Taman Gasmin

Sebuah taman yang selalu aku lewati disaat aku akan pulang ke rumah yaitu taman gasmin, ditaman itu juga kisah ini bermula. Namaku Deri sekarang aku adalah mahasiswa jurusan telekomunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta. Sejak dulu memang aku peka terhadap hal-hal yang mungkin orang bilang itu mistis, aku bisa merasakan keberadaan makhluk halus sampai aku pun dapat melihat bentuk aslinya.

Namun kelebihanku itu tidak aku perdalam lagi, jadi tidak bisa diprediksi kapan dan dimana aku bisa melihat mereka dan pernah saat itu aku mengalami suatu fenomena yang tidak bisa membuatku lupa sampai sekarang. Kejadiannya sekitar beberapa tahun yang lalu ketika aku masih duduk di bangku sekolah, aku punya teman bernama yuli. Hari itu yuli kesurupan, dia dikenal memang gampang sekali kesurupan.

Entah makhluk apa yang merasukinya. Tapi itu tidak berjalan lama, yuli pun kembali bersikap normal. Aku pun pulang lewat daerah antapani, dan aku berhenti sejenak di taman gasmin. Entah kenapa aku pun heran, aku tiba-tiba saja ingin berhenti disana. Aku pun melanjutkan untuk pulang, dan sesampainya dirumah perasaanku tidak enak. Tercium wangi bunga yang sangat wangi, aku mencari-cari sumber bau itu. Apa mungkin ibuku membeli bunga, tapi setelah aku cari tidak ada bunga sama sekali.

loading...

Wangi bunga itu seakan-akan terus mengikutiku, sampai setelah aku mandipun wangi itu masih tercium. Aku coba mengacuhkannya, sampailah ketika malam hari. Aku terbangun karena mendengar suara gaduh dari dapur, seperti ada seseorang yang sedang menyiapkan makanan. Setengah sadar aku bangkit dan aku lihat ada seseorang dengan rambut panjang agak keriting, berdiri didapur. Sepertinya itu ibu dan aku segera beranjak ke dapur sekalian ingin mengambil air putih. Ibu seperti sedang memasak sesuatu.

“Kenapa belum tidur bu?” tanyaku sambil minum, ibu tidak menjawab apa-apa. Aku pun kembali ke kamar namun langkahku terhenti. Ada yang aneh, aku yang masih setengah mengantuk kini jadi tersadar. Kalo ibuku berambut pendek, tidak panjang dan keriting. Aku kembali melihat ke arah dapur namun tidak ada siapa-siapa disana. Esoknya sepulang sekolah, aku dan lutfi bersama yuli singgah di taman gasmin.

Mengobrol dan bercerita tentang kejadian semalam yang aku alami, tidak terasa waktu pun berlalu. Saat sore hari, kami semua sepakat ke mengantar lutfi ke rumahnya. Saat di perjalanan pulang temanku yuli, mendadak aneh. Tatapannya mulai kosong, dan dia sedikit memiringkan kepalanya. Hanya aku yang menyadari hal itu, apa dia kerasukan lagi ujarku dalam hati. Ketika sampai dirumah lutfi suasana pun terasa berubah.

Yuli kini terlihat senyum-senyum sendiri dan tangannya terlihat tidak biasa. Kini yuli melihat tajam ke arahku sambil tersenyum. Tiba-tiba tangannya mendekat lalu mengusap-usap rambutku, aku mulai takut disitu sekaligus heran. Ketika itu, aku menyadari bahwa yuli kerasukan tapi tidak seperti waktu itu disekolah.

Yang dimana yuli teriak-teriak seperti kesetanan, kali ini yuli terlihat diam dengan senyum dan tatapannya yang mengerikan. Aku coba bertanya, awalnya dia tidak mau berbicara dan yang dia lakukan hanya tersenyum dengan tatapan seperti sudah lama tidak bertemu denganku. Perasaanku makin tidak nyaman, yang aku pikirkan apakah aku melakukan kesalahan. Tak lama dengan suara yang sangat pelan, dia mulai berkata kepadaku.

“Kamu mengingatkan saya pada anak saya”.

Disitu semua kaget, apalagi aku. Dia berkata bahwa aku anaknya, tidak mungkin ini pasti bohong. Akhirnya dia mulai berbicara, namanya adalah Den Grill dia adalah seorang belanda. Mungkin dia punya anak laki-laki yang wajahnya sangat mirip denganku. “Bukan, saya bukan anak kamu. Kita beda dunia, kamu lebih baik pergi.” ini tidak nyata, yuli yang kemasukan itu kini menatapku sangat tajam. Matanya membelalak lalu, lanjut dia berkata.

“Lihat saya”.

Yuli yang kerasukan itu tiba-tiba menggenggam erat tanganku sambil terus melihatku dan tiba-tiba astaga, wajah yuli tiba-tiba saja berubah menjadi wajah seorang wanita tua dengan rambut pirang ikal berantakan, dengan wajah yang sangat pucat. Wajah itu terus menatapku, hanya beberapa detik saja wajahnya kembali berganti menjadi wajah yuli. Jantungku berdetak hebat lalu aku pun mencoba berkomunikasi batin dengannya, hingga akhirnya aku pun tau kenapa den grill wanita belanda itu meninggal.

Dia tepat meninggal di taman gasmin, arwahnya masih bergentayangan. Dia meninggal akibat dibunuh oleh suaminya sendiri karena telah menghilangkan cincin turun temurun keluarga suaminya dan hingga saat ini cincin itu katanya masih tertanam di taman gasmin. Maka dari itu setiap hari, dia selalu mencari cincin itu disana. Dia berkata wajahku mirip dengan anaknya dan dia juga berkata akan selalu ikut denganku dan menjagaku. Hari itu pun berlalu, aku tidak merasakan hal-hal aneh. Namun keberadaan den grill biasa aku rasakan setiap malam hari karena selalu ada yang mengusap-usap keningku hingga saat ini.

Share This: