Suara Misterius di Balik Pohon Bambu

Masa kecil memang menyenangkan di era 1990 an. Belum ada aneka media permainan canggih seperti zaman sekarang. Saya dwi di usia 8 tahun silam yang masih SD kelas 3 di kelurahan Simbarwaringin. Entah kenapa nama kelurahan itu Simbarwaringin (si kembar pohon ringin). Ah sudahlah, menambah mistis pula memikirkannya. Lain waktu saja menjelaskannya.

Sebut saja siti kakak sepupuku. Rumahnya agak jauh dari rumahku, hanya beda gang yang di pisahkan oleh jalan utama. Saat itu dia masih kelas 6 SD. Setiap hari bahkan mungkin siang malam selalu bersama. Hari itu amat sangat terik sinar mentari. Alangkah segar jika memakan buah mangga yang ranum dan menggoda aromanya. Namun kita tidak punya pohon mangga.

Ide mba siti pun mulai terang. “Ini kan lagi musim mangga, kita nyari di kebun orang yuk?” ajaknya sedikit memaksa. Lalu ku iyakan ajakannya, karena pohon pertama berada di kebun depan rumahku. Pohon mangga di desa saya sangat besar, sehingga tidak bisa di panjat. Kadang Anak-anak di area desa kami sering menunggu angin kencang jika beruntung memperoleh mangga incarannya.

Hari itu hanya kami berdua di pohon pertama. Walaupun barusan ada angin lewat, tapi tidak ada satu pun buah yang jatuh. Alhasil kami pindah ke kebun lain yang ada pohon mangganya. Tapi kebun kedua ini lebih terkenal angker katanya. Walaupun sama-sama dekat pohon bambu, namun suasana kebun kedua lebih mencekam. Bagaimana tidak, karena bertempat di pinggir perkampungan.

Itu sebabnya saya tidak mau di ajak ke sana. Namun mba siti tetap *kekeh memaksa. Akhirnya perjanjian pun di mulai. “Baiklah, aku ikut, tapi aku tidak mau mencari mangga” kataku memelas. “Ya sudah, kamu cuman ngantarin aku saja, aku yang nyari, tapi kalau dapat aku yang makan juga” kata mba siti. Akhirnya kita berdua berangkat ke pohon 2.

Di sana pohonnya lebih besar dan tinggi, namun buahnya agak lumayan banyak. Namun di kebun ini lebih banyak sampah daun dan panas matahari tidak tembus, mungkin karena lebih banyak pepohonan dan rimbun. Serta jarang terjamah manusia kecuali di musim kemarau panjang tanpa mata air di sumur warga. Waktu sudah mulai sore pikirku, sekali-kali aku merengek untuk segera pulang. Karena hawa dingin sudah kurasakan.

Tapi malah aku dibentak “tunggu sebentar, itu tuh ada angin, siap-siap dapat, kamu tunggu saja di situ atau gak sini bantuin nyari” pintanya. Sedari tadi aku cuma duduk jongkok memandang mba siti yang sedang sibuk mencari, akhirnya aku bangun dan mendekatinya. Tiba-tiba ada orang lewat, mba siti pura-pura tidak mencari apa-apa. Akhirnya aku pindah tempat ke arah lain yang di lewati orang tadi muncul. Lalu aku diam mematung karena hawa sunyi sepi tiba-tiba melanda.

Lalu saya memanggil-manggil mba siti dengan gaya berbisik-bisik. “*Sstt mba, ayo cepat pulang mba” kataku merengek lagi. Tapi kali ini dia acuh bahkan sepertinya tidak mendengarku dengan tatapan sedikit kosong. Lalu aku mulai sedikit panik, ku keraskan suaraku untuk memanggilnya lagi. Tiba-tiba rimbunan pohon bambu yang dekat dengan kami seperti tertepa angin, dan di balik pohon bambu itu terdengar suara nyaring melengking irama tawa panjang.

Akhirnya kami berdua lari ke arah belakangku berdiri, dan masuk ke perkampungan. Agak jauh dari sana dan panas matahari sudah kami rasakan. Kami sudah kelelahan lalu berhenti sejenak, tapi teror belum berakhir, tiba-tiba ada benda mengerikan melayang ke arah kami dan jatuh tepat di depan kami. Itu seperti boneka yang sangat seram, matanya melotot berbaju merah.

Dan *argh tanpa mengamati lebih lama kami pun lari tanpa henti. Tidak peduli siapa yang tertinggal, tapi anehnya kami lari sangat cepat sampai ke rumah kakek. Kami panggil-panggil seisi rumah tidak ada orang, kami mulai cemas. Tapi pintu tidak di kunci, akhirnya kami masuk dengan perasaan lega dan lelah. Nafas masih terengah-engah akhirnya kami mengambil minum bareng.

Lalu kembali ke ruang depan dan bercerita sambil saling menyalahkan. “Kamu sih ribut terus, jadinya kita di kejar” kata mba siti, tak mau disalahkan. “Mba sendiri minta cari mangga di kebun itu, sudah tau angker, masih *ngeyel, lagian ngapain dari tadi ku panggil-panggil gak jawab” kataku menyalahkan balik. Kata dia tidak dengar aku, dia cuma dengar orang ketawa.

Lalu kami membahas apa tadi yang melayang ke arah kita. Tapi mba siti sudah gak mau bahas dan hanya bilang “ah itu hanya mainan saja” kata dia. Tapi aku *kekeh itu bukan mainan orang biasa. “Mana ada yang mau mainan jelek seperti itu” kataku ngotot. Tapi dia tidak menjawab dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Lalu kami terheran melihat jam dinding. “Lho kok masih siang padahal tadi berasa sudah maghrib” kataku, bahwa jam masih menunjukan pukul 2.30 sore.

Walau sedikit heran tapi senang karena tidak kesorean main, hingga tidak di marah ortu dirumah. Kami pun pulang sambil bercanda. “Awas itu dia di belakangmu” kata mba siti sambil berlari. Aku pun tak mau kalah lari sambil mengejarnya dan hingga saat ini aku belum bisa melupakan kejadian itu. Hingga mba siti nampaknya sudah tidak berminat lagi mencari mangga hingga dia sekolah di pondok pesantren Jawa Timur, sekian.

loading...
loading...