Tertawa Cekikikan

Kejadian ini bermula ketika aku kuliah di salah satu Fakultas Kesehatan di kota Cimahi. Awalnya kuliahku lancar seperti biasa, hingga sampailah pada hari itu. Aku pulang kuliah agak malam, karena praktik dan tugas kuliah yang lumayan cukup padat. Aku kebetulan tinggal di sebuah kost an yang tidak jauh dari tempat kuliah. Aku pun sampai di kost, saat kulihat jam menunjukan 9 malam. tanpa sadar aku pun langsung membaringkan badan di atas tempat tidur, tidak terasa aku tertidur sementara TV dan alat-alat elektronik lainnya belum sempat aku matikan.

Pintu kost pun belum terkunci karena aku sangat lelah, sampai jam 11.30 malam alarm handphone berbunyi. Aku termenung sejenak sambil mencoba untuk sadar dan segera ke kamar mandi. Tapi saat aku membuka pintu kost, hawa dingin menusuk kulitku berbeda dengan hari-hari biasanya dan sekitarku suasananya saat itu sangatlah hening.

Tidak ada suara lain selain jangkrik dan TV didalam kost yang masih menyala. Aku bergegas mencuci muka sambil mengambil air wudhu dan setelah itu aku pun menuju ke kamar kost an. Namun, langkahku sempat terhenti ketika mendengar seperti ada seseorang yang memanggilku. Reflek aku melihat sekitar, tapi tidak ada siapa-siapa. Bulu kuduk mulai berdiri, aku seperti merasa ada yang mengikuti bahkan ada yang memperhatikanku dari kejauhan. Namun aku coba untuk tidak peduli dengan hal itu yang penting sekarang aku shalat dulu.

Kebiasaanku ketika aku mau shalat adalah mematikan lampu kost an dan mematikan alat elektronik lainnya agar lebih khusyu. Selesai shalat Isya, aku terbiasa dzikir sejenak. Beberapa lama kemudian aku terhanyut dalam dzikir tersebut sampai tiba-tiba terdengar suara seperti ada yang mengetuk kaca. Aku pikir itu hanya cicak atau binatang lain tapi lama-kelamaan terdengar suara itu seperti suara tertawa cekikikan perempuan.

loading...

“hihihi…”

Saat aku melihat ke sebelah kanan, ada sebuah sosok yang terlihat bersembunyi di balik gorden kamarku. Suara cekikikan itu muncul dari belakang gorden kamarku itu. Aku mencoba untuk tidak fokus pada suara itu, namun suara itu semakin terdengar menusuk telinga. Aku mulai ketakutan, aku mencoba melawan ketakutanku sambil mencoba melempar sendal ke arah jendela.

Aku pun langsung berdiri menyibak-kan gorden kamarku dan aku tidak menemukan apa-apa. Ketika aku membuka jendela kost an hanya ada hawa dingin yang menusuk kulitku saja. Aku menghela nafas dan melihat detik jam yang sudah hampir menunjukan jam 1 malam seperti segera memberitahuku untuk cepat tidur. Namun ketika aku akan menutup jendela, tiba-tiba terdengar suara orang memanggilku lagi sama seperti saat tadi.

Aku tidak jadi menutup jendela kamarku, aku melihat keluar dan mencoba menengok ke kanan luar kamarku. Dan, tidak ada apa-apa. Aku pun mencoba menengok ke arah sebaliknya, aku gerakan kepala ke arah kiri, tidak ada apa-apa juga. Lalu dari mana asal suara itu, sampai terdengar kembali suara itu dan perlahan-lahan ketika aku melihat ke bawah. Astaga sosok wanita dengan rambut keriting yang berantakan, merangkak di dinding luar kamarku.

Mukanya hancur dan dengan rahang yang seperti mau lepas, dia tertawa cekikikan sambil terus memanggilku. Aku berlari sekencangnya keluar dari kamarku dan menuju kost an temanku. “Lan, buka pintunya. Lan cepat buka pintu” teriakanku pada teman kost, Ruslan dan beberapa teman kost lainnya pun terbangun. Suasana dini hari itu menjadi ramai, setelah tenang aku pun bercerita aku diganggu setan wanita.

Salah seorang penjaga kost an pun bertanya apa sosok wanita itu berambut keriting, aku pun dengan sangat jelas mengiyakan bahwa sosok wanita itu berambut keriting. Dan menurut penjaga kostku, sosok wanita itu sering kali mengganggu penghuni di daerah kost an ini namanya adalah Indri. Dia korban kecelakaan kendaraan bermotor dan saat itu Indri yang dibonceng terpental dan terjatuh dengan posisi arah dagu terlebih dahulu.

Dia pun meninggal kemudian, tepatnya adalah jalan dibelakang kamar kost ku ini. Setelah kejadian itu sosok Indri di kost an ini menjadi sebuah cerita yang sering diceritakan, kehadiran Indri tidak membuatku dan teman kost an disini meninggalkan kost ini. Aku masih tinggal disini, aku dan teman-temanku semua mencoba untuk berani. Karena semakin kita berani, semakin sulit untuk mereka mendekati kita. Dan percayalah kita adalah mahluk yang lebih sempurna dari mereka.

Share This: