Suara Rintik Hujan

Suatu malam hujan turun dengan sangat deras. Ketika itu kami tiba di sebuah tempat, dan saya memberhentikan mobilku di depan sebuah terowongan, memarkirnya sementara di sana. Saya dan temanku memang pernah mendengar rumor dan urban legend yang mengatakan bahwa tempat ini berhantu. Konon jika kamu memarkirkan mobilmu di sekitar terowongan di malam hari, kejadian aneh akan menimpamu. Kami berniat menguji keberanian kami, sekaligus memastikan keberadaan rumor tersebut.

Suasana mencekam dan mengerikan sangat terasa di sini. Tempatnya sangat sunyi dan tidak banyak kendaraan yang melintasinya. Ini bukanlah tempat berhantu yang ingin kau kunjungi. Setelah beberapa saat, saya menyalakan mobilku kembali dan mengendarainya pelan-pelan masuk ke dalam terowongan yang ada di sini. Ini pertama kalinya saya melakukan hal seperti ini, dan mengalami perasaan yang cukup aneh seperti merasa tegang dan takut. Walau begitu, temanku hanya senyam-senyum seperti anak-anak yang sedang berada di taman bermain.

Kami melaju dengan sangat pelan, berharap ada sesuatu yang terjadi. Tapi ketika kami tiba di ujung terowongan, tidak satu pun kejadian yang berhubungan dengan supranatural terjadi. Temanku kecewa. Dia kemudian memandang keluar jendela, dan memperhatikan tembok-tembok terowongan itu. “Ayo, kita putar sekali lagi.” kataku. Temanku pun menyetujuinya dan saya langsung melakukan putaran U di ujung terowongan itu.

Sekali lagi, kami tidak menemukan sesuatu yang cukup aneh. Kami pulang-pergi beberapa kali sebelum akhirnya kami bosan. Rintik hujan di atas atap mobil kami juga mulai mengganggu. Setelah sekitar tiga atau empat kali putaran, temanku kemudian berkata. “Ayo teman, kita pulang saja.” Saya rasa dia benar, setelah semuanya membosankan. Tapi ada sesuatu yang aneh dengan nada suaranya barusan. Tepat sebelum kami keluar di terowongan, saya memberhentikan mobilku dan memandang ke samping di mana temanku duduk.

loading...

Saya kemudian menyadari bahwa temanku, yang tadi mengatakan itu tengah gemetaran seolah merasakan kedinginan yang teramat sangat. Saya sangat terkejut melihat keadaannya.

“Kamu kenapa?” tanyaku. “Apa kamu melihat sesuatu?”.
“Keluar saja dari sini.” jawabnya, dengan tangan yang bergetar.

Curah hujan makin deras dan semakin keras. Rintikannya menghantam mobilku cukup keras dan suaranya sangat berisik. Saya kemudian memutuskan untuk mencari tempat lain di mana kami bisa turun dan beristirahat sejenak. Kami melaju keluar dari terowongan itu dan menuju ke jalan yang besar. Ada sebuah rumah makan di tepi jalan itu, jadi saya masuk ke tempat parkirnya dan memberhentikan mobilku di sana. Temanku yang tadi gemetaran kini akhirnya bisa tenang.

“Baik” kataku. “Sekarang kamu bisa beritahu apa yang kamu lihat?”.
“Apa kamu tidak dengar?” balasnya, dengan terheran-heran.
“Apa?” kataku. “Apakah ada suara misterius? Bunyi-bunyi yang aneh, begitu?”.

Saya benar-benar tidak tahu apa yang dimaksudnya.

“Saya tidak dengar apa pun kecuali suara berisik dari hujan ini.” timpalku.
“Jadi kamu mendengarnya!” katanya dengan nada yang agak tinggi. Dia duduk di depanku dan matanya mulai melebar. “Bilang saja ada apa,” kataku mulai kesal. “Apa yang harusnya kudengar?”. Setelah beberapa saat terdiam, dia akhirnya membuka mulutnya. “Hujan itu,” katanya. “Suara rintik hujan”.

Share This: