Teman Tak Kasat Mata

Hallo, teman tak kasat mata ini adalah tulisan karya dari cerita kedua yang pernah saya alamin. Awal mulanya saya tahu cerita kayak gini sih dapat dari orang tua, ketika saya dimintain tolong sama seorang “hantu” lihat cerita saya yang pertama “tolong“, saya cerita sama orang tua saya. Kemudian orang tua saya responnya malah kayak “gak heran” gitu anaknya di gentayangin hantu.

Soalnya, katanya, saya sewaktu kecil dulu bermain sama hantu. Jadinya keseringan lihat hantu (tapi hanya yang bisa saya lihat, saya juga bingung kenapa saya lihat hantu tapi yang hanya bisa saya lihat saja. Selebihnya saya tidak bisa melihat mereka). Lanjut ke ceritanya, ini dapat cerita dari orangtua saya. Flashback ke-13 tahun yang lalu tepatnya ketika saya berumur 5 tahun.

“Reni gak punya teman, kasihan deh” saya diledekin oleh teman-teman TK saya.
“Reni dimusuhin, kasihan deh” mereka kembali meledeki saya.

loading...

Dan saya pun menangis, ibu guru datang menghampiri kami di taman.

“Sudah jangan bertengkar, kalian gak boleh begitu sama teman, ayo saling meminta maaf, gak boleh milih-milih teman” kata ibu guru.

Dan mereka pun kembali mengejek saya.

“Habisnya reni aneh bu, main sendirian mulu. Kata mamah kalau main sendirian nanti di temanin setan terus jadi gila”.

Saya pun pergi dari taman, dan lebih memilih duduk dibawah pohon, tiba-tiba ada anak laki-laki seusia yang sama seperti saya, sekitar 5 tahunan (kata mamah) menghampiri saya.

Saya (s)
Dia (d)

d: kamu kenapa sendiri?
s: aku gak punya teman.
d: aku juga, aku kesepian.
s: kamu gak punya teman juga? Kamu sekolah dimana?
d: gak punya, aku sudah gak sekolah lagi. Aku sendirian, mamah papah sudah lupain aku.
s: kamu kasihan ya. Ya sudah kamu mau jadi teman aku?
d: aku mau, sekarang kita berteman ya.

Dan kami pun berteman, sudah hampir 1 minggu saya berteman dengannya, mamah dan ibu guru sedikit curiga dengan tingkah saya yang kalau di rumah sering bicara sendiri, di sekolah sering duduk sendiri dan bicara sendiri, suka buang-buang makanan di taman TK, dan suka gambar yang aneh menurut mamah. Bahkan mamah sempat bertanya kepada saya.

Mamah (m)
Saya (s)

m: dik, kamu punya teman baru?
s: ada mah, kok mamah tahu. Oh iya aku belum kenalin ke mamah ya?
m: mamah tahu dari ibu guru. Coba mamah mau tanya dulu, yang di gambar ini adik yang buat? Coba anak laki-laki ini siapa?
s: iya itu teman baru aku, dia anaknya baik, namanya aji. Tadi aku sudah tanya kepada dia, mau kenalan gak sama mamah aku? Katanya aji gak mau, soalnya mamah gak bisa lihat dia.
m: memang dia ada disini dik?
s: ada, di samping aku, *hehe.

Mamah pun langsung ijin mau pergi keluar. Keesokan harinya, saya di antar mamah ke sekolah, tapi beda untuk kali ini, saya pergi sama mbah dan mamah, tumben. Dan seketika di sekolah, saya bukannya ke ruang kelas malah masuk ke ruang ibu ketua TK, dan disana aku ditanya-tanyain terus.

Ibu guru (i)
Ibu Ketua (k)
Mamah (m)
Mbah (b)
Saya (s)

I: ren, coba ibu mau tanya, kamu kok bisa dapat nilai A+ jawaban dari mana?
s: dari teman bu.
m: teman siapa dik?
k: maaf ya sayang, ibu mau tanya. Di rumah teman kamu itu dimana?
s: aku gak tahu bu. Soalnya aji gak mau aku kerumah dia, dia baik bu sama aku.
b: dik, mbah mau tanya. Di mana kamu ketemu teman kamu itu? boleh minta antar? Mbah mau kenalan.
s: boleh, ayo ikutin aku mbah. Tapi mbah takut gak bisa lihat aji, kayak mamah gak bisa lihat aji.
b: mbah bisa kok. Coba ayo antarkan.

Setiba di taman pertama kali pertemuan dengan aji.

s: mbah, ini aji.
b: *ndok, kamu tinggal dimana? (Mbah bertanya kepada aji).

(Aji tidak menjawabnya). Tiba-tiba mbah berkata seperti ini.

b: *ndok, kamu mau lihat aji yang sebenarnya?
s: reni tahu. Mbah kan sudah lihat aji.
b: dia bukan manusia *ndok, nanti mbah lihat wujud aslinya.

Dan seketika aji berubah jadi wujud aslinya, menyeramkan. Saya sempat *sawan (kata mamah) mukanya aji yang bukan lagi seperti kanak-kanak. Mukanya aji yang begitu tua keriput, berbadan kecil, kuping yang panjang lancip (seperti goblin) ya seperti itu. Akhirnya mbah pun mendoakan aji supaya aji tenang di alam sana dan tidak mengganggu saya lagi.

Kami pun pulang ke rumah, mamah meminta ijin kepada ibu ketua TK untuk mengijinkan saya tidak masuk sekolah, setelah raga dan jiwa saya lumayan baikan saya kembali ke sekolah. Dan benar, alhamdulilah aji tidak mengganggu saya lagi. Namun saya merindukannya, tapi saya bersyukur saya tidak bisa melihat wujud aslinya aji. Semoga aji tenang di alam sana. Sekian, sorry gak seram.

Reni Dwi Ningsih

Reni Dwi Ningsih

Hallo saya Reni Dwi Ningsih
Hanya Wanita yang suka menulis dan membuat karya tulisan dalam bentuk cerita.
Semoga suka ya
Mau lebih kenal bisa follow ig : rdn_13

All post by:

Reni Dwi Ningsih has write 2 posts

Please vote Teman Tak Kasat Mata
Teman Tak Kasat Mata
4.6 (91.43%) 7 votes