Siluman Harimau Putih (2)

Lalu kuceritakan semua kejadian sampai ke hal terkecil sekalipun. “Terus mau dikubur dimana lagi mayat ayah, kak?” desak Sukamto. Mendengar pertanyaan adikku, kedua mataku langsung terbelalak lebar. “Kenapa kau bertanya demikian? Kau tahu, dikubur di pekuburan umum manapun atau di Mbayong, ayah tetap mendapat resiko dari perbuatannya di masa hidupnya. Nah, jika kedua-duanya mengandung resiko, lalu apa artinya kita menguburkannya di pekuburan Mbayong? Itu sama halnya dengan menyerahkan jiwa raga ayah kepada para siluman, bukan?

Jika kurang jelas khotbahku, cobalah kau dengar baik-baik! Seandainya jisim ayah dikubur di Mbayong, jisim tersebut akan bangkit kembali tapi dalam wujud siluman harimau dan hidup sampai dunia ini kiamat. Itu menurut kakek Mbayong sendiri. Tapi jika mayat ayah dikuburkan di pekuburan umum, tidak urung para siluman Mbayong akan selalu membongkarnya lagi dan itulah yang bakal membuat roh ayah kita penasaran” Jelasku panjang lebar.

“Jadi kedua-duanya tidak menguntungkan” sahut Sukamto. “Ya, kita akan memilih satu di antara dua alternatif. Tapi kita yakin roh yang penasaran tak akan berlangsung lama. Dia akhirnya akan lenyap sendiri ditelan waktu. Karena itu aku tetap memilih kuburan umum sebagai tempat penguburan ayah” ujarku memutuskan.

Sukamto tak banyak membantah kata-kataku dan akhirnya ia pun setuju. Keesokan harinya, penguburan untuk kedua kalinya almarhum Subroto dilakukan. Tentu saja berita itu cukup tersebar luas sampai ke pelosok-pelosok desa di sekitarnya. Dan gosip pun sambung-menyambung bagai tiada berkeputusan. Ada yang membenarkan tindakanku, tetapi tak sedikit pula yang mencela. Kini penguburan mayat Subroto, ayahku, telah usai. Dan beberapa hari setelah itu tak terjadi sesuatu yang menghebohkan atas keluarga yang ditinggalkan.

Namun menginjak hari keempat setelah penguburan yang kedua kalinya, atau tepatnya malam ke tujuh setelah ayah meninggal, suasananya terasa sangat mencekam. Malam itu seperti biasanya sehabis selamatan, di rumah Mbok Broto, ibuku, diadakan melekan sekedar untuk mengurangi duka cita keluarga yang ditinggalkan. Kedua anak almarhum seperti biasa menginap di situ, sekalian melihat reaksi para siluman pekuburan Mbayong, sekalipun hal seperti itu sama sekali tidak diharapkan.

Lewat pukul 12 malam, keadaan terasa semakin sunyi dan orang-orang yang datang melekan sudah pulang pada pukul 10 tadi. Udara di malam yang sunyi membuat penghuni rumah mendengkur dalam tidur pulas. Hanya gelepar kelelawar yang terdengar berkepak-kepak menyentuh pucuk daun. Ibuku yang niatnya ikut begadang dan ingin melihat sendiri wajah-wajah para siluman, ternyata sudah lelap pada pukul 12 tengah malam itu.

Kini waktu telah menunjukan pukul 02.00. Aku dan Sukamto yang sudah siap menerima kehadiran para siluman, dikejutkan oleh munculnya kakek-kakek dengan dua ekor ‘siluman harimau putih’ yang selalu mengawalnya. Sebelum kami menegur sang kakek berucap lebih dulu. “Rupanya kalian telah siap menerima kehadiran kami kemari. Terima kasih atas penyambutan kalian yang lebih semarak daripada sebelumnya. Tetapi kami disini tak akan terlalu lama. Kami hanya menyampaikan berita, bahwa kekecewaan kami semakin bertambah karena kekerasan hati kalian, yang tetap tak mau mengubah pendirian. Meski demikian kami masih bisa bersabar sampai hari yang ke-40 nanti. Jika sampai pada hari tersebut kalian masih tetap berkeras, maka kesabaran kami akan habis. Nah, selamat berpikir anak-anak Broto!” katanya.

Selesai berucap demikian, kakek misterius itu beringsut keluar, yang segera di buntuti oleh ‘pengawal-pengawalnya’ Kami berpandangan satu sama lain. “Kau mendengar ucapan kakek Mbayong tadi, kak?” seru Sukamto akhirnya. “Ya, tetapi apa artinya bagi kita? Ingat, kita telah menempuh separuh dari perjuangan ini dan tiada gunanya mengubah rencana semula” tegasku.

“Menyedihkan sekali nasib ayah” ujar Sukamto, dan masih banyak lagi kata-kata yang meluncur dari celah bibirnya, namun sama sekali tak berhasil menggoyahkan keteguhanku. Banyak pula para sesepuh desa yang telah mencoba mempengaruhi hatiku dengan alasan agar para siluman pekuburan Mbayong tidak mengganggu ketentraman desa kami, namun aku tidak mempedulikan semuanya itu. Aku tak pernah melihat kesalahan apa pun dalam tindakanku.

waktu berjalan terus dari detik ke detik, dan kini tibalah hari ke-40. Melekan dirumah ibuku sudah usai pada pukul 10 malam. Kini yang tinggal hanyalah seperti biasanya, aku dan adikku. Pukul 02.00 seorang kakek-kakek muncul dengan tiba-tiba dan langsung menatapku. Sejurus kemudian muncul pula dari luar pintu seekor harimau putih sambil menggigit tempurung kepala manusia dengan wajah menyeringai. Sekilas si kakek melirik kepada harimau itu, seraya ujarnya, “Taruh di situ saja!”. Dan binatang siluman itu pun melemparkan bebannya. Tempurung kepala manusia tersebut berguling-guling di lantai dan berhenti tepat di depanku.

“Kami tak mengharapkan kesediaan kalian lagi untuk dapat mengubur benda itu di pekuburan Mbayong. Tetapi kami merasa puas setelah membagi-bagi jisim ayah kalian. Anak yang tertua kami beri kepala, seperti yang sedang kalian saksikan saat ini. Dan untuk kau Kamto, di rumahmu sudah kami taruh sekujur badan ayahmu tanpa kaki dan tangan, serta tanpa kepala tentunya. Sedangkan adikmu yang termuda, Astuti, kami beri sepasang kaki dan sepasang tangannya. Dengan demikian antara kami dan kalian sudah tak ada sangkut paut utang piutang lagi. Tapi ingat! Setiap malam tiba dan dalam suasana sunyi, kepala ayah kalian yang menyeringai itu akan selalu berguling-guling menuju anaknya yang tertua untuk menuntut disatukannya kembali dengan badannya. Sedangkan badannya sendiri akan Sukamto satukan dengan kedua pasang anggota tubuh serta kepalanya. Demikian pula sepasang kaki dan tangannya akan menuntut Astuti untuk ditemukan dengan badannya, karena tiap-tiap yang terpotong-potong itu selalu ingin berkumpul kembali hingga terbentuklah sesosok jasad yang sempurna. Nah, selamat tinggal, anak-anak Broto!” ujar si kakek.

Kini suasana di ruangan itu hening dan sunyi senyap. Dan kami kakak beradik tenggelam dalam kebisuan. “Inilah jawaban terakhir siluman-siluman harimau itu, kak!” cetus Sukamto menangis. Aku tidak menjawab. Bahkan cukup lama aku terdiam. “Jasad ayah yang terpisah-pisah kita kumpulkan, kemudian kubur sekarang juga” akhirnya aku memberikan keputusan. “Tapi kalau jasad tersebut belum bersatu, tiap malam pasti datang dan menteror kita, kak” timpal sukamto.

“Dengar, jasad orang mati itu baik utuh maupun terpisah-pisah, tidak bisa berbuat apa-apa. Seandainya jasad ayah kita bisa melakukan teror, tentulah karena ulah para siluman itu. Tetapi setelah kita menguburkannya kembali, mereka tak berhak mengusiknya lagi” jelasku. Untuk kesekian kalinya Sukamto tak berdaya dalam menghadapi keteguhan sikapku.

loading...

Maka malam itu juga kami berusaha mengumpulkan jasad ayah yang terpisah-pisah, lalu menguburkannya kembali di pekuburan umum. Rupanya kebulatan tekadku yang ingin menyelamatkan jasad ayah membuahkan hasil. Terbukti teror jasad yang terpotong-potong itu tidak terjadi. Tetapi meskipun demikian, tentu saja almarhum Subroto, ayahku, tetap harus mempertanggung-jawabkan segala perbuatannya selama masa hidup di alam dunia.

Share This: