Siluman Ular Penghuni Rumah Kosong

Waktu itu saya belum punya tempat tinggal sendiri buat saya dan istri saya. Kami masih menumpang di rumah sempit milik orang tua istri saya. Masyarakat di kampung istri saya itu memang memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi. Saya bisa mudah akrab dengan mereka, baik yang tua maupun anak-anak muda. Mereka hidup rukun dan damai, saling bantu tanpa pamrih kepada siapapun yang membutuhkan bantuan.

Mereka rupanya memperhatikan kehidupan kami yang tidak punya tempat tinggal. Suatu ketika, salah seorang tokoh masyarakat yang bernama pak Sakelan di kampung itu mengajak saya berbicara empat mata. “Begini mas Deny, sebelumnya saya mohon maaf dan mohon mas Deny jangan tersinggung” katanya kepada saya, tentu saja saya kaget dan bertanya “maaf pak, apa saya ada kesalahan kepada warga di sini?”, kata saya.

loading...

“Bukan begitu maksudnya, mas Deny sama sekali tidak ada kesalahan kepada warga, tapi begini mas, sekali lagi mohon maaf, kami warga di sini ingin sekali mas Deny sekeluarga punya tempat tinggal yang agak luas, kalau di rumah Bu Jenab kan rame, banyak saudara. Sementara di kampung kita ini ada rumah kosong yang tidak ditempati, tapi keadaannya ya tidak terawat. Kami para warga menginginkan agar mas Deny sekeluarga saja yang tinggal di rumah itu. Bagaimana mas?”. Kata pak Sakelan.

Saya lega, gembira dan bercampur haru, lalu saya katakan kepada pak Sakelan “Alhamdulillah, saya sangat berterima asih kepada seluruh warga dan para pimpinan di kampung ini. Ya pak, saya akan tinggal di situ”. Mendengar jawaban saya, Pak Sakelan berbinar dan memeluk saya sambil berkata “terima kasih mas, semoga Mas Deny bisa kerasan di kampung ini, nanti kami akan gotong royong membersihkan rumah itu”, kata pak Sakelan. Saya sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi saking harunya.

Esok paginya, saya dan istri saya bersama warga kampung bergotong royong membersihkan rumah tersebut. Menjelang sore, rimbunan rumput alang-alang yang setinggi bahu yang tumbuh di sekeliling rumah sudah dipotong bersih, rumah juga sudah dikapur sehingga terlihat puth bersih, sangat nyaman terlihat. Kamipun pulang ke rumah masing-masing. Rencananya, esok hari saya dan istri saya akan pindah dari rumah mertua ke rumah kami yang baru itu.

Esok harinya, jam 6 pagi saya menengok rumah kami yang baru itu, dan ternyata sudah ada beberapa warga di depan pagar rumah. Melihat kedatangan saya, beberapa warga bergegas menghampiri saya, salah satu dari mereka berkata “kenapa bisa begini mas, ada apa ini, bukannya kemarin sudah kita bersihkan?”, katanya. “Memangnya ada apa pak?”, tanya saya heran, saya memang belum sempat melihat ke rumah karena terburu dicegat sama warga.

“Itu mas, coba lihat, rumah itu kembali seperti semula, sama seperti sebelum dibersihkan, rumput tinggi lagi, dinding kotor lagi, kenapa bisa begitu?” katanya menjelaskan. Dan benar, saat saya lihat rumah itu, ya seperti semula. Lalu saya berkata kepada mereka “tenang pak, Kalau memang Allah Yang Maha Kuasa memberikan rumah itu kepada saya, pasti ada jalan. Maklum, rumah itu sudah lama kosong”, kata saya kepada mereka.

“Terus bagaimana mas”, kata salah seorang dari mereka. “Begini pak, bapak-bapak dan warga semua tenang saja, saya hanya mohon do’a restu para warga, saya akan masuk rumah itu sendirian, jangan ada yang ikut” jawab saya. Lalu, dengan mengucap basmalah dan salam kepada para hamba Allah yang sholeh, saya masuk rumah itu, begitu sampai di dalam, muncul banyak ular memenuhi ruang tamu, lalu saya ucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW serta salam kepada Nabi Nuh Alaihissalam.

Tak berapa lama, ular-ular itu hilang entah kemana, dan tiba-tiba muncul makhluk berbadan manusia berkepala ular dan berekor seperti ular dan berkata “apa maksudmu datang ke sini?”. Sayapun menjawab dengan pertanyaan “apa maksudmu menempati rumah kami? ini adalah hak kami, bukan hak kamu, hak kamu bukan di sini. Kembalilah ke alam aslimu”. Jawab saya, lalu saya baca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, serta salam kepada Nabi Sulaiman Alaihissalam. Tak berapa lama, rumah itupun kembali bersih seperti kemarin usai kami bersihkan. Saat itu juga kami pindah dibantu warga, dan kami menempati rumah baru kami.

Share This: