Tempat Misterius

Semua berasal dari hobiku sehingga membuatku pergi ke sebuah tempat misterius. Banyak orang yang berkata aku membuang waktuku dengan hobi ini, tapi ya gimana? aku sangat mencintai petualangan dan fotografi. Menyenangkan sekali bisa pergi ke daerah-daerah baru, tempat-tempat yang belum pernah tersentuh sebelumnya. banyak sekali kepuasan yang aku dapatkan ketika aku menginjakan kakiku di tempat baru. semuanya aku abadikan dalam hasil foto-fotoku.

Namaku Winda, setelah lulus kuliah aku bekerja sebentar di sebuah travel agent di bandung. Dari tempatku bekerja, aku jadi tahu bahwa di indonesia banyak sekali tempat-tempat yang indah. Semakin hari aku semakin tertarik akan tempat-tempat itu. Setiap hari aku membaca cerita-cerita tentang berbagai tempat misterius di indonesia.

Sampai akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari pekerjaanku agar bisa bepergian kapan pun sesuai keinginanku. banyak yang menentang keputusanku. tapi ini hidupku, pilihanku. Dalam setahun ini, aku menjadi pemburu tempat misterius, aneh dan sebagainya. Sudah sepuluh tempat misterius aku datangi. Aku tidak sendirian biasanya aku satu tim dengan tiga orang teman yang semuanya laki-laki. Ada Fajar, Momot dan Romi. Mereka semua satu visi denganku, menguak tempat misteri dari berbagai daerah di Indonesia.

loading...

Sekarang, kami semua bersiap berangkat ke suatu desa di daerah ciamis. Aku mendengar kalau di jalur menuju ke pantai pangandaran, ada satu desa yang misterius. Katanya, tidak ada manusia di desa itu saat siang hari, kecuali patung. Hanya patung yang berserakan, patung manusia. Penduduknya hanya datang saat malam hari. Bodoh sekali kami melewatkan tempat misterius itu selama ini. Padahal, tempat itu tidak terlalu jauh.

Desa kosong itu berhasil membuat kami penasaran. Rasa penasaran itu membuat kami tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk segera berangkat ke desa itu. Kami berangkat dari bandung sekitar pukul 12 siang, menggunakan mobil bak milik Momot. Kami memang bukan tim jalan-jalan dengan banyak uang. Apapun yang ada, kami manfaatkan. Momot yang saat itu mengemudikan mobil, sementara aku duduk di kursi penumpang. Fajar dan Romi di bak belakang, menjaga barang-barang. Syukurlah hari ini cerah, kasiankan mereka kalau kehujanan.

Sekitar pukul tiga sore, kami mulai memasuki daerah ciamis. Tiba-tiba saja Momot ke pinggir jalan dan menghentikan mobil. Saat aku bertanya ada apa, Momot diam sejenak lalu berkata bahwa perasaannya tidak enak. Sangat tidak enak katanya, Momot memang punya kemampuan lebih. itu sebabnya dia masuk dalam tim ini, untuk berjaga-jaga.

“Duh gak enak perasaan nih, kayak ada sesuatu dari desa yang mau kita datangin, sudah ngusir duluan. Gimana klo kita pulang aja ke bandung dan cari tempat lain deh” Momot berkata dengan ragu. Jelas aku mendebatkan nya. Bayangkan, sudah kebayang menemukan desa itu. Momot malah tiba-tiba ragu. Aku bersikukuh dengan Momot, dan perdebatan ini berlangsung cukup panjang.

Momot tetap masih tidak mau melanjutkan perjalanan. Menurutnya, kita adalah rombongan petualang, bukan tim perjalanan misteri. Memang, dari awal Momot sudah berpikir tujuan kita ke tempat itu berbau mistis. Tapi aku menegaskan kalau tujuan kita kesana adalah untuk mengambil foto patung-patung yang di ceritakan banyak orang. Kita juga bisa menguak sejarahnya dengan bertanya ke warga sekitar.

Fajar dan Romi yang semula diam saja, akhirnya turun dari bak belakang dan ikut berdebat. Setelah berdebat cukup panjang, akhirnya kami berempat sepakat untuk tetap berangkat ke desa itu. Dengan catatan, kami harus keluar desa itu sebelum maghrib. Entah pulang ke bandung atau entah lanjut ke pantai pangandaran. Yang pasti, kami harus keluar dari sana sebelum gelap. Kami pun melanjutkan perjalanan.

Satu jam kemudian, tampaknya kami hampir sampai ke desa yang di maksud. Daerahnya memang sepi, tidak ada orang sama sekali. Padahal itu masih jam lima sore. Hari pun masih terang, kami sempat bertanya ke seorang warga di daerah situ. Di manakah letak desa kosong tersebut? orang yang kami tanyai, memandangi kami dengan aneh. Lalu memberi tahu jalan ke arah desa yang kami tanyakan itu.

Kami terus melaju menyusuri jalan yang ditunjukkan orang tadi. Rasanya daerahnya semakin sepi. Betul-betul tidak ada orang. Perasaanku semakin menggebu-gebu, aku menengok ke arah Momot. Ada ekspresi khawatir di wajahnya. Aku tidak ambil peduli dan kembali menatap ke depan. Tidak lama, aku melihat beberapa bangunan di depan sana. Sepertinya rumah-rumah dari kayu, ah bukan, dari bilik sepertinya. Aduh aku semakin penasaran. Beberapa menit kemudian kami benar-benar sampai di desa itu.

Aku benar-benar terkesima melihat tempat misterius ini. Desa yang sangat misterius. Kami terus berjalan sampai ke tengah desa, lalu berhenti. Jantungku berdetak sangat kencang. Apa ini? apa arti patung-patung ini? Aku turun dari mobil, berjalan berkeliling. Aneh sekali, matahari belum terbenam, tapi aku merasa takut. Banyak sekali patung disini, patung yang terbuat dari batu. Patung-patung itu seolah hidup.

Bentuk patungnya seperti sedang melakukan sesuatu. Ada patung ibu yang menyusui anaknya di teras rumah. Ada patung anak kecil bermain kelereng lengkap dengan kelerengnya. Ada patung laki-laki mendorong gerobak. Ya tuhan, aneh sekali seolah-olah mereka adalah penduduk desa ini. Bentuk patungnya sangat natural. Patung-patung itu mempunyai ekspresi yang hidup, ada yang tertawa, marah, bahkan menangis.

Aku mendekatkan tanganku ke salah satu patung itu. Perlahan dan menyentuhnya di bagian wajah. Ya tuhan, hangat. Patung itu hangat, ah mungkin ini karena seharian tadi patung-patung ini terkena sinar matahari. Aku melihat ke arah timku, mereka pun tampak terkesima dan mengagumi apa yang ada di sini, termasuk Momot. Dia seolah lupa kalau dia tadi ketakutan. Aku lalu minta semuanya berkumpul dan mengambil foto.

Tim pun bergerak ke segala penjuru, sementara aku, berkeliling mencari orang yang bisa di tanya. Tampak mustahil karena di situ benar-benar tidak ada orang. Hanya ada patung, aku akhirnya berpikir untuk bertanya ke desa terdekat nanti ketika pulang. Tidak terasa hari sudah mulai gelap dan kami semua masih asik mengambil foto. Momotlah yang mengingatkan kami untuk pulang karena hari sudah gelap. Aku, Fajar, dan Romi pun menurut dan membereskan peralatan kami.

Ketika aku sedang berjalan ke mobil, tiba-tiba saja aku mendengar sesuatu. Nyanyian, sebuah nyanyian sunda. Seorang wanita terdengar sedang menyanyi lagu sunda. Aku berhenti dan mencari sumber suara itu. Sepertinya dari sebuah rumah di sebelah kiriku. Jujur aku agak takut, tapi juga bersemangat. Ternyata ada juga penduduk yang sudah datang ke desa ini. Aku mendekati rumah itu dan mengetuk pintunya sambil mengucapkan salam “assalamualaikum”.

Seketika nyanyian terhenti dan terdengar jawaban “waalaikumsalam, ka lebet (Silahkan masuk), neng” aku tersenyum lega lalu membuka pintunya. Hah? ternyata.. ternyata di dalam rumah tidak ada siapa-siapa rumah itu hanya terdiri dari satu patung dan terdapat patung wanita di sana. Patung wanita sedang duduk di depan cermin, sedang menyisir rambutnya. Aku lemas tidak bisa bergerak, hanya bisa menahan nafas.

Tepat saat itu, aku mendengar teriakan Romi. Refleks aku berlari ke arah mobil. Momot dan Fajar yang sampai lebih dulu ke mobil nampak ketakutan juga. Mereka bertiga melihat ke bak mobil. Setelah sampai ke dekat mereka, aku segera melihat ada apa di bak mobil. Apa ini? di bak mobil ada sebuah patung. Sesosok patung anak kecil sedang berbaring meringkuk. Aku langsung merinding. Aku bertanya siapa yang menaruh patung ini ke mobil? dan mereka semua menggelengkan kepala.

Ya tuhan, kenapa patung ini bisa ada di dalam mobil? siapa yang menaruhnya? Aku akhirnya menyuruh Fajar dan Romi naik ke bak mobil dan mengangkat patung itu keluar. Mereka pun segera naik. Aneh sekali, mereka nampak kesusahan mengangkat batu itu. Romi berkata batu itu sangat berat. Momot sempat mengambil foto mereka ketika mengangkat batu itu. Akhirnya setelah penuh perjuangan, patung batu itu berhasil dilempar keluar mobil.

Kami pun segera tancap gas meninggalkan tempat misterius itu, langsung menuju bandung. Tidak ada niatan bertanya ke pada warga sekitar. Biarlah itu tetap menjadi misteri untuk kami. Besoknya, kami melihat hasil foto-foto kami. Dan kami semua lemas, takut juga gemetaran. Di dalam foto-foto itu, tidak ada satu pun patung yang nampak.

Hanya ada rumah dan bangunan-bangunan. Dan ada satu foto yang mengejutkan kami, foto yang di ambil Momot saat Romi dan Fajar mengangkat batu dari mobil. Terlihat di foto itu tampak Fajar dan Romi bukan mengangkat batu. Tapi manusia, seorang anak kecil yang sedang meringkuk dan tersenyum, bahkan matanya menatap ke arah kamera.

Share This: