Siapa yang Mandi?

Tahun 2015 februari, ini adalah kisah misteri yang saya alami. Namaku dwi, di tahun itu adalah tahun kelam, maaf tidak bermaksud curhat, tapi begitulah adanya. Saya kembali ke rumah orang tuaku, yang mau menerimaku dan menghiburku di kala terpuruk. 3 hari tanpa bicara sepatah kata, dan hanya kepada ibulah saya berusaha memanggilnya “ibu”.

loading...

Hari ketiga di rumah ibu kala itu sunyi, entah pada kemana penghuninya. Hanya tinggal ada aku dan ibu di sore itu. Ku lihat jam dalam ponsel, sudah hampir jam 6 sore. Ku duduk termenung di ruang tamu sendiri, menikmati hening. Tiba-tiba, ada suara orang memakai sendal dan arahnya menuju ke kamar mandi. Ku pikir itu ibu yang akan mandi. Lalu terdengar suara siraman air seperti orang mandi biasa, suaranya sangat jelas ku dengar.

Lalu suara langkah kaki itu menuju ruang shalat, dan tidak berlangsung lama menuju kamar ibu. Saya melihat sekelebat bayangan seperti orang lewat terhalang oleh gorden penutup pintu ruang tengah. Awalnya saya biasa saja, kemudian saya panggil “ibu. Pada kemana kok sepi?” tanyaku. Tapi tidak ada jawaban. Lalu ku panggil lagi “ibu, ibu?” tapi tetap tidak ada jawaban.

Ku terdiam, dan tiba-tiba ada suara ibu dan langkah kakinya entah darimana, ia baru pulang dari suatu tempat. Karena saya penasaran, saya pun bangun dari tempat duduk, dan memastikan keadaan di belakang. Alangkah terkejutnya saya, melihat ibu baru masuk ke dalam rumah, sambil tersenyum. Ku bertanya pada ibu.

“Lho ibu, darimana?” kataku heran.
“Dari rumah mba kuyus, ada perlu” jawabnya.
“Lho, terus tadi yang mandi siapa?” kataku lagi.
“Siapa? Orang gak ada siapa-siapa kok, lagian ibu pergi sejak jam 4” kata ibu menjelaskan.

Sontak saya kaget, apalagi ibu yang baru saja pulang ke rumah. Dan saya melihat bekas air cap sandal basah. Lalu ku berkata lagi “itu cap sandal siapa? Kan masih basah dan baru” tanyaku. “Pantas saja, ku panggil-panggil gak ada yang jawab!” tambahku lagi. Lalu ibu berkata “masa iya sih ada? (tanpa meneruskan) padahal rumah ini sudah di pagar gaib” kata ibuku keheranan.

Lalu kami terdiam tidak mau membahasnya. Keesokan harinya, saya tidak bisa tidur. Terlebih lagi ada suara yang mengganjal di bantal tidurku. Dan ada sesuatu yang mengganjal kepalaku, tapi ku hiraukan itu. Hingga siang pun tiba, ketika saya sadar semalam tidak bisa tidur karena ada sesuatu di bantal. Akhirnya saya cek isi bantal yang ku pakai semalam, dan apa yang ku lihat?

Ku raba-raba bantalku, dan mengeluarkan bunyi seperti plastik. Ku pegang lalu mengeluarkannya dari bantal, dan yang ku lihat itu sebuah bungkusan. Bungkusan kain hitam yang terbungkus plastik. Tapi di dalam kain hitam itu seperti ada sesuatu di dalamnya. Ukuran bungkusan ini kecil, sebesar ibu jari kaki orang dewasa. Ku amati bungkusan itu, dan aku tahu bahwa bungkusan ini adalah jimat.

Saya paling benci ada jimat macam beginian, lalu tidak berpikir lama, aku bangun dan beranjak dari kamar. Ku panggil ibuku, dan menanyakan apa ini? Dan untuk apa? Untuk siapa? Berbagai pertanyaan menghujam ibuku dengan nada kesal. “Saya tidak suka ada barang beginian di sini, di rumah ini, saya sudah muak dengan hal-hal demikian” kataku memanas. Seakan mengingatkanku akan masa lalu.

Lalu ibuku menjawab tenang “bukan apa-apa, itu pelindung untuk kakakmu” katanya. Saya tidak percaya, karena kakak tidak ada di rumah sejak 3 bulan terakhir. Dan saya melihat wajah ibu sedikit kebingungan. “Aku mulai faham, itu bukan untuk kakak, karena belum lama ini bantal yang ku pakai aneh” kataku dalam hati. Lalu aku mengembalikan jimat itu ke ibu dan kembali ke kamar. Tiba-tiba, kakak sepupu iparku datang.

loading...
Dwy Dwi Dandwi

Dwy dwi dandwi

Jangan baca ini sendirian ya... :D by: penulis amburadul horor dari lampung tengah.

All post by:

Dwy dwi dandwi has write 116 posts