Suara di Atas Pohon

Kisah ini aku alami sendiri bersama teman-teman sepermainan. Kejadiannya sudah bertahun-tahun lalu ketika aku masih SD (entah kelas berapa aku lupa karena sudah sangat lama). Berawal saat aku bersama 2 temanku yaitu Tutut dan Wulan berkumpul untuk bermain sekitar ba’da magrib. Biasanya sih kami berkumpul 4 orang, tapi saat itu salah satu teman kami yang bernama Mia tidak datang.

Kami berkumpul di rumahku, karena bosan dan bingung mau main apa akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke rumah Mia. Sesampainya di rumah Mia kami asyik mengobrol ria, mulai dari membicarakan teman yang lain, tetangga sampai membicarakan soal pacar *hehe. Namanya anak kecil pasti lah cinta nyemot eh monyet. Kami ngobrol ngalor ngidul gak jelas sampai tak terasa waktu menunjukkan pukul 20.00 di jam dinding rumah Mia.

Karena takut di cari orang tua, kami pun pamit pulang. Untuk informasi jarak rumahku ke rumah Mia sekitar 150 meter, di tambah lagi ada satu bagian jalan dimana kanan kirinya adalah sawah dan kebun kosong yang gelap dan terkenal angker. Kami berjalan beriringan dan berhimpitan saat melewati kebun kosong. Tidak jauh dari kebun kosong itu di sisi kanan kiri jalan terdapat buk (tempat duduk yang terbuat dari semen) yang berwarna merah, kami biasa menyebutnya buk abang (buk merah).

Buk merah yang berada di kanan jalan terdapat sebuah pohon trembesi yang lumayan besar. Saat kami melewatinya tiba-tiba *argh seketika kami bertiga yang tadinya berjalan berhimpitan langsung lari kocar kacir secepat mungkin sambil berteriak gak karuan *waa. “Mbak enteni aku (Mbak tunggu aku)” teriak Wulan. “Ayo cepat!” teriak Tutut. Sesampainya di halaman rumahku kami ngos-ngosan sampai terbatuk-batuk karena kehabisan nafas saat berlari dan berteriak.

“Suorone opo iku maeng? (Suara apa itu tadi?)” tanya Wulan. “Embuh, ya Allah aku wedi (entah, ya Allah aku takut)” jawab Tutut. Kemudian kami tertawa saat mengingat teman kami Wulan yang nyaris tertinggal, karena di antara kami Wulan lah yang tubuhnya paling subur alias gemuk. Keesokan harinya saat aku duduk di teras, salah satu tetanggaku yang masih saudara dengan keluargaku datang ke rumah mencari bapak.

Saat melihatku dia tertawa dan bertanya “Kon wingi lapo mlayu karo bengok-bengok ndek buk abang? (Kamu kemarin kenapa lari sambil teriak-teriak di buk merah?)”. Aku heran, kenapa dia bisa tahu. “Lho kok sampean weruh? Iyo ndek wit trembesi wingi onok suoro *argh (lho kok kamu tahu? Iya di pohon trembesi kemarin ada suara *argh)” jawabku.

Dia semakin tertawa dan berkata “G*bl*k! padahal iku aku singitan ndek ndukur wit trembesi *haha (g*bl*k! padahal itu aku sembunyi di atas pohon trembesi *haha)”. Akhirnya kami tertawa bersama dan besoknya aku ceritakan hal itu pada Tutut dan Wulan. Ini pengalaman konyol dan lucu yang pernah aku alami.

loading...

astri mustika weni

All post by:

astri mustika weni has write 25 posts

loading...