Siluman Harimau Putih

Semoga pembaca KCH ini terhibur dengan legenda siluman harimau putih. Jam telah menunjukan 02.00 dini hari, gelap yang pekat menyelubungi desa kami dan sekitarnya. Udara dingin teras kian menggigit ketika hujan turun rintik-rintik. Beberapa saat kemudian hujanpun jadi semakin deras. Kesenyapan malam tiba-tiba dipecahkan oleh dentuman petir yang menggelegar dari suatu arah. Petir itu bergemuruh bersamaan dengan dengkur orang yang bersahutan. Lalu, aku terbangun kaget.

“Waduh, sasaran apa gerangan yang telah disambar petir itu? Mudah-mudahan hanya pohon kelapa saja yang menjadi sasaran, bukan manusia!” bisik hatiku. Dan entah karena jalan pikiranku sendiri, rasa takut tiba-tiba datang menyergap. Tak lama kemudian hujan sudah agak reda, hanya terdengar suara tak-tik sisa butir-butir air hujan jatuh dari daun-daun pepohonan. Tetapi bila diperhatikan sungguh-sungguh, bunyinya semakin lama terdengar semakin keras dan seolah-olah kian dekat.

“ah, rupanya ada hantu air yang bergentayangan!” gumamku merinding. Aku bangkit dari tidur, duduk dikursi dan kusulut sebatang rokok berfilter. Lantas berusaha menenangkan hati dan berfikir bahwa tidak akan ada hantu masuk rumah, kecuali jika keluargaku sendiri yang mati dan kemudian menjadi hantu. Tetapi bukankah ayah baru saja meninggal, dan malam itu adalah malam selamatan yang ke tiga harinya.

Malam itu memang merupakan malam tirakatan rumah keluargaku. Tiga hari yang lalu ayahku meninggal dunia, dengan meninggalkan tiga orang anak, masing-masing Aku, Sukamto, dan astuti. Almarhum ayah yang kaya raya telah memberi bekal hidup kepada anak-anaknya dengan pendidikan yang lumayan menurut ukuran orang-orang didesaku. Seperti halnya aku, sekalipun tidak sampai mendapatkan gelar sarjana, tetapi masih dapat menjabat kepala sekolah di SD Negeri setempat. Sedangkan adikku, Sukamto yang rendah hati itu, menjabat jabatan kepala irigasi, dan saudara yang termuda, Astuti, menjadi perawat di salah satu Puskesmas, serta baru saja menikah dengan Pramono teman seprofesinya.

Sampai pada malam itu, karena keluarga yang ditinggalkan terbilang orang terkaya didesa, maka tak mengherankan bila dirumahku diadakan melekan seusai selamatan. Pada malam selamatan ini tidak banyak orang yang hadir, kecuali para kerabat dan keluarga dekat almarhum. Keluarga yang ikut tirakatan sudah bubar pada pukul 22.00 tadi, tetapi anak-anak almarhum bahkan sampai menginap dirumah ibu. Hanya anak termuda yang tidak ikut melekan, karena tidak wajar seorang wanita melakukan hal demikian. Sementara suaminya, Pramono, yang bersedia melek semalam suntuk, dicegah olehku dan Sukamto.

“kalian kan pengantin baru” kataku saat itu menggoda. Tiba-tiba, terdengar pintu diketuk dari luar.

“Siapa?” seruku, berdebar saat mengucapkan kata itu.

“Saya nak Har! Saya kakek Mbayong, tolong bukakan pintu, kami perlu berbincang-bincang denganmu, sebentar saja” terdengar jawaban dari luar.

“Kami?” desisku dalam hati. Berarti lebih dari satu. Aku menggigil mendengar seruan itu. Sebab kakek Mbayong adalah manusia setengah setan. Juru kunci kuburan Mbayong yang dihuni oleh siluman-siluman harimau putih. Lalu bagaimana cara meloloskan diri dari kenyataan ini.

“Bukalah segera. Di luar masih turun hujan, rasa dingin semakin merasuk ke tulang sumsum” terdengar lagi suara kakek Mbayong. Aku kian menggigil dan merasa darah disekujur tubuh seakan-akan telah mengering. Sekonyong-konyong pintu terkuak dari luar tanpa menimbulkan suara, dan seorang kakek-kakek yang berambut panjang masuk. Matanya kelabu, dingin, tanpa secercah kebingaran tersirat. Tetapi kondisi fisik dan mentalnya masih nampak cukup tangguh.

“Selamat malam..! Mungkin kau telah menganggapku kurang sopan, karena memasuki rumah ini tanpa izin. Tapi ketahuilah har! Bahwa sebenarnya kami mempunyai banyak urusan denganmu” seru kakek itu. Aku merasa seluruh tenagaku seperti lenyap. Hendak kugapai adikku yang masih tertidur pulas dilantai, tetapi kakek misterius itu segera mencegah. “Jangan! Jangan kau bangunkan dia! Kami merasa hanya berurusan denganmu, sebab kaulah otak dari semua rencana penguburan jisim (jasad) ayahmu itu. Sekarang, baiklah kubuka sejarah dari kehidupan kedua orang tuamu di masa hidupnya.” Lalu kakek itu bertutur panjang.

“30 tahun yang lalu, waktu itu kau masih berumur sekitar 6 tahun. Ayahmu telah bersujud dibawah telapak kakiku untuk meminta sedekah. Kau tahu kenapa kau diajak ayahmu menghadap kami? Hmm, kami menyadari bahwa kau bukan hendak dibuat tumbal oleh ayahmu, karena dia tidak sebodoh itu. Kau diajak ke Mbayong dulu karena dirumah tidak ada yang mengasuhmu. Waktu itu ibumu sedang minggat karena tidak diberi uang oleh ayahmu berbulan-bulan lamanya. Dan itulah sebabnya, ayahmu merengek-rengek minta sedekah kepada kami dengan harapan agar bisa kaya raya dan ibumu yang cantik itu mau diajak rujuk kembali, dan demikianlah kenyataannya. ingatkah kau waktu bermain-main dengan dua ekor kucing raksasa di Mbayong dulu? Sementara itu ayahmu sedang bersemedi agar permohonannya dikabulkan oleh penguasa pekuburan Mbayong?”.

Mendengar penuturan itu aku berdiam diri, bukan tak ingat lagi akan masalah itu. Pikiranku mulai merangkak menyusuri jalur-jalur hidup yang telah ditempuh ayah pada 30 tahun yang lalu. Waktu itu orang tuaku memang sedang ditimpa kemelaratan hebat. Untuk membiayai hidup sehari-hari, ayah merasa kewalahan, hingga akhirnya ibuku purik (minggat). Ayah merasa selalu dibayangi nasib buruk dan akhirnya pergilah ia ke kuburan Mbayong untuk mencari pesugihan. “Kami bisa memenuhi permintaanmu, tetapi dengan syarat, setelah kau meninggal nanti harus dikuburkan di pekuburan Mbayong sini! Kau akan dapat hidup kembali sampai dunia ini kiamat, tapi dalam wujud seperti dua ekor kucing raksasa yang sedang bergurau dengan anakmu Hardi itu,” Demikian ujar juru kunci saat itu.

Karena ingatan ini, dalam hatiku membesit rasa menyesal bercampur kengerian. Aku berusaha mengatasi cengkeraman tersebut dengan cara menguburkan jisim ayah di pekuburan umum, yang sekaligus mengingkari janji yang telah dibuat ayah dengan siluman-siluman pekuburan Mbayong. “Nah bagaimana? Kau ingat kejadian 30 tahun yang lalu itu?” seru kakek Mbayong yang agaknya mengetahui lamunanku sudah usai. “Tapi kenapa jisim ayahmu kau kubur di pekuburan lain?” tanya kakek Mbayong. Tersentak aku oleh pertanyaan itu. Aku menggigil dan memandang pada si kakek untuk mohon pengertian.

“Maafkan saya kek. Kami memang sengaja membebaskan ayah dari jalan yang sesat itu” ujarku. Mendengar ucapanku, kakek Mbayong memerah wajahnya karena dilanda amarah yang meluap-luap. Desahnya kemudian. “Kami memang telah menempuh jalan yang sesat, tetapi ayahmu terpengaruh oleh kami, sehingga kau sudah terlambat untuk membebaskannya. Kau tahu, utang-utang ayahmu kepada kami sudah tak terhitung lagi banyaknya, dan itu harus dibayar dengan cara penguburan jisim dia di pekuburan Mbayong. Kau bisa saja menjauhi jalan yang kami tempuh itu, tetapi tidak bisa membebaskan ayahmu!” ujar si kakek.

Selesai berucap demikian, kakek misterius itu bertepuk tiga kali. Pintu terbuka lebar dan dari luar merangkaklah dua ekor harimau putih, sambil menggotong sesosok mayat yang masih terbungkus kain kafan. Mayat itu ditaruh di depanku, kemudian binatang-binatang siluman ini duduk dengan sepasang kaki belakangnya di sisi si kakek. Seekor di sisi kiri dan yang lain disebelah kanan.

Dengan hadirnya siluman raja hutan itu, jantungku seolah-olah berhenti berdetak, hatiku dicekam ketakutan hebat. Tetapi kakek Mbayong segera menegaskanku agar tidak usah merasa takut. “Kucing-kucing raksasa ini adalah kakek dan eyangmu sendiri. Coba perhatikan baik-baik!” ujarnya. Kini yang tampak dimataku adalah dua orang kakek yang menatap tajam ke arahku. Kedua kakek itu hampir sama roman mukanya, tetapi yang sebelah kanan jauh lebih tua daripada yang kiri.

“Nah, itulah wajah-wajah leluhurmu, Hardi! Tentu kau tidak mengenalnya sebab mereka meninggal di saat kau belum lahir ke dunia. Mereka inilah yang telah menjadi warga kami, dan orang ketiga nanti adalah ayahmu. Sekarang perhatikan jasad itu, itu adalah ayahmu sendiri. Kami sengaja membongkarnya kembali dari kuburnya, bersamaan dengan terdengarnya petir yang menggelegar tadi. Lalu kami membawanya kemari dengan harapan agar kau bersedia menguburnya kembali di pekuburan Mbayong. Itulah pesan kami. Jika kau tetap berkeras, itu resikonya besar sekali” Imbuh si kakek.

setelah berkata demikian, sekonyong-konyong kedua harimau di sisinya hilang secara gaib, tanpa meninggalkan suara. Sementara kakek Mbayong beringsut mundur, lalu menutup pintu. Aku bagaikan baru terlepas dari daya pukau yang kuat. Segera membangunkan adikku, Sukamto, yang masih tertidur dengan pulas di lantai. “Ada apa kak?” serunya kemudian. “masa kau tidak mendengar pembicaraanku dengan kakek Mbayong? Coba lihat itu!” kataku sambil menunjuk mayat ayah yang terbujur di lantai. Ketika sukamto berpaling, ia langsung hendak berteriak tetapi segera dicegah. “Jangan berteriak! Itu adalah mayat ayah kita sendiri, yang dibawa kakek Mbayong kemari. Coba periksa betul-betul!” ujarku.

Setelah kesadarannya penuh, Sukamto beranjak kearah mayat ayah. Kain kafan dibuka, bau yang tidak enak tersebar semburat memenuhi ruangan. Dan secara perlahan-lahan pemuda itu mencucurkan air mata.

“Memang ayah telah menempuh jalan yang sesat” gumamnya.
“Benar, tetapi semuanya demi kebahagiaan kita” sahutku.
“Lalu apa yang dikehendaki kakek Mbayong dengan perbuatnnya ini, kak?” tanya sukamto.
“Tentu mereka menuntut agar jasad ini dikubur di pekuburan Mbayong!” jawabku.

Kisah ini dilanjutkan ke Siluman Harimau Putih (2).

loading...

Share This: