Siapa yang Memanggilku?!

Assallamuallaikum, wr, wb. Salam kenal sobat KCH, kenalin nama aku wahyu biasa dipanggil ipit aku pendatang baru disini, dan suka ngebaca postingan dari teman-teman semua. Prolog dulu ya. Suatu malam di kota Bogor pinggiran, aku lupa hari dan tanggal berapa yang pasti tahun 2012 pas waktu aku masih kuliah dan lagi libur semester.

Waktu itu aku, faisal (itang) dan irvan (capung) rencana mau nginap dirumah temanku alif (item) soalnya orang tuanya lagi pergi ke rumah neneknya untuk beberapa hari. Rumah alif ada 2 lantai, kamarnya di atas, bagian belakang dan samping rumahnya itu kebun kosong, luasnya kira-kira segede lapangan basket. Jarak antara 1 rumah dengan rumah yang lain itu lumayan jauh jadi kalau dengarin musik kencang juga gak akan mengganggu tetangga.

loading...

Ini ceritanya, lets go! Malam itu kira-kira jam 21.35 temanku itang mengajak keluar buat beli cemilan dan minuman “beli cemilan yu kedepan!” tanya itang, “ayo, aku juga lapar nih” jawab alif, “aku gak ikut ah, dingin di tambah ngantuk aku” sahutku, “ya sudah kita *cabs dulu ya”.

“Yo!” sahutku singkat. Setelah mereka pakai jaket dan mau turunin tangga alif bilang “eh pit, kalau dibawah ada yang manggil jangan lu sahutin ya, apa lagi lu samperin” pergi sambil ketawa-tawa, “kampr*t lu” jawabku ketus. Setelah kira-kira 1 jam lebih mereka belum balik, “pada lama amat sih beli cemilan *doang juga” gerutuku dalam hati.

Gak lama kemudian ada suara yang manggil dari lantai bawah “pit. Ipit sini”, (suara si item tuh, akhirnya datang juga) jawabku dalam hati, sambil turunin tangga, ku lihat di lantai bawah semua lampunya mati “*jia mau nakutin aku ceritanya, belum tahu apa *babehku preman” nyoba buat ngehibur diri, padahal dalam hati mah *dug-dug syer. Aku terus jalan sambil raba0-raba tembok cari sakelar lampu, “*ctrek” lampu nyala aku lihat kesemua sudut ruangan ternyata gak ada siapa-siapa.

Dan ku lihat di belakang gorden ada sepasang kaki, aku dekatin pelan-pelan, ku buka gorden itu “*duar.” teriakku berniat balas ngagetin dia, ternyata benar si alif lagi ngumpet. Tapi aneh mukanya pucat gak ada ekspresi, matanya kosong, kaya orang sakit “lu kenapa tem?” tanyaku hawatir, tapi dia gak ngejawab, “anak-anak mana tem? Kok lu sendirian?” tanya ku lagi “lu mau nakut-nakutin aku ya!” tanyaku ketus, tapi alif tetap diam. Aku ajak alif naik keatas, sambil terus nanyain hal yang sama “anak-anak mana tem?” tapi tetap gak dijawab.

Sampai akhirnya sekitar 10 menit kemudian ada suara ketawa-tawa sambil bercanda dari bawah, (nah itu pasti itang sama capung) bicara dalam hati, cepat-cepat aku turun kebawah mau tanyain keadaan si alif, buru-buru aku turun kebawah dan alangkah kagetnya saat aku lihat ternyata mereka bertiga lagi ketawa-ketiwi sambil bercanda, semua pertanyaan tiba-tiba muncul “siapa yang di atas?! Siapa yang disini?!” alif menjitakku sampai aku sadar dari lamunanku.

Mukaku pucat, bulu kudukku merinding, dahiku mengkerut penuh tanda tanya, “lu kenapa pit? Kayak yang habis lihat setan saja” tanya alif sambil ketawa ngeledek. Lalu aku ajak mereka duduk diruang tamu lantai bawah, ku ceritain semua sedetail-detailnya, “jadi begini ceritanya” (gaya bahasa salah 1 program “kisah nyata” di televisi), setelah aku ceritakan semuanya kita berempat memberanikan buat naik keatas, buat mastikan “apa” yang ada di atas.

Setibanya kami di atas ternyata gak ada siapa-siapa, kami ngecek ke semua ruangan dan benar-benar gak ada siapa-siapa “ah lu bohong kali pit, lu mau nakut-nakutin kita ya? Apa lu lagi mimpi?” sahut irvan sambil senyum kering. “Kan tadi sudah aku bilang pit, kalau ada yang manggil dari bawah jangan lu sahutin apa lagi lu samperin” tegas alif “suaranya kayak suara lu tem, ya aku kira lu bawa banyak cemilan, makanya lu minta aku bantu bawain” jawabku masih dengan muka pucat dan pikiran gak karuan.

Epilog, setelah orang tuanya alif pulang, dia ceritakan semua ke orang tuanya masalah kejadian itu. Dan ternyata orang tuanya juga pernah mengalami hal yang sama, tapi gak pernah diceritakan karena takut dikira cuma nakut-nakutin. Beberapa hari kemudian dirumahnya diadakan yasinan rutin setiap malam jumat.

Sampai sini dulu ya ceritanya, lain kali aku lanjut lagi sama cerita yang pernah aku alami saat lagi main “*cing torti” (nama permainan daerahku, semacam petak umpet tapi cuma dimainkan dibulan ramadhan dan dimainkannya cuma habis shalat subuh). Bye-bye.
Email facebook: [email protected]

loading...
KCH

Wachyu Fadillah

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Wachyu Fadillah has write 2.748 posts