Tiga Kunti Mengejar Kami

Hai reader KCH. Waktu itu aku dan kedua teman kampus namanya Dina dan Dini (mereka kembar). Jadi aku, Dina dan Dini selepas pulang dari kampus berencana ingin hangout ke mall yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kampus. Kami pun belanja, makan dan main timezone sampai tak terasa waktu sudah menjelang maghrib. Singkatnya, aku, Dina dan Dini naik taksi untuk pulang kerumah, kami sewaktu itu satu taksi.

Rumah Dina dan Dini yang jaraknya lebih dekat dari rumahku dengan maksud satu taksi agar kami bisa patungan. Ok, setelah naik taksi, dan gerimis pun turun, kami yang berada didalam taksi ngobrol tentang barang-barang yang kami beli di mall tadi, kualitas barangnya serta harganya dan juga menertawakan tentang Dini yang tersandung saat asyik main dance-dance revolution di timezone.

“*Haha Din, Din. Aku kalau jadi loe, sumpah. Malu banget” kata Dina.”*Haha, haha, makanya. Loe jangan kebanyakan gaya. Itulah sok ahli. Sok dancer saja loe, *soek banget” sambungku. Setelah kami puas menertawakan Dini, tiba-tiba taksi yang kami tumpangi mogok disebuah jalan motong. Karena kami yang menyuruh pak sopir untuk motong saja, biar cepat karenakan hujan.

Hujannya makin deras pula. “Ya, taksinya mogok. Bagaimana nih!” Dini mulai cemas, aku lihat dari raut wajahnya. Siapa gak cemas, coba. Kami berhenti pas ditempat banyak pepohonan besar, apalagi sedang hujan dan langit sudah gelap serta tidak ada lalu lalang orang atau kendaraan yang lewat. “Bagaimana, pak?” tanyaku untuk memastikan apakah taksinya sudah benar apa belum.

Kemudian pak sopir malah bilang “begini mbak, mesinnya tiba-tiba gak mau dinyalakan. Gak tahu nih entah kenapa. Padahal sebelum saya mau kerja, saya sudah ngecek semuanya. Tapi aman-aman saja. Ini malah!” si sopirnya malah kebingungan. Aneh! Pikirku. Dina dan Dini mulai ketakutan dan sudah was-was. “Lihat deh, Gin. Pohonnya besar-besar banget. Aku jadi takut nih, kalau tiba-tiba ada…!”.

Wah, Dina mulai ngomong yang aneh-aneh. Tiba-tiba “Gin, loe kan bisa ngelihat hantu, kan? Coba deh, loe lihat ke pohon yang ada diujung. Apa aku yang salah lihat atau gimana. Kayak, ada kain gitu. Kain putih”. Sontak aku, Dini dan pak sopir kaget mendengar Dina ngomong seperti itu. (Karena hujan deras, kami pun memutuskan untuk berada didalam taksi dulu, baru kalau hujan sudah reda, kami bakal mencari taksi lain).

Kemudian aku, Dini dan pak soopir melihat kearah pohon yang dituju. Tapi Dini dan pak sopir tidak melihat apapun. “Waduh, din. Dalam keadaan seperti ini, gak bagus bercanda yang begituan” kata Dini, seraya memegang tangan kananku, mencengkramnya karena ketakutan. Aku pun memperhatikan dengan sesama. Buset! Ampun banget. Ya, aku memang melihat. Itu bukan sekedar kain putih biasa. Itu adalah kuntilanak.

Setelah aku selidiki lagi, ampun-ampunan, kuntilanaknya bukan hanya satu, tapi sekali tiga. Ini kunti, mau nakut-nakuti apa mau demo, banyak banget bawa rombongan, *hehe. Aku diam saja, tidak bicara apapun. Walau bolak-balik Dina dan Dini serta pak sopir menanyakan hal yang tadi, aku tetap diam. Aku gak mau kalau sampai mereka ketakutan dan aku hanya bilang “kalian berdoa saja. Baca doa banyak-banyak”.

Mendengar aku bilang baca doa banyak-banyak, mereka malah kayak cacing kepanasan, *hehe ketakutan. “Ah, kacau nih. Kalau Gina sudah bilang baca doa, betul berarti yang ku lihat tadi” kata Dina. Mereka pun sibuk membaca segala jenis doa, aku pun ikut serta. Bukan apa-apa ya, walau aku sering ngelihat yang begituan, aku gak pernah lihat kuntilanak bawa rombongan.

Gini-gini pun ada perasaan takut juga, *hehe. Di tengah-tengah baca doa, aku lihat lagi kearah pohon dan, astaga. Mereka bertiga melihat ke arah taksi kami. Bagaimana nih. Mau kabur, tapi hujan deras, gak kabur jadi bahan tontonan kunti. Aku lihat lagi, dan malah mereka bergerak menuju arah taksi kami. Waduh! Gak betul nih. Aku pun langsung bilang ke Dina, Dini dan pak sopir “*hm, Dina, Dini, pak. Mending kita keluar saja dari taksi ini. Ayo!”.

Mendengar itu, mereka terheran-heran dan Dini mulai curiga. “Kenapa? Apa memang hantunya datang kemari?” kemudian pak sopir menyambung “mbak, inikan masih hujan deras?”. Aku sungguh bingung, bagaimana nih? Kami semua tak ada yang membawa payung. “Aduh, sudah deh, gak usah banyak basa basi. Kita keluar saja, tapi nanti kalau sudah keluar, kita langsung lari sekencang-kencangnya”.

Mendengar itu, mereka bukannya ambil posisi untuk keluar dan lari, ini malah nangis (Dini) dan malah banyak tanya (Dina dan pak sopir) “serius. Kenapa?” Aku pun menjelaskan semuanya. Dan, astaga! Mereka terkejut berbarengan “apa!” (ala sinetron). Kami berempat pun siap-siap ambil posisi untuk keluar dan kabur, aku memulai hitungan “Satu, dua, ti-ga”, dan kami semua keluar dari taksi itu.

loading...

Buset, trio kunti itu malah mengejar kami. Kami pontang-panting lari tak ketulungan sampai sampai bolak-balik ada saja yang terpeleset karena jalannya licin. Kami pun lari sambil basah-basahan, trio kunti itu masih saja ngikuti kami. Sampai akhirnya kami masuk kejalan ramai orang lalu lalang. “Huft, syukurlah” kata Dini. Kami pun berhenti sejenak untuk mengambil nafas kami yang berceceran kemana-mana.

“Mana nafasku. Carikan nafasku, *huft, huft” waduh, si Dina mulai gila nih. “Gin, loe gak bohongkan. Trio kunti yang ngejar kita?” tanya Dini. “Iya. Tapi tenang. Mereka sudah gak nampak”. Tak terasa hujan pun berhenti, kemudian pak sopir minta kami bertiga dan beberapa orang warga yang disana untuk nganterin dia ngambil taksi. Dan sampai di TKP tadi, kami semua heran dan bingung “mana taksinya?”, selesai.

Fiolin Fradah

Sezgina Fradah

Thank you for reading my stories.
Thank you for liking my stories
Thank you so much…
Terimakasih,Thank you,Arigato gozaimasu, kamsahamnida,Xie-xie,Merci bien,Dankejewel,Matur nuwun,Tarimo kasih,Hatur nuhun,Bujur…

All post by:

Sezgina Fradah has write 94 posts

Please vote Tiga Kunti Mengejar Kami
Tiga Kunti Mengejar Kami
Rate this post