Sungai Kecil di Kebun Karet

Hai all kisah ini beneran nyata yang aku alami november 2015 lalu. Aku asal Palembang kota, namun waktu itu aku sedang liburan ke daerah lahat, tepatnya daerah dimana kebun karet orang tuaku. Aku pergi bersama 1 orang teman dan kami tidur di pondok bersama 1 pengurus kebun. Karena keadaan yang tidak sanggup di lakukan oleh 1 orang, akhirnya aku pun turut membantu. Aku tahu di kebun kami waktu masih pertama di buka banyak kejadian janggal, maklum masih hutan rimba!

Tapi aku tidak tahu kalau sampai sekarang kejadian itu terus berlanjut. Tetapi aku yakin setiap orang yang melakukan suatu pekerjaan di lokasi itu tetap akan di kasih kejutan tak lebih dari 1 kali olehnya. Saat aku mulai bekerja dan aku mengambil bagian untuk panen lahan di tepi sungai. Aku selalu merasa dia memperhatikanku dan hawa dingin yang tak biasa.

Hari itu temanku dan pengurus kebun tersebut pamit untuk belanja bahan pokok. Ya karena pusat perbelanjaannya dekat hanya memakan waktu tempuh sekitar 10 menit. Aku mengira jam 6 paling lambat jam 7 malam mereka sudah pulang. Karena mereka pergi jam 5 sore. Saat menjelang malam mereka tak kunjung datang, dan hujan mulai turun dengan derasnya. Pembaca pasti tahu suasana sendiri dalam hujan di tengah hutan hanya di temani 3 alat penerang dari api.

Saat itu aku mengingat waktu aku turut serta 3 kali menanamkan jenazah dan 2 kali mengadzaninya. Bahkan aku melihat-lihat foto saat jenazah sedang di bungkus kain kafan. Tapi sedikit pun rasa takut tidak menghantuiku. Saat jam 9 malam hujan mulai reda dan masih rintik-rintik. Entah kenapa hatiku langsung berdetak sambil bicara dalam hati. (Dia pasti akan datang kemari untuk perkenalan sama aku dengan berbagai hal yang tak lazim).

loading...

Tak lama kemudian ternyata dugaanku benar. Atap pondok yang terbuat dari aluminium terdengar seperti orang menarik kayu di atas atap itu dan hilang begitu saja. Aku masih membiarkannya! Ternyata dia semakin dekat. kami biasa menyebut ulekan alat trandisional untuk menggiling bumbu masak. Terdengar dengan jelas ada orang yang sedang menggiling-giling dari dapur. Aku hampiri suara itu hilang dan tak ada apa-apa. Aku kembali berbaring dan lagi-lagi ulekan tersebut di mainkan lagi.

Bulu kudukku berdiri serentak dengan rasa takut yang berkecamuk dalam pikiranku. Aku membaca sesuatu yang biasa ku gunakan untuk mengusir makhluk itu. Rupanya dia marah! Angin langsung berhembus kencang dan 2 lampu api mati, hanya satu yang di sampingku masih hidup. Anehnya lampu itu sumbunya panjang dan minyaknya masih banyak. Berulang kali ku hidupkan tak masih begitu lagi. Aku tahu semakin lama dia semakin dekat, dan ku lihat ternyata dia berada tepat di atas kepalaku.

Karena tak sanggup melawannya dengan nada lemas ku telepon temanku dan ku suruh cepat pulang. Saat mereka pulang lampu kami bakar dan langsung hidup. Sungguh aneh! Aku merasa sangat marah pada pengurus kebun. Ternyata dia asik nonton di kampung dan temanku di tinggal dia entah dimana dengan berbagai alasan. Aku cari tahu ternyata selama ini jika sendiri pengurus itu tak pernah berada di kebun kecuali pagi sampai sore. Masih banyak cerita di tanah kelahiranku dan akan ku ceritakan nanti. Terima kasih telah membaca ceritaku. Assalamualaikum, wr, wb.

loading...