Teror Kuntilanak Part 2

Ini lanjutan dari cerita “teror kuntilanak” publikasi dari samsul dan perlu diingat kalau nama-nama dalam cerita hanyalah kiasan alias bukan nama asli (samaran) oke dari pada menunggu lama langsung ke cerita ya. Hari yang cerah telah tiba waktu pun telah menunjukkan pukul 12:00 sedangkan adzan di mushola telah berkumandang satu persatu bagaikan ayam jantan berkokok di pagi hari, mereka berempat pun telah mengenal waktu tersebut.

Karena itu adalah waktu istirahat dan terik matahari mulai menusukan hawa hangat ke segala permukaan. Mereka berempat pun mulai berkumpul kembali disebuah gubuk kayu yang tersedia disekitar perkebunan. Udin, slamet dan tarmin telah berkumpul dan mulai mengeluarkan bekal. Mereka tidak terlalu memperdulikan keadaan sekitar, karena memang mereka sama-sama merasa lelah.

Pasalnya tenaga mereka terkuras habis seharian ini selesai menyantap nasi dan lauk pauk mereka meminum kopi sambil sesekali menghembuskan asap rokok yang sedari tadi telah dibakar. Slamet yang baru membakar rokoknya bertanya pada teman-temannya.

loading...

Slamet: tumben kalian kompak datangnya?! (Sambil sesekali memutar-mutar rokok).

Udin yang mendengarkan kawannya itu hanya menyunggingkan senyum manis pada slamet, sedangkan tarjo menyahut dengan suara parau yang begitu lemah.

Tarjo: iya nih, kebetulan kerjaanku cuma dikit dan sudah selesai.

Sambil sesekali mengelap keringat yang mengalir dipelupuk matanya.

Slamet: tapi kayaknya dari tadi seperti ada yang kurang ya, dimana parjo. Dari tadi kita duduk belum aku lihat batang hidungnya?
Udin: mungkin dia lagi sibuk sama tomatnya kali, kan suka ada yang gak beres sama tomatnya.
Slamet: memang ada apa dengan tomat parjo din? (Sambil melirik kearah udin).
tarmin: iya, perasaan biasa saja aku lihat kebunnya?

Udin pun terdiam sambil melamun, seperti sedang memikirkan sesuatu. Tiba-tiba tangan besar dari belakang udin menggoyangkan pundak udin. Spontan udin terkaget dan kopi digenggaman tangannya hampir jatuh tumpah ke tanah. Dengan gugup udin berkata “*hwuaa! Apaan sih met, kebiasaan deh gitu” sambil memonyongkan bibirnya dan sedikit bergeser dari tempat duduknya barang sedikit.

Slamet: lagian kamu, ditanya bukannya jawab malah bengong gak jelas. Mikir apa sih!? (Sambil menggenggam kopinya).

Seketika wajah udin berubah sedikit pucat. Tanpa basa basi udin mulai bercerita tentang pemandangan seminggu yang dilihat dengan kepala sendiri bersama pemilik kebun yaitu parjo.

Udin: jadi seminggu yang lalu itu aku gak sengaja lewat kebun parjo karena aku lihat ada kertas putih dipepohonan dekat pohon beringin pinggir sungai itu, karena aku penasaran apa itu yang ada diranting pohon, aku kira layang-layang yang tersangkut. Awalnya aku gak ada curiga sama sekali sama itu ranting, tapi semakin aku dekatin tuh bayangan kecil makin gak terlihat dan pohonnya kayak bertambah tinggi gitu.

Aku masih biasa saja ketika sudah dekat sama tuh pohon, aku tengok lagi tuh kertas yang aku kira layangan dan alangkah kaget dan syok aku lihat tuh layangan, betapa tidak, aku lihat orang perempuan bergelantung dipohon dan melihat matanya yang putih seperti terbalik melihat kearahku, merinding dan ngeri tentu aku rasakan *boro-boro buat teriak mau ngedip saja mataku kaku.

Setelah wujud itu perlahan hilang baru aku bisa gerakin nih kaki, sambil memegang betis dan memukul-mukul perlahan hingga terdengar *plak, plak! Aku langsung berjalan setengah lari, dengan langkah yang tergesa-gesa aku lihat kotakan tomat milik parjo rusak parah, anehnya pohon sama buahnya busuk semua, bahkan gak ada daun kering sedikitpun yang aku lihat, anehnya lagi hanya satu kotak itupun di tengah-tengah yang lain biasa saja dan terlihat bagus dan fine-fine saja tuh, tapi aku gak lagi mikir itu. Karena aku masih ngebayangin sosok tadi yang aku lihat, dengan langkah gugup aku pergi dari tempat itu, dan anehnya lagi waktu aku tanya parjo dia malah cuma tertawa dan bilang gak tahu.

Mendengar penuturan temannya mereka terdiam membisu bagaikan patung, wajah mereka pucat semua. Sambil memandangi temannya yang aneh dia nyeletuk.

Udin: aku sebenarnya mau cerita sama kalian, tapi karena belum sempat ya aku urungkan niatan aku, lagian aku malas kalau meski ke rumah kalian pada. Kebetulan lagi ngomongin si parjo ya, sekalian saja aku cerita.

Dengan ekspresi penyesalan udin menundukan wajahnya dan teman-temannya masih terdiam.

Tarmin: jadi kabar warga benar *dong, ada kuntilanak di siang bolong. Aku juga dengar dari tetangga dusun dan ceritanya sama persis tapi bukan di kebun tapi di pohon bambu dekat rumah tarmin. Anehnya bukan pakai baju putih, tapi pakai baju merah dan katanya dia tuh suka nyamar jadi hewan mengerikan.

Slamet: *hii. Jadi merinding nih tengkuk aku, sudah yuk lah kita pulang saja. Dari pada disini, lama-lama kita bakalan di makan hantu deh kayaknya. (Sambil merapikan barang-barangnya).
Tarmin: *hus. Jangan sembarangan bicara deh, aku jadi ikutan merinding nih, jangan-jangan dia dengar kita bicara lagi. Huh kasus, kasus.

Bersambung di teror kuntilanak part 3.

Samsul Samsul

All post by:

Samsul Samsul has write 1 posts

Please vote Teror Kuntilanak Part 2
Teror Kuntilanak Part 2
Rate this post