Teman Imajinasi

Ketika Georgia masih berusia empat tahun dia punya banyak teman imajinasi (khayalan). Salah satu teman imajinasi favoritnya bernama Celice dan mereka selalu bermain setiap saat tanpa henti. Pada saat Georgia berusia delapan tahun dia mempunyai lebih dari satu teman khayalan. Georgia menjadikannya teman sejati dan selalu mengundangnya kemanapun dia pergi.

Suatu hari ketika Georgia berusia 15 tahun, sebuah mobil hendak menabraknya. Dia merasa seolah-olah ada sesuatu yang mendorongnya keluar dari jalan. Berpikir bahwa itu hanya instingnya, akhirnya dia tidak punya kecurigaan lain. Dia melanjutkan hidupnya dan mulai melupakan Celice.

Ketika Georgia berumur 17 tahun. Dia mengajak teman-temannya tidur dirumahnya. Saat itu dia sedang tidur, tiba-tiba mereka mendengar ketukan di jendela luar kamarnya. Georgia pikir itu hanya seseorang yang mencoba untuk menakuti mereka. Dia pergi untuk memeriksa dan melihat tidak ada seorang pun disana. Dia kemudian kembali kedalam kamarnya.

10 menit kemudian mereka mendengar lagi ketukan yang lebih keras. Georgia marah dan pergi untuk memeriksa lagi. Dia membuka jendela dan berteriak, “jika kamu mengetuk lagi saya akan memanggil polisi”. Dia menutup jendela dan kembali kedalam kamarnya.

20 menit kemudian ketukan yang lebih keras lagi terdengar di jendela. Georgia takut sekarang sehingga dia menelepon polisi dan meminta mereka untuk tetap tinggal, karena seseorang sudah mengetuk jendela dan berpikir mereka mencoba untuk mendobrak masuk.

25 menit kemudian ketukan yang lebih keras terjadi lagi. Georgia menempatkan polisi pada speaker dan pergi untuk mengecek karena takut. Dia tetap tidak melihat apa-apa. Dia perlahan-lahan berjalan kembali kedalam kamarnya. Ketika dia kembali kekamarnya, dia menemukan semua teman-temannya sudah mati. Georgia menjerit dan berlari menuju kamar orang tuanya.

Dia terkejut dan ketakutan disaat melihat kedalam kamar orang tuanya. Bagian tubuh ayahnya bertebaran dimana-mana dan tubuh ibunya sedang berada di meja belajarnya sementara kepalanya berada di tempat tidur dengan catatan terpasang. Dengan gemetaran, Georgia meraih catatan. Tertulis “hallo Georgia, apakah kamu ingin bermain? Saya memiliki waktu untuk bermain dengan orang lain tapi saya selesai bermain dengan mereka. Sekarang giliran kamu! Celice”.

Georgia tertegun. Dia berbalik dan melihat sosok kecil dalam gaun hitam dengan darah berceceran pada dirinya. “Celice?” Celice menatapnya tegas dan berkata, “saya bermain denganmu selama bertahun-tahun dan tetap setia, aku bahkan mendorongmu keluar dari jalan saat ada mobil lewat. Dan kamu melakukan ini padaku apakah ini caramu membalasku?”.

Georgia memejamkan mata dan menghitung sampai lima berharap ini semua hanya mimpi. Ketika dia membuka matanya, dia berada disebuah ruangan dengan semua mayat. Dia berlari ke pintu tapi terkunci. Dia menelepon polisi lagi dan dia mengatakan kepada mereka seorang gadis telah membunuh semua orang didalam rumahnya dan selanjutnya akan membunuhnya. Polisi mengatakan mereka akan berada disana segera.

Georgia menutup telepon dan mendengar Celice diluar berkata, “aku hanya ingin bermain, Georgia Ayo! Mari kita memainkan permainan yang paling menyenangkan yang pernah ada yaitu kematian!”. Georgia berbalik dan melihat Celice memegang pisau. Georgia mundur dan merasakan ada mayat dibelakangnya. Dia menjerit dengan segenap kekuatan, tapi tak seorang pun bisa mendengar karena saat itu dia berada diruang bawah tanah, dengan sebuah rumah berlantai tiga.

Celice membuka pintu dan berkata, “hal ini lebih menyenangkan.” Georgia berlari keluar tapi Celice muncul didepannya dan menikamnya tepat ditanganya dan berkata, “kena kau!” tetapi Georgia berhasil lepas dan berlari sekencangnya, Celice berlari mengejarnya dan berkata, “mari bermain petak umpet”. Georgia berlari ke dapur dan mengambil pisau.

Celice mengatakan, “ini lebih menyenangkan ketika orang lain juga mulai bermain”. Semua yang bisa Georgia dengar saat itu hanyalah tawa celice dari segala arah. Dia jatuh berlutut dan mulai menangis. Dia mendongak dan melihat Celice berdiri tepat diatasnya dan dia mengatakan, “oh jangan menangis Georgia sayang”.

Polisi akhirnya tiba dan Celice menghilang. Polisi mengasumsikan bahwa Georgia lah yang melakukannya. Tetapi georgia terlalu terkejut untuk membuktikan bahwa pendapat Polisi salah. Ketika pacar Georgia mendengar tentang hal itu dia meneliti sejarah dari rumah itu, dan menemukan bahwa seorang gadis bernama Celise diculik dan dibunuh secara brutal didalamnya, beberapa tahun lalu. Segera setelah itu keluarga baru dengan seorang anak gadisnya yang berusia lima tahun pindah kedalam rumah itu, dan anak itu membuat teman imajinasi baru yang bernama Celice.

loading...
Ira Sulistiowati

Ira Sulistiowati

Jalani hidup ini penuh dengan tawakal.

All post by:

Ira Sulistiowati has write 56 posts

Please vote Teman Imajinasi
Teman Imajinasi
4 (80%) 1 vote