Teror Hantu Telepon

Mayat Pak Juim ditemukan dalam keadaan terbaring di parit depan mess A. Sementara Ica ditemukan sekarat di kolong mess B. Setelah mendapat perawatan intensif, kondisi Ica berangsur pulih. Hanya saja sesekali dia terus menggigau soal teror telepon hantu yang mengejar-ngejarnya. Kondisi Ica baru benar-benar pulih setelah diobati oleh seorang paranormal yang didatangkan dari luar kawasan pabrik.

“Sebenarnya gambar perempuan di Hp-ku waktu itu mirip Titi” kata Ira setelah selesai Tara bercerita soal telepon hantu mirip Ica. Saat itu mereka berkumpul di resto di tengah kota. Jaraknya lumayan jauh dari kawasan pabrik. Mereka sepakat bolos kerja untuk membahas soal telepon hantu itu di luar kawasan pabrik. Mereka takut jika membicarakan soal itu di dalam kawasan pabrik, hantu telepon itu akan mendengar dan akan kembali mengganggu.

“Kok mirip aku sih?” tanya Titi. Tentu saja ia terkejut karena disangkut-pautkan dengan cerita hantu. Ia memang tidak tahu apa-apa karena baru pulang dari kampung dan hanya mendengar cerita sepotong-sepotong soal hantu telepon itu. “Ngga tahu mengapa hantu itu mirip sama kita-kita. Hantu yang ada di teleponku juga awalnya berasal dari panggilan Tara”.

“Malam itu aku tidak menelponmu,” potong Tara. Ia sudah tiga kali mendengar cerita Ica dan itu membuatnya tidak nyaman. Ada kesan Ica menyalahkan dirinya. “Sudah jangan berdebat lagi. Sekarang kita harus mencari tahu mengapa hantu itu mengganggu kita melalui telepon?” ujar Ira menengahi. “Kata Rinto, malam itu Pak Juim mendapat telepon dari kamu sehingga dia datang ke mes putri untuk menemuimu,” serang Tara karena dia merasa Ira selalu membela Ica.

loading...

“Saya sudah dengar! Jadi kenapa kamu bahas lagi?” balas Ira. Setiap kali disinggung soal itu, Ira pasti marah sebab orang satu pabrik kini jadi tahu jika selama ini diam-diam dia menjalin hubungan asmara dengan Pak Juim. Padahal mereka juga tahu kalau Ira masih menjalin hubungan dengan Hendro. “Kalau begitu sekarang kita sepakati dulu kalau hantu itu sengaja meneror kita semua. Jangan hanya menyalahkan saya saja”.

“Siapa yang menyalahkan kamu?” potong Ira. “Sudah. Kalau mau pada ribut, mendingan aku pulang saja,” kata Titi. Ke empat perempuan muda itu terdiam. Cukup lama mereka asyik dengan minuman masing-masing tanpa mengeluarkan sepatah katapun. “Saya mau berhenti kerja saja,” kata Ica akhirnya. Suaranya lirih seolah ditujukan kepada dirinya sendiri.

“Jangan bodoh,” sahut Ira. “Jaman sekarang sulit cari kerjaan. Memang kamu mau cari kerja kemana lagi?”.
“Saya mau pulang kampung. Saya tidak tahan tiap malam ketakutan”.
“Justru sekarang saatnya kita hadapi hantu telepon itu dan kita cari tahu alasannya mengapa dia meneror kita”.
“Mungkin karena kelakuan kita yang nggak benar sehingga dia menghukum kita,” kata Tara.
“Ala jangan berandai-andai. Omonganmu itu sepertinya hanya ditujukan padaku!” sahut Ira kembali menyeringai.
“Asal kamu tahu saja ya, dari ribuan karyawan di pabrik itu, lebih dari setengahnya punya kelakuan lebih gila dari kita. Tetapi mengapa hanya kita yang diteror?”.

“Mungkin besok giliran mereka,” kata Titis ragu. Meski demikian, kalimat itu cukup untuk memaksa ketiga temannya diam. Sampai sore, mereka tidak lagi berdebat soal hantu telepon itu. Namun ketika hendak pulang ke mess, mereka sepakat untuk tidak menerima telepon pada malam hari meski siapapun yang menelpon.

“Jadi kalau tengah malam ada telepon dari siapapun, termasuk dari kita, jangan diangkat,” tegas Tara. Sebenarnya kalimat penegasan itu ditujukan kepada Ira karena dia yang marah-marah ketika malam itu menelpon Tara namun tidak diangkat. Meski tahu disindir, Ira pura-pura tidak mendengar. Ia takut Tara kembali mengungkit hubungannya dengan almarhum Pak Juim.

Share This: