Stadion Sepak Bola

Sebuah stadion sepak bola standar Internasional yang berada di daerah Soreang, Bandung. Stadion sepak bola ini apabila siang hari memang terlihat cukup ramai, apalagi kalo ada jadwal pertandingan Persib. Tapi tidak jika malam hari, terutama di waktu tidak ada jadwal pertandingan. Suasana di depan stadion dan sepanjang jalur selalu sepi apalagi di atas jam 9 malam.

Namaku Hadi, kejadian ini terjadi ketika aku pulang dari rumah saudaraku di daerah padalarang. Singkat cerita, karena aku tidak membawa jas hujan aku jadi pulang larut malam. Aku terjebak hujan deras saat aku pulang dari rumah saudaraku, hujan baru agak reda sekitar jam 9.30 malam padahal saat itu aku masih berada di daerah dekat Tol Padalarang.

Aku pun segera mungkin menghidupkan motor dan langsung melaju dengan kecepatan yang tinggi. Aku buru-buru sekali karena aku sadar jarak rumahku masih jauh, karena di daerah soreang. Belum lagi aku sudah di wanti-wanti (di ingatkan) oleh orangtuaku untuk tidak terlalu pulang larut malam. Rute pulang yang aku ambil bisa terbilang sangat cepat, dibanding aku harus memutar kota Cimahi, Soekarno-Hatta dan Kopo yang kurang lebih bisa memakan waktu dua setengah jam.

Aku bisa lebih cepat sampai apabila lebih memilih lewat Batu-jajar, Cipatik dan melewati stadion itu. Motorku terus melaju dengan cepat sampai ketika aku berada di sekitar daerah Cipatik, udara yang dingin membuatku ingin membuang air kecil. Aku segera menepi di pinggir jalan di depan sebuah pom bensin. Tapi nampaknya pom bensinnya sudah tutup, setahuku pom ini tutup sampai jam 9 malam. memang jalur ini rawan dengan kriminalitas, perampokan bahkan pembunuhan.

Pikiranku benar-benar menakuti diriku agar segera mungkin cepat melaju lagi. Karena sudah tidak tahan, aku pun menepi ke pinggir jalan “Punteun (permisi) ikut buang air”. Aku pun langsung buang air kecil di pinggir jalan itu, tak peduli mau ada orang yang melihat. Lagi pula jalanan malam ini sudah sangat sepi dan ketika aku sedang buang air kecil, sayup-sayup aku mendengar ada suara anak kecil yang sedang bermain.

Tiba-tiba terdengar ada suara anak kecil yang memanggil. Aku lihat disekitar jalan yang sepi dan cukup gelap. aku pun acuhkan suara itu dan segera membereskan buang air kecil, sekarang aku bisa lagi mengemudikan motorku. Namun, saat aku coba menghidupkan motor tiba-tiba motorku tidak hidup. Aku mencoba terus dan terus tapi hasilnya nihil. Aku pun segera cek busi motor dan bensin, tapi aman-aman saja.

Terpaksa aku harus mendorong motorku sambil mendorong motor aku mencoba menelpon kakak dan untungnya dia menjawab. Aku memintanya untuk datang dan membantuku, kakak akhirnya setuju dan menanyakan posisiku dimana. Aku bilang, “aku didekat pom bensin kak, tapi tunggu-tunggu” dari jauh aku bisa melihat lampu kecil dari sebuah bangunan yang besar yang ternyata itu stadion. “Ya udah kak, saya tunggu di depan ini aja. Stadion Jalak Harupat”.

Tidak lama kemudian, ketika aku menutup telepon dan belum beberapa detik aku menutup telepon. Terdengar suara knalpot motor 2 tak, jujur saat itu sambil terus berjalan aku terus berdoa dan berharap aku dijauhkan dari mara bahaya terutama dari orang-orang iseng yang suka merampok di daerah sekitar sini. Suara knalpot itu berasal dari belakangku dan semakin lama suara itu semakin keras terdengar lalu sontak aku melihat ke arah belakang.

Tapi aku sama sekali tidak melihat cahaya lampu motor dan aku tidak melihat apa-apa. Jelas sekali suara itu benar-benar nyata, aku coba mempercepat jalanku sambil mencoba kembali menghidupkan motorku. Aku mulai panik jangan-jangan itu memang benar tukang Begal atau Perampok. Astaga, suara motor itu seolah-olah sudah melewatiku yang sedang berjalan. Tapi, aku sama sekali tidak melihat apa-apa. Bulu kuduk tiba-tiba berdiri, seketika suasana pun menjadi hening. hanya ada bunyi serangga malam dan angin yang berhembus.

Aku yakin dan sangat yakin dari sejak aku buang air kecil aku tidak melihat kendaraan yang lewat. Aku coba melihat ke belakang, ke samping kiri, kanan tapi sama sekali tidak ada siapa-siapa. Yang ada hanya sawah dan pohon-pohon yang besar. Ya Tuhan, ingin segera aku bertemu kakak dan segera pulang ke rumah. Aku melihat jam sudah hampir menunjukan 11 malam. Aneh, tak lama kemudian langkahku agak melambat.

Aku melihat ada sosok orang dari kejauhan, aku rasa itu adalah seorang petani. Petani itu berjalan satu arah denganku. Saat aku perhatikan, petani itu nampaknya seorang laki-laki agak tua karena aku bisa melihat dari cara berjalannya sedikit tergopoh-gopoh seperti seorang kakek. Aku mencoba segera mendekatinya yang berada cukup jauh dariku, agar aku ada teman juga di dalam perjalanan yang sepi ini. Tapi tiba-tiba saja petani itu berjalan menuju tengah-tengah jalan raya.

Hati kecilku berkata “Bapak ini karena jalanan kosong, jalannya pake ditengah-tengah jalan raya lagi”. Tiba-tiba aku mendengar suara motor yang barusan aku dengar, terdengar suaranya berasal dari arah depanku. Petani yang berada didepanku nampaknya santai dan seperti tidak peduli dengan suara motor yang cukup keras itu padahal dia berada di tengah jalan. sekilas dari jauh aku mulai melihat cahaya lampu motor yang mulai menyorot kedua mataku.

Aku panik, motor itu terlihat melaju sangat kencang dan akan segera menabrak petani itu. Aku mencoba menyuruh petani itu ke pinggir sambil berteriak. “Pak, awas ada motor pak. awas ketabrak pak”. Akan tetapi petani itu terlihat tenang. Sampai akhirnya motor tersebut menembus kakek petani itu. Jantungku berdebar semakin kencang, aku masih terdiam dan sosok petani itu sekarang masih berjalan santai sambil menuju kios kecil yang sudah tutup.

Rasanya nafasku sudah tidak kuat sampai akhirnya pengendara motor yang baru saja menembus petani itu memutar balik kendaraannya dan nampaknya aku kenal. Sepertinya itu kakak, nafasku yang tidak beraturan nampaknya mulai tenang karena akhirnya kakak datang. Aku segera melambaikan tangan kepada kakak dan kembali melihat ke arah kios itu. Tidak lama aku pun merasa kakak sudah berada dibelakangku lalu menyuruhku naik kendaraan dan motorku langsung di step dari belakang.

Aku mulai tenang, tapi ada satu hal yang benar-benar membuatku lupa. Yang aku tau motor kakak itu 4 tak, tapi yang mendorong dengan step di belakangku ini adalah motor 2 tak. Aku mencoba berpikir positif, mungkin kakak sedang meminjam motor tetangga. Aku mencoba mengatur nafas kembali, motorku yang pelan-pelan di step dari belakang tiba-tiba saja berhenti tepat di seberang stadion. Aku yang keheranan mencoba melihat ke arah kakak.

Mungkin kakak ingin tukar posisi, tapi saat aku akan melihat ke arah belakang. Sontak aku langsung dikagetkan dengan suara benda keras yang memantul. Aku melihat ada benda bulat menabrak ban depanku. Aku respon melihat benda apa yang menabrak tadi, saat aku mencari tahu benda apa itu aku mendengar suara anak kecil yang sedang memanggilku. Terdengar suara anak kecil yang menyuruhku mengambil bola, aku reflek mencari arah suara anak kecil tersebut.

loading...

Kepalaku mondar-mandir kiri, kanan sampai aku melihat ke arah belakang tiba-tiba aku melihat sosok pengendara motor yang aku kira kakak menjadi berubah sosok yang menyeramkan. Sosok itu mengenakan jaket kulit dan helm, celana jeans yang sudah robek lalu sosok itu tidak berkepala dan dia membuatku tidak bisa bergerak. Sosok itu sedang membawa seorang anak kecil yang sedang mengenakan kostum sepak bola berwarna biru dan dengan mukanya yang hancur.

Anak itu tidak memiliki kedua tangan, dengan muka yang pucat dan senyum mengerikan anak kecil itu berkata. “Aa pang nyokotkeun bola na Aa (kak tolong ambilkan bolanya kak)”. Kontan aku melihat sekitar dan ketika aku melihat ke arah kaki kananku. Astaga, ternyata itu bukan bola. melainkan sebuah kepala yang sangat mengerikan sambil menyeringai kepadaku. Dengan tatapan yang tajam dan nampaknya salah satu matanya agak sedikit menonjol keluar.

Dari hidungnya keluar darah, bulu kuduk merinding saat itu juga. ingin rasanya aku menjatuhkan motorku dan berlari. Sampai akhirnya aku mendengar ada suara kakek yang berkata. “Indit sia, tong ngaganggu. indit sia (Pergi Kamu, jangan ganggu. Pergi kamu)”. Sosok itu perlahan mulai membuyar dan akhirnya menghilang, Aku sepertinya kenal orang tadi yang mengusir mahluk itu. Suara itu adalah kakek petani yang aku sangka adalah hantu.

dia dengan sigap menyuruhku beristigfar dan menyuruhku berdoa. Perasaanku agak membaik, aku melihat kakek itu dan dia menyuruhku untuk menghidupkan motorku dan ternyata motorku menyala. Aku sedikit kebingungan, tapi aku sudah tidak mau berpikir apa-apa lagi. Aku langsung berterima kasih kepada bapak itu dan dia memintaku untuk tinggal di kios miliknya sebentar. Yang berada tidak jauh dari stadion. Sampailah aku di kios miliknya, disana ada istrinya yang sudah tua dan langsung menyambutku sambil memberiku air minum.

Aku diam sementara di kios itu sambil menunggu datangnya kakak yang menjemput dan disana aku diberitahu oleh kakek petani itu. Kalo melewati jalur ini, jangan terlalu malam. Selain bahaya jalur ini memang angker, sosok yang baru saja aku lihat merupakan arwah pengendara motor yang mengalami kecelakaan sampai bagian kepalanya terlindas oleh ban.

Serta anak kecil yang barusan aku lihat adalah anak kecil yang meninggal karena ditabrak oleh mobil ketika dia akan mengambil bola yang jatuh ke tengah jalan. Sejak saat itu aku tidak ingin lagi melewati daerah itu di atas jam 9 malam. Dan satu lagi, janganlah membuang air kecil sembarangan walaupun kita sudah meminta ijin karena mereka tidak akan mengerti bahasa dan apa yang kita maksud.

Share This: