Syair Merah Darah

Sajak-sajak bahasa, begitu eloknya dirimu, dalam rupa yang berbeda, memberikan ciri yang berbeda. Sajak ku sangat pedih, pedih di lihat, pedih juga dirasakan, sajak hitamku, kucurahkan segalanya untuk mereka, mereka yang hina, mereka yang busuk, mereka malaikat, tetapi dihasut iblis, sajak hitamku bercampur dengan warna lainnya, hingga membentuk warna merah gelap, merah, merah, darah. Karya : Mela.

Saya adalah rogesdilles siswa baru di SMA Bakti Negara, setelah selesai ospek kami masuk ke kelas masing-masing untuk perkenalan. Saat dihadapan kelas, Mataku langsung tertuju pada satu wajah yang sangat indah, senyuman yang membentuk simpul nan anggun. Perlahan-lahan ku coba untuk mendekati gadis tersebut, hari demi hari segala teknik pendekatan ku gunakan, dan pada saat itu juga kami menjadi teman yang sangat dekat.

Kami berdua mempunyai hobby yang sama yaitu membuat dan mendengarkan puisi. Siang itu, kami merencanakan untuk datang ke acara pentas puisi yang mana dalam kegiatan itu menghadirkan tokoh-tokoh puisi fenomenal bangsa. Sehingga kami pun berupaya mati-matian untuk hadir dalam acara tersebut. Biasanya kami berdua langsung dijemput oleh sopir pribadi ketika pulang sekolah, sehingga kami berdua menyusun rencana yang tepat agar di perbolehkan untuk mengikuti acara puisi tersebut.

Kesamaan kami yang kedua adalah kami hidup pada keluarga akademis. Sehingga orang tua kami sangat melarang apabila waktu di sia-siakan begitu saja. Kata meraka (orang tua) “kamu di sekolahkan itu untuk menjadi orang yang sukses, menjadi seperti yang kami inginkan!!!”. Maklum orang tua saya sangat terobsesi agar saya dapat menjadi dokter kelak. Akan tetapi, jiwa saya bukan ke arah sana, saya lebih mencintai bidang budaya, seni, serta yang berhubungkan dengan kreativitas.

Jujur saya sangat tertekan dengan segala kehendak dan peraturan mereka. Sejak SD dan SMP saya selalu ditanamkan sikap disiplin dan mematuhi orang tua, sehingga sangat sulit bagi saya untuk membantah mereka. Dengan segala taktik yang telah di persiapkan akhirnya kami berhasil mengecoh orang tua kami, dengan alasan kami berdua akan mengerjakan pekerjaan rumah (PR) diluar. Pertunjukan puisinya sangat memukau kami, syair yang dilantunkan sangat dalam dan sangat indah.

Sehingga memacu kami berdua untuk menciptakan syair puisi yang indah pula usai pentas itu, kami berdua melihat sebuah komunitas puisi, disana kita bebas mengekspresikan kesedihan maupun kebahagiaan melalui syair. Pertemuan kerap dilakukan 2 kali dalam satu minggu, sehingga membuat kami berdua mempersiapkan banyak strategi untuk mengecoh orang tua kami, agar kami dapat mengikuti kegiatan rutin komunitas puisi ini. Pada minggu pertama kami berhasil menjalani rencana kami, minggu kedua pun begitu.

Pada minggu ketiga ternyata mela telah dicurigai oleh orang tua, orang tuanya bingung kenapa akhir-akhir ini mela terlihat sangat sering mengerjakan PR diluar. Saat tengah menyampaikan puisi, mela langsung ditarik oleh ayahnya, dengan sangat kesal ayahnya pun memukul mela. Saya pun terdiam melihat kejadian itu, tak disangka orang tua saya pun telah membuntuti saya sejak tadi, saya pun diseret paksa.

Disana sempat terjadi pertengkaran heboh antar orang tua mela dan orang tua saya, orang tua mela menyalahkan saya bahwa saya adalah yang membuat mela menjadi anak yang pembohong, saya juga merupakan teman yang buruk kata ayahnya. Orang tua saya tidak terima dengan perkataan tersebut, hingga timbul adu mulut yang heboh, yang tidak bisa saya ceritakan. Akhirnya orang tua mela memutuskan untuk tidak memperbolehkan kami berteman.

loading...

Esok harinya saat disekolah saya berusaha mencari mela, ternyata ia tidak masuk. Sudah 2 minggu hingga hari ini, mela tetap juga tidak masuk. Lepas kejadian itu saya tidak pernah menulis puisi lagi, sekitar satu minggu kemudian, mela datang. Begitu gembiranya saya, ia datang seperti saat pertama kali kami bertemu, mata yang cantik menatap ke arahku. Saya heran, kenapa ia sangat pucat, saya bertanya “apakah kamu sakit mel?” Mela menjawab, “enggak kok, saya cuma kecapekan nulis ini, selama saya tidak masuk”.

Kemudian ia mengeluarkan kertas kecil dari sakunya, ia tidak mengizinkan, saya membacanya sekarang, Melainkan saat pulang sekolah nanti. Kami pun bermain dengan senangnya hari itu, seolah ada makna yang ingin disampaikan mela. Tetapi saya tidak perduli dan tetap menjalankan aktivitas dengan riang bersamanya. esok harinya mela pun tidak kunjung datang lagi, hingga 1 bulan kemudian datang kabar bahwa mela telah meninggal. Saya begitu syok dan menangis mendengar kabar itu, saya pun tidak percaya lalu langsung menuju rumah mela.

Terlihat sangat ramai, banyak pelayat datang dari komplek, untuk ikut agenda pemakaman. Hingga pemakaman selesai, saya terus menangis. Satu minggu tanpa mela setelah tahu tidak akan bertemu lagi, serasa sudah satu tahun. Dua minggu kemudian sekolah gempar dengan puisi yang tertulis di dinding, ukiran syair yaitu darah. Kami semua bingung, siapa yang berani membuat tulisan seperti ini, investigasi telah dilakukan pihak sekolah melalui CCTV, pihak keamanan sekolah, dan sebagainya.

Ternyata tidak dapat memecahkan siapa aktor pembuat tulisan. Saat memikirkan peristiwa tersebut dirumah, saya membuka buku puisi saya, kemudian saya menjatuhkan sesuatu dari dalam buku, ternyata itu merupakan kertas yang pernah diberikan mela pada saya kemarin, yang terlupa oleh saya untuk membukanya. Di dalam kertas tersebut, berisikan tulisan yang sama persis dengan tulisan misterius dinding itu. Pihak sekolah telah mencoba menghapus tulisan di dinding berulang-ulang, akan tetapi tulisan tersebut muncul lagi saat malamnya.

Saya pun langsung bergegas menemui orang tua mela saat pulang sekolah esok harinya, menyampaikan apa yang terjadi pada mela. Ternyata pasca peristiwa mela dipukul saat kami kumpul dengan komunitas, kepalanya terkena tekanan yang sangat kuat. Mela pun bukan sosok yang periang lagi di rumah, ia sering menyendiri dan menghabiskan waktu menulis. Orang tuanya pun terkejut dampak kepada kesehatan serta psikologis mela terguncang pasca tersebut.

Kemudian saat menjelaskan kronologi kasus yang terjadi akhir ini disekolah, sama dengan tulisan yang diberikan oleh mela. Ternyata tulisan tersebut, merupakan pesan untuk orang tua, yang jangan terlalu meremehkan profesi dan hobby anak. Sampai saat ini, tulisan tersebut masih tampak di sekolahku, kemudian kami hiasi dengan tanaman-tanaman yang indah, agar tulisan ini bukan menjadi tulisan misteri yang tidak diketahui siapa pembuatnya, melainkan menjadikan tulisan ini sebagai pesan, yang meski kita tidak tahu dari mana datangnya syair ini.

Share This: