Sosok Penunggu Gunung Cikuray

Ini adalah pengalamanku ketika berada di gunung cikuray karena aku memang hobi mendaki gunung, jadi waktu itu saya masih kelas 2 SMP, di Garut. Waktu itu bertepatan dengan libur panjang, saya yang memang hobi mountainering waktu itu di ajak sama sahabat-sahabat semasa kecil saya, Aep, Fahmi sama Rizal, yang punya rencana sih sebenarnya Aep sama kakaknya, kak Ismail.

Sebenernya waktu itu saya malas banget, gak pengen ikut, tapi Fahmi ngebujuk terus, ya akhirnya terpaksa saya ikut. Saya pun lalu pulang dan mempersiapkan peralatan camping ke dalam ransel. Katanya kita mau mountainering ke gunung Cikuray, jam menunjukan pukul 11 siang, kami berlima pun berangkat, tapi anehnya perasaan saya waktu itu gak enak banget, kayak bakal terjadi sesuatu yang buruk gitu.

Tapi saya gak ambil pusing dan melanjutkan perjalanan. Di dalam perjalanan, kami berlima ya bercanda-canda gitu biasalah anak muda. Sampai pas kita melewati sebuah desa dan pertanda sudah dekat dengan gerbang gunung Cikuray tersebut, tiba-tiba ada seorang kakek yang bawa iteuk (tongkat) sambil di punggungnya bawa kayu bakar gitu.

Kakek: “rek naraon jang wayah kieu ka gunung cikuray?”. (mau apa anak-anak jam segini mau ke gunung cikuray?).
Kak Ismail: “ah teu nanaon ki, ngan hoyong ameng weh da moal lami barina ge enjing ge uih deui jeung deuih barina ge da moal ka lebet gunungna. (ah gak apa-apa ki, cuman mau main saja, gak akan lama kok besok juga pulang lagi, dan gak akan masuk ke dalam gunungnya).

Kakek: “Oh, nya sok atuh, omat ulah sompral, ulah ribut teuing! Kamari ge aya nu leungit! (oh, ya sudah, ingat jangan sompral, jangan terlalu ribut, kemarin juga ada yang hilang disini).
Kak Ismail: “muhun atuh ki. Mangga ah”. (iya ki. Mari ki).

Kakek itu pun pergi, sumpah saya merinding ketika kakek itu bilang “kemarin juga ada yang hilang disini!” Jam sudah menunjukan pukul 16.00 Wib, kami pun sampai di gerbang masuk gunung Cikuray tanpa basa basi langsung saja kami bikin tenda 2 buah, yang satu di isi sama Aep, Rizal sama kakaknya Aep, yang satunya lagi di isi saya sama Fahmi.

Pukul 18.00 Wib, sudah gelap banget disana-sini hutan lagian. Dingin banget, kami pun mutusin untuk membuat api unggun. Setelah ranting terkumpul, kami pun duduk dan Fahmi main gitar. Kita pun nyanyi ramai-ramai dan sambil bakar jagung, ubi yang tadi sudah di bekal. Pas nyanyi-nyanyi tiba-tiba, “hihihi”. Terdenger suara cekikikan tertawa seorang cewek tuh dari arah gerbang. Kami pun segera merapat dan kompak melihat ke arah gerbang.

Astagfirullah haladzim. Sundel bolong! terbang kesana kemari sambil gendong bayi dan duduk di pohon dekat gerbang! Saya langsung lemas gak bisa ngapa-ngapain. Rambutnya panjang sampai ke kaki! Bajunya kumel tanah gitu. Punggungnya berdarah dan yang parah matanya itu hitam semua dan bayi yang di gendongnya ternyata mayat bayi yang kayaknya sudah busuk gitu. Saya gak bisa gerak, sumpah lemas banget.

Tiba-tiba sundel bolong itu nangis. Tangisannya pilu banget, dia mengelus-elus bayinya itu. Kami berlima gak bisa gerak, kecuali kakaknya Aep, kak Ismail, dia kelihatan lagi komat kamit gitu baca doa-doa, dan ajaibnya ketika kak Ismail lagi baca doa, kami berempat pun bisa gerak. Tanpa pikir panjang saya langsung tutup mata dan ikutan baca doa. Fahmi, Aep dan Rizal pun ikut-ikutan.

Dalam hati saya berkata “oh, paingan weh perasaan teh teu ngareunah tadi teh!” (oh pantesan saja perasaan tadi gak enak!). Gak lama kemudian saat saya buka mata, itu sundel bolong sudah gak ada. Alhamdulillah, kami berlima pun langsung memutuskan agar gak terlalu ribut dan langsung saja untuk tidur.

Saat lagi tidur tiba-tiba saya kebangun sama suara ribut, itu suaranya dari tenda Aep. Saya dan fahmi pun langsung datang ke tendanya, dan wah! Ternyata rizal kesurupan. Kami pun langsung tolongin rizal. Tapi nihil, di karenakan tenaganya kuat banget, kayaknya rizal kesurupan arwah harimau gitu.

loading...

Rizal: “rek naraon saria teh datang kadieu! Ngaganggu kami saria teh! nyingkah ti dieu siah! (mau ngapain kalian datang kesini ngeganggu kami saja pergi dari sini!).
Kak Ismail: “punten ki abi dongkap kadieu teh teu aya paniatan nanaon. Ngan hoyong ameng hungkul”. (permisi/maaf ki kami datang kesini tuh gak ada niatan apa-apa. Cuma mau main saja).
Rizal: “Saria teh ngaganggu kaum aing! Kaum aing keur ngayakeun pesta! Nyingkah ti dieu siah!” (kalian itu mengganggu kaum saya! Kaum saya lagi mengadakan pesta! Pergi dari sini!).

Tanpa pikir panjang kita pun langsung beres-beres dengan rizal yang masih kesurupan.
Rizal: “sok ku aing ayeuna di anteurkeun balik! Omat ulah kadieu deui siah!” (ayo sekarang sama saya di antarkan pulang sekarang! Ingat jangan kesini lagi!).

Kita pun menjawab “Muhun” yang artinya “iya”. Sambil kesurupan rizal tuh jalan kayak harimau dan ngantarin kita. Rizal di paling depan, di belakangnya aep, dan di belakangnya lagi fahmi yang sama saya dan kak ismail gandeng gitu karena dia lemas gitu.

Rizal: “aing teu hayang nyaho, pokona mah saumpama ti salah sahiji maraneh aya nu tinggaleun eta bakal jadi mangsa kaum kuring”. (saya gak mau tau, pokoknya seumpama salah satu dari kalian kalau ada yang tertinggal, itu akan jadi mangsa kami).

Dari situ kita pun jalan dengan cepat-cepat kayak bagong (babi) gitu. Soalnya takut ketinggalan ngikutin rizal yang jalannya cepat banget. Loncat sana loncat sini, kayak harimau yang menerkam mangsanya gitu. Sampai akhirnya, di tengah perjalanan, pas saya lihat ke depan, ke arah pohon pisang, ada makhluk di bungkus kain putih dan melihat gitu kayak mengintip kita. Ya apalagi kalau bukan pocong.

Dalam hati saya pun berkata “adeuh! Cobaan bertubi-tubi Gusti! Nyaho kieu da moal ngilu!” (haduh! Cobaan bertubi-tubi ya Allah! Tahu gini saya gak akan ikut!). Tiba-tiba rizal mengaum tuh ke arah pocong itu dan pocong itu pun menghilang dan akhirnya kita sampai di pedesaan.

Rizal: “geus tah nepi dieu!” (sudah sampai sini!) dan rizal pun langsung pingsan, gak lama kemudian ada seorang bapak pakai baju hansip gitu, terus tolongin kita, aep pun menggendong rizal tuh. Terus kita di ajak ke rumah pak RT setempat. Sesampainya di rumah pak RT kita pun langsung ceritakan kejadian tadi.

Pak RT: “bapak sudah tahu kok kejadiannya, tadi yang nganterin kalian pulang itu adalah pemimpin makhluk halus disana. Lagian salah kalian datangnya dengan jumlah ganjil. Terus saya juga tadi ngelihat ada pocong, dia itu sebenarnya semacam anak pengikutnya arwah harimau yang memimpin kalian tadi. Lagian kalau jam segini disana tuh memang kalau bapak lihat lagi mengadakan pesta gitu”.

Ternyata pak RT itu orang pintar gitu. Jadi serba tahu kejadian yang menimpa kita. Kita berlima pun di suruh menginap di rumah pak RT, besoknya kita pun pamit pulang dari gunung Cikuray itu, dan kami pun sampai dengan selamat di rumah masing-masing. Sekian kisah dariku, hatur nuhun (terima kasih) sudah membaca.

KCH

Dany

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Dany has write 2,694 posts