Tok, Tok, Tok. Siapa? Nenek!

Hai pemirsa KCH dan admin kak John. Aku Ginong, mengucapkan. Selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin. Loh! Cut, cut. Salah, salah, bukan. Maksudnya, aku mau mengucapkan terima kasih untuk Salma Siti Fatimah yang telah menyukai kisah-kisahku dan kamu punya cerita, bagus-bagus loh. Aku selalu membaca postingan kamu dan postingan writer lainnya. Always be good.

Ini kisah dialami oleh tetanggaku dulu sewaktu aku tinggal di Kalimantan. (Sekarang aku tinggal di Medan. Horas bung!) Saat SD aku punya tetangga sekaligus teman sekolah bernama Nana, Arul, bang Ocol, dan Lusi. (Nana dan Arul kakak beradik. Teman satu sekolah itu Arul). Kalau anak SD dulu 360 derajat berbeda dengan anak SD sekarang.

Anak SD dulu suka banget bermain sama teman-teman seusianya dan anak SD dulu belum pada dewasa, alias masih Bosan (bocah ingusan) tapi kalau sekarang, anak SD. Ah! Malas lah ngomonginnya. Pasti kalian tahulah ya. Gak usah dibahas. Dulu aku dan teman-temanku sering banget main dihalaman rumahku kalau gak dihalaman rumah Arul. Kami main lompat karet, petak umpet, main gundu alias batu lima atau juga main batu banyak, main tok-tokan atau namanya main bongkar pasang, yang barbie dari kertas itu loh, yang kepalanya kalau salah gunting, kegunting sampai habis, bisa sengkle/tengleng/mereng sebelah tuh kepala barbie.

loading...

Kalau kalian seusiaku, masa kecil kalian. Sempurna *hehe, terus main jualan-jualanan, kemudian main sim-sim terima kasim-sim, simpan buah rambutan-tan, tanduk ular mati-ti, tikus main diloteng-teng, tengok (kok jadi nyanyi!) maaf ya, kesalahan teknis, maksud aku nama mainannya itu main sim-sim terima kasim-sim, simpan buah rambutan-tan, tanduk. (Nyanyi lagi. Gila ini Ginong lama-lama).

Aduh macam mana ya, nama mainannya memang macam gitu. Aduh! Pusing pala bar-bie lah). Ok, lah. Jadi sekian banyak mainan yang kami mainkan (masih banyak lagi sih kalau disebutin dan bakal gak siap-siap sampai si tukang haji naik bubur kemudian naik haji lagi) sebagai anak bosan (bocah ingusan), ada satu permainan yang paling sering kami mainkan nama permainannya “tok, tok, tok. Siapa? Nenek!” itu namanya.

Gini nyanyinya, dengarin ya. Tok, tok, tok. Siapa? Nenek! Darimana? Kuburan. Bawa apa? Tengkorak. Hidup atau mati? Hidup. Makanannya apa? Ayam mati. Minumnya? Darah. Siapa yang ngantarin? (*Aha! Kira-kira siapakah yang akan mengantarkan sajian itu? Jawab sendiri ya!). Gitulah nyanyiannya guys. Cara mainnya, kita buat lingkaran dari kapur dilantai semen.

Buat lingkarannya yang besar. Lingkarah itu adalah sebagai rumah pemilik. Misalnya aku, Arul, Nana dan bang Ocol ada didalam lingkaran itu, berarti kami si yang punya rumah. Kami gak boleh keluar dari lingkaran itu. Kalau gak mau mati dimakan nenek-nenek. Sedangkan Lusi yang diluar menjadi nenek-neneknya yang minta darah dan ayam mati. Caranya gini, lusi yang ngetuk-ngetuk itu dari luar, kami didalam lingkaran.

Kami jawabnya didalam lingkaran saja, gak usah keluar. Nanti mainnya seperti nyanyian tadi. Ketika terakhir kami tanya, siapa yang ngantarin? Lusi berhak memilih yang ngantarin ayam mati dan darah itu siapa. Misalnya nih, aku. Ya sudah, aku yang antarin dan cepat-cepat keluar dari situ selamatkan diri masuk kelingkaran kedua, jangan sampai ketangkap sama Lusi.

(Sebelumnya buat juga lingkaran tiga buah. Lingkaran pertama yaitu rumah utama, tempat kami berkumpul tadi. Lingkaran kedua, rumah yang harus kami masuki agar selamat. Sama juga dikelingkaran ketiga, rumah seperti lingkaran kedua, yang jarak antara lingkaran lumayan jauh. Jadi harus pandai-pandailah selamatkan diri dari si nenek. Terus setelah dilingkaran ketiga, harus berusaha bisa masuk lagi kelingkaran utama. Siapa yang berhasil. Dia masih boleh ikut main).

Kemudian, masuk ke lingkaran ketiga dan masuk lagi kelingkaran utama. Ya, begitulah cara mainnya. Seru kan! Gak kayak sekarang, anak SD mainannya, ya tahu lah. Sudah? Setelah main. Kami semua kecapekan dan kami pulang kerumah masing-masing untuk beristirahat. Malam harinya, ini yang seru. Rumah Arul dan Nana adalah rumah sewa. Rumah mereka itu angker, jadi saat malam hari, dirumah mereka ada yang ngetuk. “Tok, tok, tok! (3 kali)” kemudian dijawab sama mamaknya Arul “Siapa?” kemudian dijawab dari luar “Nenek!” mendengar itu, mamaknya Arul langsung kaget.

Nenek? Nenek siapa ya? Malam-malam datang. Kemudian mamak Arul pun membukakan pintu dan ternyata tak ada siapapun diluar. Kemudian dia masuk dan ada lagi yang ngetuk “tok, tok, tok” mendengar ketukan itu, mamak Arul memanggil bapak Arul untuk bangun dan mengecek, siapa malam-malam ngetuk? Saat diperiksa, gak ada orang. Waduh! Besok harinya, biasa lah. Emak-emak kan sukanya “pergi kapal” alias “go ship” *haha gosip loh! Jadi mak Arul cerita ke mak Gina (enyak. Mamak’ke. Mami I. Mamaku. Ibu saya. My mom).

Di ceritakannya kejadian semalam kepada mamanya si Gina. Kami si bosan (bocah ingusan) bisanya cuma 3D, didengar, dirasa, dibuat.

1. didengar. Kami mendengarkan dari A sampai Z apa yang dikatakan sama emaknya si Arul dan sangat seram. *Ui. Wih! Se-ram.
2. dirasa. Setelah kami dengarkannya seram amat dan amat seram (kasihan si Amat), kami merasakan bulu kuduk kami sampai merinding kribo.
3. dibuat. Ya, walaupun sudah didengar seram dan sampai dirasa merinding kribo, tapi kami tetap masih main tok, tok, tok. Siapa? Nenek! itu, *haha.

Walau sudah dilarang sama masing-masing kami punya mama, tapi kami gak urus, *haha, namanya anak-anak. Suka-suka, dong, ding, dung! Sampai karena kami gak percaya, kami masih main itu. Saat asik main, kami para bosan sampai bosan, *haha.

Maksudnya saat kami asik main, tiba-tiba Arul bilang “Woi. Nenek-nenek itu lihatin saja. Aku takut. Jangan-jangan itu hantu semalam yang ngetuk rumahku. Gara-gara kita main tok, tok, tok.. (lanjutkan saja ya, capek ngetiknya)”. Terus bang Ocol dengan santainya bilang “ya, biarkan saja lah dia menengok kita. Orang dia punya mata. Mata, mata dia, masa kau yang ngatur” *haha. 1-0 telak. Selesai.

loading...