Sukmaku Terpenjara di Lubang Kuburan

Namaku Ria, aku hidup bersama suami dan anak semata wayangku, sebenarnya aku memiliki dua orang anak, yang satunya telah meninggal dunia saat dalam kandungan, nama anak semata wayangku Kia, Kia sosok anak perempuan yang manis juga sangat manja. Selama aku hidup berumah tangga dengan suami sudah sangat terbiasa aku mengalami apa itu yang di namakan manis, asam, pahit, getir dalam hidup berumah tangga.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun, anakku sudah menjadi gadis remaja yang usianya kini beranjak 19 tahun. Kehidupan berumah tangga yang aku lalui selalu mengimbangi dengan kesabaran dan juga keikhlasan yang ku miliki, aku sangat bahagia memiliki anak perempuan yang diberikan Tuhan kepadaku.

Saat aku sendiri duduk dalam lamunanku, aku mulai merasakan keanehan-keanehan yang menimpaku, aku sering sekali melihat makhluk-makhluk gaib di rumahku, pocong, kepala buntung, kuntilanak, genderuwo dan seterusnya. Sering aku rasakan sakit di ubun-ubun kepalaku, seperti ada yang sebuah benda yang tertancap tepat di tengah di kepalaku, kedua kakiku pun seperti banyak sekali paku-paku yang tertancap. Tetapi tidak aku hiraukan selama ini.

Saat kembali aku rasakan hal yang aneh di dalam tubuhku, aku mulai sering sakit-sakitan, kepalaku rasanya mau pecah dan badanku selalu demam tinggi. Tiap malam rabu dan malam jumat saat tengah malam, selalu datang sesosok perempuan seperti seorang putri berpakaian hijau dengan para punggawanya. Kedatanganya selalu di iringi angin yang kencang dalam sekejap ruangan kamar menjadi sangat dingin dan hening.

Hari pun berlalu semakin hari aku semakin membenci suamiku sendiri, tiap pulang kerja suamiku selalu dalam keadaan mabuk, itu yang buat aku sangat terpukul menjalani hidup dengan seorang suami yang pecandu minuman keras. Saat aku masih bekerja, kesehatanku semakin memburuk, pekerjaanku pun semakin terbengkalai, aku selalu minta ijin kepada bos untuk tidak bekerja seperti biasanya. Bos Chinese aku kebetulan baik sekali terhadapku, aku dapat rasakan bahwa bos mengetahui apa yang sedang aku alami. Bos juga termasuk orang yang mempunyai kemampuan supranatural. Berapa pun aku meminjam uang pasti di berikan bos, dan dia selalu bilang “tak perlu di anti uangnya untuk kamu berobat saja Ria”.

Sudah bertahun-tahun aku berobat. Hasilnya hanya nihil. Aku pun tidak putus asa untuk sembuh dari penyakit yang aku derita selama ini. Sudah ku datangi tempat perobatan dari dokter, dukun, ustad, kiyai sakit yang ku derita pun belum kunjung sembuh. Aku berdoa dalam sakitku “ya Allah Tuhan pemilik alam semesta ini, angkatlah penyakitku ampunilah dosa-dosaku juga dosa suamiku. Bawalah aku kepadaMu bila Engkau ridho kepadaku”.

Beberapa hari kemudian aku kedatangan tamu, kebetulan tamu tersebut saudaraku sendiri yang bernama Sabri. Sabri datang dengan istri juga anaknya, Sabri mempunyai istri yang bernama Siti Fatimah dan anak perempuannya bernama Bilqis Nurrul Fadhilah. Syukur Alhamdulillah kedatangan mereka membawa angin segar di kehidupanku, dari perantara Sabri lah aku sembuh dari kejahatan sihir yang selama ini menimpaku.

“Assalamu’alaikum” terdengar suara Sabri dan istrinya memberi salam dibalik pintu rumahku.
“Wa’alaikum Sallam, eh ada tamu masuk-masuk bri, cantiknya istri kamu bri”. Aku pun membalas salam Sabri.
“Biasa saja Ria, nanti Fatimah melayang tuh dapat pujian dari kamu *haha”.
“Ini siapa yang cantik manis juga, sini cantik sama Tante jangan malu-malu”.
“Itu anak ku Ria, oh dia kenapa wajah kamu pucat seperti kurang sehat kamu Ria”.
“Iya bri, aku lagi kurang sehat sudah lama juga gak kerja-kerja”.
“Nanti malam ikut aku ya, seperti ada yang aneh dalam tubuhmu Ria”.
“Iya bri aku tunggu nanti di rumah, oh iya sampai lupa sediakan minum sama tamu”.
“Gak apa Ria, kami gak lama kok” ucap istri sabri.

