seminggu sebelum tahun baru. Oh iya aku handy dari Sukabumi. Selamat menyimak, moga-moga kalian semua terhibur. Sabtu sore, kala itu aku lagi nyuci motor, karena malam nanti aku mau pakai itu motor, buat jalan-jalan sama orang yang sedang aku dekati.

Tiba-tiba ponsel aku bunyi, terus aku jawab dah itu telepon. Terdengar suara seorang wanita yang sangat lembut, kontan saja bikin aku *klepek-klepek. Aku sih sudah grogi banget, karena aku kira, wanita itu mau nanyain soal jalan-jalannya entar malam. Tapi ternyata, dia malah membatalkan janji, dengan alasan ibunya ngajak dia antar ke rumah bibinya.

Aku sempat drop juga sih, tapi tak lama kemudian temanku datang ke rumah, dia minta aku buat antar dia ke daerah Tenjolaya, aku sih rada-rada gimana gitu, malas iya. Kasian juga iya, karena temanku itu nyodorin aku duit yang lumayan. Aku terima tawarannya, lumayan buat beli bensin pikirku. Singkat cerita, aku sudah selesai antar temanku, dan aku pun pulang ke rumah, sampai di rumah.

Aku kepikiran, kenapa gak sekalian saja jalan-jalan cari angin, gumamku. Aku pun kembali mengeluarkan motor yang masih ku parkir di halaman depan. Setelah itu, aku pun berangkat menuju tempat nongkrong seperti biasa, tapi sesampainya disana, teman-teman tongkronganku gak ada satupun yang datang. Sedikit agak *bete juga sih, tapi setelah itu aku pun memutuskan untuk bermain game online saja sebentar.

Setibanya di warnet tempat aku biasa main game. Ternyata masih ada tempat kosong, tanpa basa basi lagi aku pun dengan asiknya bermain game sampai lupa waktu. Tiba-tiba aku melirik ke arah jam, ternyata waktu sudah nunjukin jam 2 pagi. Aku buru-buru pulang, ketika aku cek motor aku eh. Bensinnya habis, sial benar malam itu, aku pun menitipkan motorku ke operator warnet, yang masih temanku juga namanya okky.

Dia pun menyanggupinya. Singkat cerita, aku berdiri entah berapa lama di pinggir jalan raya, berharap ada angkot yang melintas. Tiba-tiba saja udara sekitar aku jadi dingin banget. Samar-samar aku dengar suara derap langkah kaki. Semakin dekat dan semakin dekat, tapi aneh. Orang yang berjalan itu tak kunjung muncul juga orang yang! Ngeri juga pas bayangin kalau itu adalah hantu, tapi sebisa mungkin aku bayangin hal-hal positif.

*Srek-srek, terdengar lagi seperti seseorang menyapu jalan menggunakan sapu lidi. Setelah tengok kanan kiri, tak ada seorang pun sejauh mata memandang. Walaupun saat itu aku berada di pinggir jalan raya, tapi kesunyian saat itu membuat otakku menjadi berpikir negatif, memikirkan yang tidak-tidak. Aku pun berdoa bacaan ayat-ayat yang aku hafal. Kira-kira pukul 2.30 pagi, ada angkot berhenti di depanku. Aku pun tak henti-henti mengucap syukur.

Tapi karena penumpang angkot itu cuma aku, dan seorang yang duduk dekat sopir. Si sopir agak lama juga nungguin penumpang. Aku sempat ngumpat dalam hati “mana ada penumpang jam segini”. Tiba-tiba saja entah dari mana datangnya 2 orang perempuan naik ke dalam angkot, dengan membawa kantong kresek putih, yang wanginya kayak ayam goreng KFC. Cewek pertama berambut panjang dan pakai baju hitam kerlap-kerlip.

Sedangkan yang kedua, memakai rok panjang rambutnya pun di ikat seperti ekor kuda. Setelannya kayak orang zaman dulu, pikirku. Si sopir pun menjalankan angkotnya pelan-pelan. Agak jauh dari 2 cewek yang baru naik angkot tadi, si sopir memecah kesunyian dengan cara bertanya ke si cewek.

“Neng habis darimana, kok malam-malam gini baru pulang?”.
“Oh, ini habis nganterin saudara saya katanya kangen sama pacarnya” begitu kata si cewek berbaju hitam.
Si cewek yang berambut di ikat ekor kuda cuma bisa mesem-mesem. Si sopir pun kembali bertanya, “memang gak takut gitu ya neng jalan malam-malam cuma berdua?”.

Saat itu aku cuma menatap ke arah depan, berharap kalau angkot yang aku naiki ini bisa berjalan lebih cepat. Tapi si cewek di tanya gak ada yang jawab seorang pun. Ku lihat si sopir melihat ke arah kaca cermin yang berada di tengah atas kaca depan (aku gak tau namanya). Si sopir terlihat begitu kaget, karena orang yang baru saja dia ajak ngobrol ternyata sudah gak ada di dalam angkot. Sontak saja aku pun, sangat-sangat terkejut, sampai aku gak bisa ngeluarin sepatah kata pun.

Keringat dingin bercucuran, di tambah udara yang bertambah dingin, sebisa mungkin aku baca kembali ayat-ayat yang ku hafal. Si sopir pun mencoba menetralisir suasana yang begitu mencekam. “Dasar *jurig, pengen naik angkot gratis kali. Turun gak bilang-bilang” begitu katanya. Rupanya ucapan si sopir bisa sedikit menghilangkan keterkejutanku. Dan kami pun ngobrol ngalor-ngidul, apa saja di omongin biar gak sepi.

Tiba-tiba orang yang duduk di dekat sopir langsung menunjuk ke arah depan, seperti terkejut bukan kepalang, sontak saja aku pun melihat ke arah yang di tunjuk sama orang itu. Aku gak bisa lupain apa yang aku lihat saat itu. Dua sosok wanita terbang tepat di depan angkot, dengan suara tawanya yang mengerikan. Kira-kira dua menit kemudian, angkot yang aku tumpangi sampai di suatu daerah yang masih banyak rumput alang-alang.

Menakutkan sih, tapi di situlah aku harus turun. Karena rumahku, melewati tempat itu, mengingat kejadian tadi, aku pun enggan untuk melangkah, bahkan selangkah pun. “Tunggu sampai adzan subuh saja kali yah” pikirku. Tapi ternyata malam itu mungkin malam paling sial dalam hidup aku. Sesosok pria tinggi besar, melihatku dengan tatapan tajam, tatapannya begitu menusuk, dengan mata merahnya.

Setelah itu aku pun gak ingat apa-apa lagi. Saat paginya, aku sudah berada di rumah, aku terkena demam, di tambah pria yang menatapku tidak mau hilang dari ingatanku. Akhirnya ibuku memutuskan untuk memanggil ustad, yang kebetulan adalah tetanggaku. Pak ustad pun menghampiriku dan bertanya apa saja yang sudah aku lalui pada malam itu. Tanpa pikir panjang aku pun menceritakan semua kejadian yang aku alami tadi malam.

Pak ustad cuma bisa mengangguk. Setelah itu, dia memberikan segelas air, dan aku pun langsung meminumnya. Tak lama setelah itu, samar-samar aku dengar suara pak ustad berbicara dengan ibuku “bukan apa-apa, cuma makhluk iseng yang penasaran dengan anak ibu”.
“Terus gimana sekarang pak?” tanya ibuku.
“Sekarang sudah gak apa-apa, kasih air ini buat mandi sebagian lagi untuk di minum” seraya pak ustad memberikan sebotol air doa pada ibuku.

loading...

Aku pun bisa bernafas lega, karena entah kenapa, bayangan pria yang menatapku itu sudah gak menakutkan lagi. Begitu pengalamanku waktu itu, lain kali aku pasti post lagi cerita yang lain, entah itu pengalaman pribadiku, temanku atau mungkin cerita mistis yang beredar di sekitar tempat tinggalku. Terima kasih sudah menyimak, maaf kalau tulisannya agak sulit di baca, maklum aku nulis cerita pakai ponsel. Sampai jumpa.

KCH

handy

Sekedar kembali mengingatkan. “Jangan pernah baca ini sendirian” :)

All post by:

handy has write 2,704 posts

Please vote Sial di Malam Minggu
Sial di Malam Minggu
Rate this post