Tangisan Menyayat Hati

Telingaku sakit sekali mendengar tangisan menyayat hati, hampir setiap saat saudaraku yang masih 2 tahun ini menangis. Kami tidak tahu apa penyebabnya. Aku hanya bisa menutup telinga dengan kedua tanganku, dan mengurung diri di kamarku. Aku juga sedang sakit sudah beberapa hari ini aku tidak masuk sekolah karena sakit.

Jika aku memilih pergi ke sekolah dan belajar daripada mendengar suara tangisan menyayat hati itu semakin menjadi, tapi hal itu tidak di izinkan oleh ibuku. Ibu dan tante tinggal di satu rumah, karena rumah ini merupakan warisan dari kakek. Sudah 3 hari ini aku hanya berbaring di tempat tidur, kata dokter aku sakit ti Kupingku sakit sekali, hampir setiap saat sodaraku yang masih 2 tahun ini menangis. Kami tidak tahu apa penyebabnya.

Aku hanya bisa memnutup kupingku dengan kedua tanganku, dan mengurung diri di kamarku. Aku juga sedang sakit sudah beberapa hari ini aku tidak masuk sekolah karena sakit. Jika aku memilih mending di sekolah dan belajar daripada mendengar suara tangisan yang semakin menjadi itu, tetapi tidak di izinkan oleh ibuku. Ibu dan tanteku itu tinggal di satu rumah, rumah warisan dari kakek ku.

loading...

Sudah 3 hari ini aku hanya berbaring di tempat tidur, kata dokter aku sakit tipes. Perutku sakit sekali, dan tambah menjadi ketika malam hari. Adzan maghrib pun tiba yang di ikuti oleh tangisan saudaraku. “Apa gak habis air matanya?” ketusku dalam hati. Aku ingin ke kamar mandi untuk berwudhu, dan ketika kudengar di kamar mandi ada suara tangisan saudaraku itu. Ketika aku lihat betapa kagetnya ternyata yang menangis bukanlah saudaraku, ternyata itu adalah seorang perempuan yang sedang berdiri menghadapku.

Tapi ketika aku berkonsentrasi penuh, itu memang saudaraku. Aku mulai curiga kalau ia menangis bukan karena hal yang biasa. Tetapi di ganggu oleh gangguan dari dimensi lain. Aku mencoba memberitahu tante soal ini, dia menyuruhku untuk melakukan sesuatu. Aku duduk tepat di depan saudaraku yang sedang meronta-ronta. Katanya ia ingin kembali ke kamar mandi, dan ingin tidur di sana.

“Tante hanya menangis sambil memegangi saudaraku”. Aku mencoba konsentrasi, tapi sangat sulit berkonsentrasi karena di buyarkan oleh suara tangis yang begitu menyayat hati serta perutku yang amat sakit mulai kambuh lagi. Beberapa lama kemudian aku dapat melihat wanita itu, ternyata ia ada di belakang tante dan saudaraku itu. “kenapa kamu ada disini?” Ucapku.

“aku senang dengan anak ini”… sambil tertawa cekikikan.
“Kenapa bisa?” tanyaku.
“karena ia sering mengunjungi tempatku”.

Tiba tiba saja kepalaku pusing dan aku tidak ingat apa apa lagi. Aku terbangun di kamarku dan ketika ku lihat ada ayah dan ibuku yang sedang membaca yasin. Ayahku sambil memberikan air putih kepadaku “kata ibu kamu tiba-tiba terjatuh, dan ketika berdiri tiba-tiba tertawa dengan suara perempuan seperti orang gila”.

Aku berjalan keluar kamar dan kulihat saudaraku itu sedang tertidur pulas di ruang tv. Kata tante tadi ia memanggil seorang ustad untuk mengendalikan keadaan dan akhirnya bisa di atasi. Ketika ustad itu mengusapkan air ke wajahku serta wajah saudaraku, dua-duanya langsung tertidur. Katanya aku kerasukan oleh hantu wanita yang tadi itu dan saudaraku sudah beberapa hari di ganggunya.

Ia adalah hantu yang berasal dari gardu dekat rumahku itu, memang saudaraku sempat main di sana untuk melihat bunga yang tumbuh indah di sana, tapi salahnya ia ke sana sekitar pukul 5 sore dan juga ia menambahkan, bahwa sakitku juga bukanlah sakit yang biasa itu adalah efek dari energi negatif yang berasal dari hantu wanita itu. Akhirnya saudaraku kembali normal dan tidak sering menangis lagi serta keesokannya aku menjadi sembuh.

Share This: