Terperosok ke Dalam Kuburan

Selamat pagi, siang, sore atau malam *hehe. Weni nongol lagi di situs terangker seantero google ini *halah alay mode on *hehe. Semoga para reader KCH gak pada dongkol ya baca cerita dari Weni. Dan bang admin semoga gak pegel kalau-kalau tulisan Weni *acakadut dan bikin banyak ngedit *hehe. Oke langsung saja ya go to school *gubrak, go to story maksudnya. Kali ini Weni akan menceritakan kejadian yang dialami oleh karyawan bapaknya Weni.

Kenapa lucu? Jadi gini, bapaknya Weni kan punya usaha pemotongan kayu pakai mesin namanya bandsaw dan chainsaw/sensor/sinso (silahkan cari di google). Bapak memiliki sekitar 7 orang karyawan yang biasanya akan dibagi menjadi 2 group. Group pertama berisi 4 orang yaitu pak Sam, pak Manap, mas Wito, dan pak lek Harto.

Ke-empat orang ini bertugas membelah kayu gelondongan dengan bandsaw sesuai orderan. Sedangkan group ke 2 berisi 3 orang yaitu Pak Man, Mas Imam, dan Pak Mitran, mereka bertugas menebang pohon-pohon yang masih berdiri kokoh menggunakan chainsaw. Jadi Mas Imam dan Pak lek Harto adalah masih saudara dengan keluargaku. Pada suatu hari, seperti biasa mereka semua dibagi menjadi 2 kelompok, tetapi hari itu pak Mitran sedang absen, sehingga digantikan oleh pak lek Harto.

Mereka bertiga ditugaskan di sebuah desa X untuk menebang beberapa pohon milik pelanggan. Kebetulan lokasi mereka bekerja berdekatan dengan areal pemakaman. Sesampainya dilokasi mereka bagi tugas, ada yang memanjat pohon untuk membersihkan dahan-dahan kecil dan mengikat tambang diatas pohon yang akan ditebang, ada yang stand by di bawah untuk memegangi tambang yang sudah diikat yang nantinya digunakan untuk menarik pohon yang akan roboh.

loading...

Nah disini peran utama pak Man, dia lah pemegang sekaligus pengendali mesin chainsaw *prok, prok, prok suwit-suwit. Ibaratnya sudah kayak pawangnya mesin chainsaw lah yah pak Man ini, soalnya sudah profesional (kuda lumping kali ah pakai pawang *haha). Setelah semua persiapan selesai, pak Man pun beraksi dengan menggunakan chainsaw *kretek gedebuk krosak, satu pohon berhasil dirobohkan.

Setelah beberapa jam, akhirnya semua pohon berhasil dikalahkan. Kini tinggal memotong kayu-kayu pohon tersebut menjadi beberapa bagian sesuai ukuran yang diminta pelanggan. Setelah semua selesai, mereka bertiga segera mengangkat kayu-kayu tersebut ke tempat lain yang sudah disediakan pemilik kayu. Nah untuk menuju tempat itu mereka harus melewati areal pemakaman. Satu persatu kayu dipindahkan, namun ditengah pekerjaan sesuatu terjadi pada pak lek Harto *grusuk aduh.

Tanpa sengaja Pak lek harto menginjak salah satu makam dan terperosok kedalamnya hingga setengah badan. Mas Imam dan Pak Man yang melihat hal itu tertawa dan meledek pak lek Harto “olahopo ae”, (apa-apaan saja) celetuk pak Man. “Lho lek, kok iso iku lho!” (Lho lek, kok bisa itu lho!) sahut mas Imam sambil tertawa. “Gak ro aku, dadi keblowok” (Gak liat aku,jadi terperosok) jawab pak lek Harto.

Mereka pun tertawa. Akhirnya pak Man maju untuk menolong, niat hati menolong malah “lho, lho, lho” teriak pak Man dan *Krosak. Terlihat tubuh pak Man berada satu tempat dengan pak lek harto, yaitu di dalam kuburan (kualat kali ya *hehe). Alhasil mereka berdua terperosok ke dalam kuburan yang sama. Mas Imam yang melihat kejadian itu hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal.

“Yo opo seh Pak de, kancane gak ditulungi malah melok nyemplung haha” (gimana sih Pak de,temennya bukan ditolong malah ikutan nyemplung *haha) ledek mas Imam pada Pak Man. “Iyo e Mam, lemah e gembuk dadi melok kecemplung aku haha” (Iya e Mam, tanahnya gembur jadi aku ikut kecemplung *haha) jawab pak Man.

Akhirnya Mas Imam lah yang membantu mereka untuk naik satu persatu. Dan mereka pun tertawa bersama untuk yang kesekian kalinya. Cerita ini Weni dapat dari istrinya mas Imam yang tak lain adalah sepupu Weni. Untung sih setelah kejadian itu mereka tidak mengalami hal yang aneh.
Fb: Astri Mustika Weni