Sabri dan istrinya pamit pulang, badanku mulai menggigil kepalaku mulai kumat, sakit sekali rasanya. Sehabis maghrib aku gak menunggu Sabri datang ke rumahku, aku langsung datang ke rumah sabri. Sesampai di rumah Sabri, Sabri bilang kepadaku akan membawa aku pergi ke rumah gurunya, untuk mengobati penyakitku. Rumah gurunya Sabri ternyata tidak jauh dari rumahku juga rumah Sabri, tetapi rumah gurunya Sabri terpencil, tidak mudah orang yang mencarinya. Sesampai di rumah gurunya Sabri, aku dan Sabri memberi salam, keluarlah istri gurunya Sabri yang biasa di panggil dengan sebutan Nyi.

“Nak silahkan kalian minum dan makan kue ini, sambil menunggu Ki Ahmad pulang dari masjid”.
“Baik Nyi” ucap aku dan Sabri.

Sambil menunggu Ki Ahmad datang aku melihat-lihat rumah gurunya Sabri yang kecil dan sederhana, anehnya rumah ini terasa adem, nyaman, damai dan tentram.

“Assalamualaikum”.

Terdengar suara orang yang memberi salam dari luar pintu, dan ternyata suara itu suara Ki Ahmad. Sabri dan aku menjawab salam Ki Ahmad yang sudah berdiri di depan pintu.

“Oh rupanya ada tamu, kamu bri ada apa ini?” sapa Ki Ahmad.
“Iya Ki maaf ganggu Ki” ucap Sabri.
“Aku sudah tahu maksud kamu mencari aku, Sabri *hehe”.
“Iya Ki, maaf Ki tolong saudaraku yang sedang sakit Ki, namanya Ria”.
“Ria sakit kamu cukup serius, karena sudah bertahun-tahun lamanya, kamu terkena sihir”.
“Iya benar Ki, aku merasa aneh dengan penyakit yang ku derita ini, aku merasakan kalau aku terkena santet”.
“Orang yang mengirim santet sama kamu, sebenarnya orang dekat juga, Allaahu’alaam nanti kita lihat saja keadilan Allah”.
“Jujur Ki, kalau aku merasakan santet dan pelet ini kiriman dari mertua juga suamiku sendiri. Itu yang selalu ada dalam bayang-bayangku selama ini Ki.
“Coba kamu kesini Ria, saya pijat kepalamu, bagaimana kepalamu terasa gak mau pecah, ada sebuah keris tertancap di kepalamu hampir tembus ke dalam tenggorokan”.
“Astaghfirullaahal’adziim, pantas selama bertahun-tahun kepalaku sakit Ki”.

Ki Ahmad pun membaca doa, tak lama kemudian dalam penglihatanku muncul secara tiba-tiba 4 orang Syaikh yang sedang duduk berdampingan dengan Ki Ahmad. Aku berdiam diri dan membaca beristighfar berulang-ulang di dalam hati. Kulihat Ki Ahmad mulai marah dengan makhluk gaib yang telah lama bersarang di tubuhku.

“Hai kau laknatullaah keluarlah dari tubuh Ria. Bila kau tak mau keluar juga, akan aku penjarakan kau di tengah-tengah lautan”.
“Ampun Kiyai, aku akan keluar dari tubuh Ria. Aku mohon dengan Kiyai selamatkan aku, bila aku keluar dari tubuh Ria, aku akan di bunuh oleh tuanku sendiri, dialah orang yang menyuruh aku membunuh Ria secara perlahan-lahan”.
“Aku akan melindungimu bila kau mau bertobat dan mengucap syahadat” ucap Ki Ahmad tegas kepada makhluk gaib itu.
“Baik Kiyai aku berjanji bertobat dan mengucap syahadat, asyhaduallaah ilaaha ilallaah wa asyhaduanna Muhammadar Rasulullaah”.

Setelah membaca kalimah syahadat makhluk gaib itu pun terbang melesat dan menghilang, dari pandangan aku dan Kiyai Ahmad. Kuperhatikan Sabri hanya duduk diam membaca tasbih dzikirnya untuk membantu Ki Ahmad. Lalu Ki Ahmad segera mendekatiku dan memijat kedua betisku sambil membacakan doa-doa, aku rasakan sakitnya sungguh luar biasa di kedua betis kakiku, aku pun menjerit keras menahan rasa sakitnya saat itu.

Aku perhatikan kedua betisku seperti gosong menghitam setelah selesai Ki Ahmad memijatku. Aku di berikan air yang sudah di rapalkan asma doa oleh Ki Ahmad. Badanku terasa segar sekali setelah minum air doa itu. Lalu Ki Ahmad menjelaskan semua penyakit sihir yang selama ini aku derita.

“Ria penyakitmu perlahan akan sembuh insya Allah, selama ini sukmamu di ikatkan oleh almarhumah ibu mertuamu yang sudah lama meninggal dunia”.
“Astaghfirullaahal adzim, benar Ki pantas setiap malam saya bermimpi, terasa berada di dalam penjara, tetapi suasana di mimpi itu aku seperti di dalam sebuah istana yang tak ada pintunya sama sekali dan aku juga melihat ada sepucuk bunga yang di lilitkan ketubuhku di dalam mimpi itu Ki”.

“Iya benar Ria, itu sukmamu yang telah di penjarakan disana oleh orang yang jahat sama kamu selama ini, nanti mereka akan dapat balasannya sendiri, ya sudah kamu dan Sabri pulang saja sudah malam. Seminggu sekali boleh kamu main kesini untuk melihat perubahan sakitmu”.

loading...

“Baik Ki” ucapku.
“Kami pamit ya Ki” ucapku dan Sabri serentak.
“Oh iya. Jangan lupa shalat malam bri”.
“Baik insyaAllah Ki, kami pamit ya Ki, assalamualaikum” Salam Sabri kepada Ki Ahmad.
“Wa’alaikum sallam” balas Ki Ahmad.

Aku pun pulang di antar Sabri, aku sangat terharu dan meneteskan air mata. Selama ini Sabri yang aku pikir acuh terhadapku, ternyata dia sangat baik dan simpati akan musibah yang menimpaku. Saudara-saudara kandungku saja selama ini gak peduli akan penyakit yang aku derita. Aku menangis malam itu di pinggir jalan, Sabri menenangkanku dan mengingatkanku untuk terus bersabar.

Esok malamnya aku kembali di antar Sabri untuk menemui Ki Ahmad, sampai sakit yang aku derita ini sembuh secara total. Sesampai di rumah Ki Ahmad, seperti biasa Ki Ahmad memeriksa gangguan sihir yang ada pada diriku, sudah mulai hilang atau masih melekat di tubuhku.

“Kamu harus rajin shalat malam Ria, untuk kesembuhan penyakitmu sendiri. Nanti saya akan berikan amalan doanya” nasehat Ki Ahmad kepada Ria.
“Iya Ki. Aku jadi malu Ki, aku jarang shalat Ki suamiku pun juga gak pernah shalat sama Ki”.
“Astaghfirullaahal adziim, ya sudah mulai dari sekarang kamu harus rajin shalat untuk kesembuhan penyakitmu sendiri” ucap Ki Ahmad kepada Ria.
“Baik Ki. Oh iya Ki semalam aku bermimpi kepala suamiku kesakitan dan teriak-teriak seperti orang gila” ucap Ria.
“Aku gak tahu apa yang akan terjadi terhadap suamimu, siapa yang menanam benih kejahatan dia pula yang akan memulainya” tegas Ki Ahmad.
“Aduh seram juga Ki mendengarnya, apa suami Ria nanti akan menjadi gila, atau?” sahut Sabri.
“Aku gak sudah gak mau perduli lagi bri, dengan suamiku mau menjadi gila atau mati! Apapun itu yang ada di pikiranmu saat ini bri” ucap Ria kesal.
“Astaghfirullaahal adziim. Sudah sudah Ria *haha, bagaimanapun dia suamimu, biarlah Allah yang memberi keadilan atas suamimu” nasehat Ki Ahmad kepada Ria.

“Waktu di desa suamiku sering sekali rambutku di sisirkan oleh ibu mertuaku Ki. Mungkin helaian rambutku yang rontok di simpan ibu mertuaku untuk menyantet aku. Aku merasakan kalau aku akan di jadikan tumbal oleh keluarga suamiku. Entah pesugihan apa yang mereka pakai Ki, mereka semua kejam sampai-sampai anak keduaku raib dalam kandunganku di desa suami waktu itu Ki”.

“Ya sudah sabar dan tabah Ria, beristighfar lah selalu ingat Allah”.

Hari pun berlalu aku menjalani hidup seperti biasa, hari-hariku perhatikan suamiku seperti orang yang kebingungan tingkah lakunya. Penyakit sihir yang ku derita sudah mulai sirna, Sabri bilang wajahku sudah mulai ceria dan bersinar, kemarin Sabri mengatakan kalau wajahku pucat pasi seperti mayit.

Tiap malam aku di datangi makhluk-makhluk halus yang beragam-ragam bentuknya, mereka seperti tidak senang aku shalat dan berdzikir di rumahku. Saat aku mau pergi ke kamar mandi aku melihat sesosok kuntilanak menampakan wajahnya lalu. Begitulah setiap harinya aku selalu melihat penampakan makhluk halus sepertinya mata batin aku terbuka dengan sendirinya. Siang harinya Sabri datang ke rumahku beserta istri dan juga anaknya. Sabri menanyakan keadaanku saat itu.

“Assallaamu’alaikum” salam sabri dan istrinya.
“Wa’alaikum salam, silahkan masuk bri, Fatimah” balasku.
“Aku kesini cuma mau mengingatkan kamu Ria, nanti malam, malam terakhir kamu berobat ke rumah guru ku Ki Ahmad”.
“Iya, bri nanti malam kita pergi ke rumah Ki Ahmad, oh iya kalian mau minum apa nih, bri, Fatimah?”.
“Gak usah repot-repot Ria, aku sama abang Sabri gak lama kok. Biasa abang mah gak betahan lama-lama orangnya” sahut Fatimah istri Sabri.
“Oh iya, semalam aku bermimpi, aku mendengar kamu mengaji bri, suaranya samar-samar dari kejauhan lalu barulah terdengar dengan jelas dan sangat merdu sekali masuk ke dalam celah jeruji penjara dan dinding-dinding penjara di dalam mimpiku bri”.
“Masya Allah, apa iya Ria?” Sabri penuh keheranan.
“Ya sudah kami pamit dulu ya Ria” ucap Sabri dengan singkat.
“Baiklah kalau begitu bri” balasku kepada Sabri.

Malam harinya aku dan Sabri bergegas pergi ke rumah Ki Ahmad. Kebetulan Ki Ahmad sedang santai duduk di kursi sambil menghisap rokok kreteknya di mulut.

“Assalamu’alaikum” ucap salam kami berdua.
“Wa’alaikum salam wr, wb, masuk Sabri, Ria, silahkan duduk” sambut Ki Ahmad kepada kami.
“Ki bagaimana selanjutnya masalah Ria?” tanya Sabri.
“Ria sudah baikan, sebentar lagi akan sembuh bri, kamu tenang saja iya”.
“Ki aku bermimpi aku keluar dari penjara lalu aku menemukan pintu keluar di istana itu, benar Ki di dalam penjara itu tubuhku di lilitkan dengan bunga, aku kurang amati bunga apa yang kulihat di mimpiku itu Ki”.

“Sukmamu di penjarakan oleh manusia-manusia jahat itu Ria, ya sudahlah berarti sekarang kamu sudah bebas dari kejahatan sihir-sihir mereka Ria, pergilah pulang aku selalu pantau kamu dari kejauhan” tegas Ki Ahmad kepada Ria.
“Baiklah kalau begitu Ki, kami berdua pamit pulang ya Ki” ucap Sabri singkat.

Aku pun pulang bersama Sabri. Esok harinya ku lalui hari-hariku secara normal. Tidak adalagi rasa sakit yang menggerogoti dalam tubuhku. Hari pun berganti suamiku mulai sakit-sakitan dan harus segera di rawat di rumah sakit. Waktu itu dokter memeriksa keadaan suamiku, pemeriksaan dokter menyatakan bahwa suamiku terkena penyakit liver. Dan harus di rawat beberapa hari di rumah sakit secara intensif.

Aku pun menginap di rumah sakit untuk menemani suamiku yang sedang terkena penyakit liver, sedih bercampur pilu perasaanku saat itu di ruang kamar rumah sakit. Benar yang di katakan Ki Ahmad “siapa yang menanam benih dia sendiri yang akan menuainya”. Saat suamiku di rawat di rumah sakit, aku tidak tahu lagi keberadaan Sabri dan istrinya. Sabri adalah sosok laki-laki yang menurutku cukup misterius juga sangat baik terhadapku.

Setelah di rawat sekitar 3 hari 4 harian di rumah sakit, suamiku di perbolehkan untuk pulang dan istirahat di rumah. Obat-obatan yang di berikan pihak rumah sakit segera ku simpan di dalam tas hitamku. Ku lirik jam di rumah sakit menunjukan pukul 19:00, saat itu aku dan suami pulang dengan mengendarai taksi.

Di dalam taksi aku rebahkan kepala suamiku di atas pangkuanku, jarak rumah sakit dan tempat tinggalku beruntunglah tidak terlalu jauh, jadi aku tidak begitu panik menangani suamiku sendirian. Sesampainya di depan jalan rumahku, ayah dan saudaraku yang lain sudah resah menunggu kedatangan kami pulang dari rumah sakit. Dengan segera ayah membuka pintu taksi dan mengangkat tubuh suamiku dari dalam taksi.

Kondisi suamiku waktu itu masih sangatlah lemah wajahnya pun begitu pucat serta kulit tubuhnya terlihat menguning. Ayah mengangkat tubuh suamiku aku membantu mengangkat tangannya, saudaraku yang lain pun segera membantu. Aku terkejut tiba-tiba kulihat Sabri sudah ada di depanku dan membantu mengangkat tubuh suamiku.

Aku senang sekali Sabri datang dengan tiba-tiba, dan selalu hadir di saat aku sedang mengalami kesulitan. Ku perhatikan wajah Sabri saat mengangkat tubuh suamiku untuk sampai ke dalam rumahku, Sabri seperti orang yang mendapat firasat seolah-olah umur suamiku tidak akan bertahan lama. Sampailah aku, Sabri, ayah dan saudaraku ke dalam rumahku dan merebahkan tubuh suamiku di dalam kamarku.

Aku tidak melihat lagi kemana Sabri pergi, saudara dan tetanggaku pun mulai ramai berdatangan untuk menengok aku dan suamiku yang baru saja pulang dari rumah sakit. Setelah 7 hari suamiku aku rawat sendiri di rumahku, ternyata sakit suamiku bertambah parah tubuhnya hanya tulang berbalut dengan kulit. Aku sangatlah sedih dan bertanya dalam hati sambil meneteskan air mata.

“Apakah sudah waktunya suamiku menemui ajalnya!?”.

Malamnya aku tertidur pulas di samping suamiku, ayah dan ibuku menemaniku menjaga suamiku, saudara-saudara kandungku pun menginap di rumahku saat itu. Pukul 03:00 aku bangunkan suamiku untuk sekedar mengajaknya bicara. Ku pegang dadanya detak jantung sudah tak berbunyi lalu ku periksa denyut nadinya pun sudah tidak ada, pukul 03:00 aku sadar bahwa suamiku telah mengehempaskan nafas terakhirnya.

Aku pun menangis dan menjerit sekuatnya-kuatnya saat itu, di susul Kia anakku dan kedua orang tuaku serta keluarga besarku mereka semua menangis atas kepergian suamiku untuk selama-lamanya. Walaupun suamiku jahat terhadapku selama ini, aku tetap sayang kepadanya. Aku pun segera bergegas untuk menghubungi pihak keluarga dari suamiku yang tinggal di desa dan bersiap-siap untuk membawa jenazah suamiku untuk di makamkan di desa dimana tempat suamiku di lahirkan. Tamat.

Salim

Salim

“,…Daku menuliskan kisah dari dimensi lain tanpa pena serta tanpa lampu”.

Hal yang aku senangi ialah tertawa, juga menghindar dari keramaian. Aku begitu bahagia bersembunyi di tempatku yang gelap, karena orang lain tidak dapat melihatku, dan aku sangat mudah melihatmu di tempat yang terang.

Terima kasih yang sudah membaca ceritaku !!

FB : Sa Lim.

All post by:

Salim has write 31 posts

Please vote Sukmaku Terpenjara di Lubang Kuburan
Sukmaku Terpenjara di Lubang Kuburan
4.4 (88.57%) 7 votes