Teror Pocong Pedagang Pasar

Hay pembaca KCH ketemu lagi dengan aku Toby ini ceritaku yang ke-4. Cerita ini kejadian dari beberapa peristiwa dikampungku yang aku rangkum jadi satu. Dan terjadi ketika aku masih kelas 1 SMP. Langsung saja kecerita. Di kampungku ada seorang pedagang dipasar yang cukup sukses dan kaya pada masanya. Tapi sayang pedagang tersebut dalam memagari dagangannya menggunakan jasa genderuwo. Jadi disini gendreuwo tersebut akan menjaga dagangan sang majikan ketika sang majikan tak ada ditempat. Seolah-olah tak pernah kosong orang. Hal itu tanpa diketahui oleh anak-anaknya.

Singkat cerita pedagang tersebut sakit-sakitan. Genderuwonya tak ada yang mengurus atau terlantar. Sering muncul dalam wujud yang mengerikan tidak menyamar manusia lagi dan meneror tetangga sekitar. Akhirnya ada orang pintar yang berani menanyakan pedagang tersebut. Dari sini lah terungkap kalau dia memelihara genderuwo.

Dengan bantuan orang pintar tersebut dibuanglah genderuwo peliharahaan si pedagang. Tapi masalah tak selesai disini. Si gendruwo balik lagi dan balik lagi ingin balas dendam. Entah suatu kebetulan atau memang kehendak yang kuasa. Pedagang tersebut meninggal dunia dalam keadaan seperti tercekik dan ada tanda bekas telapak tangan dilehernya.

loading...

Dari sinilah teror seluruh kampung terjadi. Tanpa diketahui anak-anaknya juga ternyata pedagang tersebut juga menjadi rentenir. Hal itu diketahui dari pengakuan orang-orang yang berhutang padanya. Karena mereka didatangi hantu pedagang tersebut. Kadang wujud seperti manusia semasa hidupnya, kadang wujud pocong yang masih lengkap dengan kapas yang menempel dimata mulut dan hidung.

Ini pengakuan salah satu penghutang, sebut saja namanya Muki. Sore itu menjelang maghrib rumah Muki sudah ditutup, tiba-tiba ada yang ketuk, begitu dibuka tak ada orang, sampai berkali-kali hingga adzan maghrib baru berhenti. Adzan maghrib sudah selesai gangguan pun berlanjut lagi kali ini dalam wujud manusia, tetangga Muki yang lewat pada lihat. Sedang Muki sekeluarga tak berani keluar buka pintu karena diintip dari dinding kayu rumahnya sudah tahu kalau yang ganggu dari tadi hantu pedagang.

Hantu pedagang tersebut mondar mandir diteras rumah Muki sampai adzan Isya. Akibatnya Muki sekeluarga tak berani shalat berjamaah di Mushola. Singkat cerita jam menunjukan pukul 10 malam. Tiba-tiba diteras rumah Muki terdengar suara seperti nafas ayam yang kena flu. Begitu diintip dari lubang dinding, bikin Muki tak bisa bergerak. Kali ini dalam wujud pocong, suaranya terdengar mengitari rumah.

Tetangga Muki pun mendengar semua. Tak ada satupun yang berani keluar untuk melihat. Kejadian tersebut berulang setiap hari. Karena Muki sudah tak tahan dengan gangguan itu. Maka dilunasi lah utangnya, yang dikasih keanak pedagang itu. Tak lupa dia ceritakan yang dialami Muki. Tapi anak pedagang tak percaya bahkan Muki dimarahinya.

Berikutnya dialami adik kelasku waktu itu menjelang maghrib juga, Biasanya untuk shalat berjamaah di Mushola anak-anak dikampungku berangkat ramai-ramai. Hari itu Tia tertinggal karena dia wudhu dirumah. Dia lewat gang sempit jalan tercepat menuju mushola tampak ada kawannya yang sudah memakai mukena masih tertinggal juga tapi posisi didepan tia. Sambil tergesa-gesa tia teriak “Nis, (dikira anis) tungguin aku”.

Lalu yang dikira Anis berhenti, sambil benarin kerudung, Tia menghampirinya. Alangkah terkejutnya dia begitu berada disampingnya. Ternyata pocong pedagang. Tia langsung berbalik arah pulang sambil menangis. Tambah heboh lah ceritanya.

Selanjutnya, malam itu Parmin giliran ronda malam, tiba-tiba perutnya mulas padahal jam sudah hampir jam 12 malam berarti waktunya keliling dan ganti pos. Karena sudah tak tahan, ia ijin pulang dulu dan berpesan ke yang lain untuk ditinggal saja, nanti dia menyusul langsung ke pos pergantian sebut saja pos B sedang saat ini Parmin di pos A. Selesai menuntaskan hajatnya, Parmin langsung ke posnya ternyata benaran ditinggal, langsunglah Parmin menuju pos B.

Dalam perjalanan ke pos B Parmin tak merasa apa-apa. Karena Parmin adalah orang yang pemberani. Tapi begitu sampai dipertigaan dia mendengar seperti ada suara ayam flu. Makin lama makin mendekat. Dia sempat merasa tak nyaman. Antara lanjut apa balik lagi. Dia putuskan lanjutkan saja. Tepat ditengah pertigaan dari arah kanan ternyata ada pocong pedagang. Parmin langsung lari balik arah pulang tak jadi ke pos B.

Di sisi lain, orang yang dipos B yang akan ke pos A Juga melihat pocong dipertigaan, mereka akhirnya balik lagi menuju pos B dan menceritakan kejadian tersebut ke orang yang dari pos A. Malam itu pos A terpaksa tidak ada yang jaga.

Malam itu, malam sabtu kalau tak salah, bapak giliran jaga dipos A bersama 3 bapak yang lain. Jam 10 malam bapak berangkat dari rumah, menjelang jam 12 malam peronda keliling kampung sampai jam 1.30 malam. Capek keliling mereka tiduran dipos, karena merasa ngantuk diputuskan tidur sebentar. Baru beberapa menit tertidur salah satu peronda kakinya seperti dicolek-colek, kadang digelitik, muka juga ditiup.

Awalnya dikira peronda yang lain isengin dia. Ingin marah rasanya, begitu buka mata. Jantungnya terasa berhenti. Mukanya dan muka pocong beradu, kali ini matanya merah menyala, mulut dan hidung masih ada kapas. Ia ingin berteriak tapi tak mampu, apalagi bergerak. Cukup lumayan lama mereka beradu muka, saat peronda itu bisa mengedipkan mata, pocong itu sudah hilang.

Cuma terdengar suaranya meninggalkan pos ronda. Di bangunkan bapak dan yang lain, keringat basah membanjiri tubuh peronda itu. Bapak dan lainnya heran. Di ceritakanlah apa yang baru dia alami. Seketika itu juga diputuskan ronda hanya sampai jam 2. Mereka pulang kerumah masing-masing termasuk bapak.

Kejadian demi kejadian sudah banyak dialami warga kampungku, kalau diceritakan semua panjang banget. Semua diceritakan ke anak pedagang tersebut, tapi tetap dia tak percaya. Menganggap warga mengada-ada. Warga menyarankan agar kuburnya dipatek tapi anaknya malah murka. Pada suatu malam akhirnya kejadian yang buat anak pedagang itu sadar dan minta maaf ke warga. Dia didatangi pocong ibunya sendiri selama 3 malam.

Biasanya gangguan hantu orang yang sudah mati akan berakhir setelah 7 hari. Atau paling lama 40 hari. Tapi ini sampai 100 harinya lebih masih ada. Betapa mencekamnya kampungku waktu itu kalau malam. Gangguan pocong pedagang itu hilang setelah anaknya mematek kuburannya dengan paku rel yang ditancapkan ke makamnya, dan disiram sayur menir, dan empon-empon (beberapa bumbu dapur) tentu saja dibarengi ritual yang lain dibantu orang yang mengerti. Semenjak itu pocong pedagang yang meneror kampungku tak lagi muncul.

Toby

All post by:

Toby has write 6 posts

Please vote Teror Pocong Pedagang Pasar
Teror Pocong Pedagang Pasar
Rate this post