Siapa Yang Mengetuk Pintu Rumah?

Assalamualaikum, kali ini Weni mau nyeritain kejadian saat bapak ku masih perjaka, biar mudah aku ceritain dari sudut pandang bapak aja yah. Kita langsung ke TKP! Malam yang dingin disertai hujan deras, aku bersama adik ku yang paling bontot dan juga si mbok (alm) sedang duduk santai di ruang tamu sambil menikmati suara hujan. Panggil saja aku Amin (nama samaran). Aku tinggal di Blitar, tepatnya di Ds. Sutojayan, Kec. Ngeni. Daerah tempatku tinggal sangat wingit, banyak pepohonan kelapa, lahan kosong dan hutan.

Jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain pun sangat berjauhan, ditambah belum adanya penerangan. Sebagai penerangan di rumah hanya menggunakan lampu minyak atau lampu teplok. Dalam situasi temaram, kami bertiga duduk berbincang di ruang tamu. Saat itu aku masih bujangan. Bapak ku masih ada, hanya saja waktu itu beliau sedang ikut ronda malam. Bapak harus berangkat sejak menjelang magrib, karena pos ronda di kelurahanku sangat jauh, bisa sampai 5 km dan itu pun ditempuh dengan jalan kaki.

Yah maklum zaman itu desaku sangat terisolir, jauh dari manapun. Kejadian ini dimulai ketika sudah menjelang larut malam, kami yang saat itu asik berbincang tiba-tiba dikejutkan dengan suara ketukan di pintu ruang tamu. Kami bertiga hanya diam tanpa membuka pintu, karena jika dipikir siapa yang mau bertamu malam-malam begini sedangkan diluar hujan deras. Kalau bapak yang pulang tidak mungkin, karena bapak selalu pulang menjelang pagi jika ikut ronda, dan bapak tidak mungkin pulang disaat sedang hujan begini.

Lama kelamaan suara ketukan itu berubah menjadi seperti mengedor pintu seolah ingin mendobrak dari luar. “Sopo kuwi mbok? (Siapa itu mbok?)” Tanyaku. Mbok hanya menjawab “Wes ben e, ra usah dibukak (udah biarin ga usah dibuka)”. Semakin dibiarkan suara itu semakin menjadi-jadi dan berpindah-pindah. Dorrr..doorrr..doorrr.. dan begitulah seterusnya, suara itu berpindah dari pintu ruang tamu lalu ke pintu dapur, dan begitu terus.

loading...

Suasana semakin mencekam,ditambah hujan yang belum reda. Sekedar info bahwa rumahku berbentuk memanjang ke samping, jadi dapur dan ruang tamu bersebelahan dan hanya dipisahkan dinding kayu, jadi suara gedoran di pintu dapur dapat terdengar dari ruang tamu. Setelah sekian lama kami biarkan akhirnya suara itu hilang dengan sendirinya,dan kami merasa lega. The End, maaf kawan kalau gak serem.

Share This: