Tangisan Hantu Siswi Tanpa Kepala

Beberapa waktu lalu, dikampungku, marak gosip adanya hantu tanpa kepala yang menangis. Mereka bilang suaranya seperti wanita. Ada yang bilang dia memakai baju putih, ada yang bilang dia memakai seragam, ada yang bilang dia memakai rok hitam. Ada juga yang bilang melihatnya keluar dari rumah seorang warga, ada yang bilang melihatnya dijalan, ada yang bilang melihatnya dipinggir sawah. Beda-beda kan? Namanya juga gosip.

Awalnya aku tak percaya dengan apa kata mereka tentang hantu siswi tanpa kepala ini. Karena aku memang belum pernah menjumpainya. Sampai suatu ketika. Mama bilang bahwa papa dan mama akan menjenguk nenek yang ada di desa. Mereka bilang akan pulang sekitar pukul 9 malam. Aku dirumah dengan kedua adikku yang cukup bandel. Namun, pada sore hari, kedua adikku bermain kerumah tetanggaku.

loading...

“Aku nanti pulangnya kalau mama sama papa sudah pulang” kata adikku yang gede. Aku pun mengiyakannya. Tanpa pikir panjang, aku tidur, padahal hari itu sudah sore, mungkin sekitar pukul 5. Aku terbangun ketika adzan maghrib hampir selesai berkumandang. Aku tak menghiraukannya karena kupikir tidak apa-apa karena aku sedang halangan. Dan aku memutuskan untuk kembali tidur. Belum terlelap aku memejamkan mata, ada suara gemericik air disamping kamarku.

Aku masih cuek, kupikir sungai kecil yang ada dipekarangan samping kamarku airnya mengalir. Tapi semakin kudengarkan, suaranya semakin aneh. Seperti langkah kaki, tidak mungkin, pikirku. Aku beranikan diri untuk melihatnya dari jendela. Dan *zonk. Tidak ada siapa-siapa. Aku masih mencoba berpikir positif. “Mungkin sudah lewat, mungkin juga aku masih belum terlalu sadar”, karena mataku masih berat untuk dibuka.

Kemudian perutku terasa lapar, aku pun memutuskan untuk keluar kamar mencari makanan didapur. Tapi, saat aku minum air, aku mendengar ada suara seseorang sedang mengguyur air dari dalam toilet. Memang tidak terlalu terdengar karena kamar mandiku kedap suara, tapi aku yakin bahwa itu adalah suara guyuran air dari dalam toilet.

“Ma? Pa?” tidak ada jawaban.
“Ma? Mama sudah pulang?” lagi-lagi tidak ada jawaban.

Aku masih mengacuhkannya. Aku tidak ingin mempedulikan. Padahal jantungku deg-degan sejadinya. Aku memeriksa pintu kamar tamu, masih terkunci. Berarti adik-adikku masih dirumah tetangga. Aku BBM tetanggaku, “apa adikku masih ditempatmu mbak?”.

“Iya, mereka main Tab sama Ana”. Akhirnya aku memilih untuk menonton TV, suaranya aku keraskan. Sampai kira-kira pukul 8 malam, aku mendengar ada suara wanita sesenggukan menangis didepan rumahku. Aku mengintipnya dari jendela. Ya! Memang ada seorang perempuan mengenakan baju seragam duduk dikursi teras. Seragam SMA rok pendek. Posturnya yang mirip temanku membuatku segera membuka pintu karena aku pikir dia temanku.

Tapi, saat aku membuka pintu, wanita itu berlari kesamping rumah. Di samping rumahku adalah pekarangan. Tidak luas sih, tapi kalau malam ya cukup gelap. Aku mengejarnya kesamping rumah. Aku lihat dia berhenti dibawah pohon jambu air. Dia masih menangis. Kalau kuperhatikan, dia hanya memakai sepatu sebelah saja. Aku mulai memberanikan diri mendekatinya. Aku meyakinkan diri bahwa dia adalah temanku, Vika. Sehingga aku memanggilnya.

“Vik?” dia masih menangis.
“Vika? Kamu ngapain nangis?” dia menghentikan tangisnya. Tapi masih sesenggukan.

Tanganku melangkah untuk menggapai tangannya. Belum sampai kugapai, tiba-tiba aku tidak melihat kepalanya. Hanya sampai kerah bajunya saja. Aku tidak begitu memperhatikan tapi aku melihat jelas bahwa yang kulihat ini siswi tanpa kepala. Kakiku kaku, badanku lemas, aku benar-benar lemas. Jantungku seperti mau meledak. Keringat dingin mulai bercucuran. Demi apapun aku serasa menjadi batu. Kulihat dengan mataku, siswi tanpa kepala itu masih terdiam dan tidak menghilang.

“Ya Allah,” aku menggumam. Dalam hati aku membaca ayat kursi. Aku masih kaku, tiba-tiba aku dikagetkan sebuah tangan yang menyentuh bahuku keras-keras dari belakang. Aku mendengar suara seorang pria. “Nur! Kamu ngapain malam-malam disini? Aku manggil-manggil kamu ternyata kamu disini!”.

Lututku lemas, badanku ambruk. Tatapanku lurus kebawah. Aku tak memperhatikan pria yang memanggilku. Aku menengok lagi kearah siswi tanpa kepala itu. Dan hilang. Kemana dia? Siapa dia? Kenapa dia menangis? Aku masih dibawah terkulai lemas. Pria tadi menampar-nampar pipiku dan terus saja bertanya “aku kenapa?”. Aku mulai tersadar. Ternyata pria ini adalah Adit, pacarku. Di bawanya aku masuk kedalam rumah dan dia memberikan aku segelas air putih. Aku masih bertanya-tanya apa benar tadi yang kulihat sosok hantu tanpa kepala?

Adit mulai menjelaskan, “aku disuruh mamamu temanin kamu dan adik-adikmu dirumah. Katanya mereka pulang besok siang karena ada acara mendadak. Kamu kenapa tadi?”. Adit adalah pria yang takut dengan hantu. Dia pernah melihat hantu seperti yang aku lihat saat kami kencan. Dan dia ketakutan setengah mati. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak menceritakan tentang sosok hantu siswi tanpa kepala tadi yang aku lihat, agar dia tidak ketakutan saat menemaniku dirumah.

“Nggak apa-apa,” kataku.
“Mungkin aku tadi ngelindur, aku tadi tidur dari sore” lanjutku.
“Kok televisinya menyala?” tanya Adit yang masih keheranan dan tidak percaya.
“Mungkin aku lupa mematikan, sudah ah, aku lapar, kamu bikinkan aku minum sama ambilkan makan didapur ya? Aku kayaknya dari tadi belum makan”.

Dia sambil mengomel. Tapi tetap mengambilkan minuman dan makanan buatku. Sungguh, aku masih tak percaya dengan sosok hantu siswi tanpa kepala yang sudah aku lihat tadi diluar rumah. Sekian ceritaku, terima kasih sudah membaca.

KCH

Nur Aeni

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Nur Aeni has write 2,694 posts