Tolong

Cerita yang saya buat ini adalah pengalaman yang saya rasain dengan nyata. Pertama saya kerja di PT swasta di ibu kota Jakarta. Tanggal 16 Oktober saya dapat panggilan interview di PT itu. Saya melakukan proses interview dengan lancar, tanggal 17 oktober saya resmi jadi karyawati di Perusahaan tersebut. Awal kejadian ini semulanya hanya biasa saja dan saya kira hanya halusinasi saya.

Saya, melihat seorang gadis duduk di tangga tepat berada didepan toilet kantor khusus karyawan/karyawati. Saya masuk pintu toilet saya melihat perempuan itu, dengan rasa sopan saya bilang “permisi mbak”. Tapi perempuan itu tidak menjawab. Pikir saya, ah mungkin mba itu lagi merenung karena masalah keluarga.

Tanpa pikir panjang saya masuk ke toilet. Dan setibanya saya keluar. Saya masih melihat perempuan itu. Saya tanya kembali “mba gak masuk ke ruang kerja? Sudah masuk jam kerja loh mba. Oh iya perkenalkan mba, nama saya Reni, saya karyawan baru. Baru masuk hari ini” saya meminta berjabat tangan. Tapi tidak di respon.

Penampilan perempuan itu sangat aneh, tidak sewajarnya karyawati lainnya yang rapih dan berdandan. Saya kira, ah mungkin mba ini tipekal perempuan kayak saya yang gak suka dandan, tapi kenapa pakaiannya begitu kotor. Rok pendek hitam hampir sedengkul, sepatu tinggi yang penuh corak merah seperti darah tapi saya pikir,itu corak sepatunya dan rambut hitam yang panjang yang hampir menutupi mukanya. Perempuan itu menghiraukan jabat tangan saya. Langsung saja saya tidak perdulikan dan masuk ke ruang kerja.

Sudah hampir seminggu saya bekerja. Saya penasaran dengan pertemuan saya dengan perempuan tersebut. Saya mikir, loh kok saya bekerja disini sudah hampir seminggu. Tapi kok gak melihat mba yang waktu itu ya, saya mau tanya kepada karyawati lainnya. Tapi saya orangnya memang gak suka *kepo dengan kehidupan orang lain. Apalagi dalam seminggu saya bekerja. Saya ke proyek itu 3 hari. Jadi saya kira, ah palingan mba itu sibuk kali/karyawati kantor ini cuma sekarang dipindahkan di cabang lain.

Kemudian tanggal 23 oktober saya dikantor hanya ada bos, dan 3 karyawati termasuk sama saya. Selebihnya pada ke proyek dan ngurus perpajakan di kantor pajak. Karyawati mba A, sebut saja mba A dan mba B.

Mba A: ren, saya ke bank dulu ya. Nanti kalau bos nanya saya transfer uang makan dulu buat yang di proyek.
Saya: iya mba

Kemudian ketika istirahat mba B juga izin

Mba B: ren, saya beli makan dulu ya. Kamu mau titip gak?
Saya: oh, enggak mba. Reni bawa bekal. Iya mbak. Jangan lama-lama ya reni takut *hehe. (Soalnya saya itu orang yang penakut).

Saya pun sendiri diruang kerja tersebut. 10 menit kemudian bos turun, lalu ke ruang kerja dan bilang sama saya.

Bos: ren, yang lain kemana?
Saya: mba A ke bank, mba B beli makan pak, sekarang kan jam istirahat.
Bos: oke, saya meeting dulu ya. Oh iya jangan tinggalin kantor dalam kondisi kosong ya. Di atas tinggal pembantu *doang. Soalnya dia lagi beresin meja saya. Kalau dia sudah selesai kamu tutup ruangan saya ya.
Saya: baik pak.

10 menit kemudian. Pembantu (p), saya (s).

P: mba reni, saya sudah selesai. Saya balik ke dapur ya mba.
S: kunci ruangan bos mana mba?
P: itu di *cantol di pintunya mba.
S: oke. Makasih ya mba.

Selepas pembicaraan tersebut. Saya langsung ke ruangan bos. Dan ketika saya sedang memegang kunci untuk menutup pintu bos. Saya melihat mba yang duduk ditangga depan toilet itu ada didalam ruangan bos. Saya piker mba itu bukannya yang saya lihat ditangga ya? Loh kok bisa diruangan bos? Sedangkan katanya bos. Di ruangan cuma ada pembantu. Tanpa curiga saya beranikan diri untuk masuk lalu saya bertanya.

loading...

Saya: permisi mba, mba siapa? Kok bisa diruangan bos? Saya mau menutup ruangan ini. Amanah dari bos.

(Suasana hening). Saya beranikan diri untuk bertanya lagi.

S: mbak. Tolong keluar ya. Ini amanah. Saya harus menutup ruangan ini.
Dan kemudian mba itu keluar dari ruangan bos. Saya pun menutup ruangan bos. Ketika saya kedapur. Untuk mencuci tempat makan. Saya bertanya sama pembantu yang kebetulan membersihkan ruangan bos tadi.

S: mba, tadi mba yang bersihin ruangan bos kan?
P: iya mba. Ada apa?
S : kok, mba ngijinin perempuan masuk keruangan bos? Kalau bos tahu bagaimana?
P: perempuan mana yang mba maksud? Di ruangan bos. Saya cuma sendiri bersihin meja bos.

Bulu kuduk sudah mulai merinding. Tanpa saya jawab. Saya langsung kembali ke ruang kerja saya.
Setiba saya duduk diruangan. Telepon berbunyi, saya angkat. Saya jawab

S: hallo, selamat siang dari PT *blablabla ada yang bisa saya bantu?

Yang menelepon pun menjawab. Dari suaranya terdengar suara perempuan

S: hallo,dengan siapa saya berbicara?

(Masih hening).

S: hallo

Kemudian dia menjawab.

Penelepon: tolong *hiks, hiks, tolong.
(Dari suaranya bikin merinding).

S: ini siapa ya? Maaf kalau tidak jelas akan saya tutup telepon dari anda
P: tolong

Kemudian saya tutup telepon itu. Saya panik. Barusan yang nelepon saya siapa? Mba A dan mba B sudah datang. Dan melihat muka saya yang pucat. Mereka bertanya.

Mba A,mba B: ada apa dik? Kok mukamu pucat.
S: tadi ada yang nelepon ke nomor kantor. Minta tolong sambil menangis. Saya tanya dengan siapa tapi tidak dijawab.
Mba B: sudah, palingan orang iseng. Memang sering kok begitu.

Saya pun agak tenangan. Tapi saya masih memikirkan perempuan yang diruangan bos. Hari mencengkramkan itu pun berlalu. Pada tanggal 6 kejadian itu kembali terjadi. Ketika saya lagi mencuci muka di wastafel sebelah toilet. Perempuan itu kembali duduk ditangga depan toilet. Tapi masih mengenakan pakaian yang sama. Saya pikir itu mba yang pertama kali saya lihat duduk disitu. Kok pakaiannya sama. Apa mba itu gak mandi-mandi? Cantik kok jorok. Tak lama kemudian saya berpikir begitu. Mba itu malah menangis, *hiks, hiks, hiks, tolong.

Seketika bulu kuduk merinding. Mana posisinya lagi cuci muka sabun muka masih belum dibilas pakai air. Aduh sumpah pingin cepat-cepat keluar pintu toilet, terus lari ke ruangan kerja. Saya buru-buru membersihkan muka. Setiba saya selesai. Saya buru-buru mengenakan hijab saya kembali dengan peniti. Tetapi peniti saya tidak ada ditempat yang saya taruh. Mungkin terjatuh. Dan saat saya cari di lantai. Saya melihat kaki (menapak sih, cuma tanpa alas kaki, kulit pucat) saat saya mencoba memberanikan diri untuk melihat ke atas tubuh tersebut.

Tiba-tiba dari orang tersebut berkata “ini peniti kamu” mengulurkan tangan yang berisi peniti. Dari suaranya kayak sedih mendengarnya. Saya pun mengambil peniti itu tanpa melihat orang tersebut. Saya percaya itu mba yang ditangga itu. Soalnya memakai rok. Tapi tidak menggunakan alas kaki dan kakinya pucat. Tanpa pikir panjang saya keluar toilet. Saya lari sekencang-kencangnya. Setiba diruangan kerja.

Mba A, mba B: kamu kenapa ren. Ada apa? Kenapa lari dan mukamu pucat.

Saya pun tidak menjawab. Karena saking takutnya. Badan saya pun seketika jadi panas dingin. Dan saya terjatuh sakit. Saya ijin tidak masuk 1 hari. Dan masuk kembali tanggal 8. Kemudian tanggal 11 kantor kami akan mengadakan pameran di salah satu tempat pameran di Jakarta terletak di Jakarta Utara. Mau tidak mau kami karyawan/karyawati mengambil dan mengangkat barang yang berada di gudang lantai 3. Seketika di gudang. Hawanya begitu panas dan aromanya begitu tidak baik. Seperti ada sesuatu yang menempati.

Mba A: ayo ren masuk. Kita harus cepat-cepat. Keburu bos memanggil.
S: *hmm, iya mba. Baik.

Ketika masuk ke gudang tersebut. Memang benar adanya. Saya melihat perempuan itu kembali. Tapi dengan penampilan yang berbeda. Benar-benar seperti tidak terurus. Rambut panjang yang berantakan. Baju yang berantakan, robek dibaju bagian lengan. Dan rok yang penuh darah. “Ya Allah, siapa itu?” dalam hati. Karena tidak mau membuat mba A mba B dan karyawan takut.

Mba B: jangan bengong. Di sini gak bagus untuk melamun. Nanti kamu ketempelan.
Mba A: iya ren.
S: iya mba.

Dan saya fokus kepada 1 benda yang menurut saya itu gak asing dimata saya.

S: mba A, cermin yang disitu untuk apa? (Saya menunjuk).
Mba A: kamu jangan menunjuk-nunjuk sembarangan reni!
S: kok mba marah?
Mba A: bukan begitu maksudnya, maaf. Nanti kamu bakal tahu sendiri.
Mba B: sudah, ayo angkat saja barang-barang ini.

Barang sudah diangkat semua.

Bos: saya butuh 10 orang ikut saya di pameran.

Dan mereka yang 10 orang karyawan/i berangkat. Tapi hanya mba A yang tidak mau berangkat.

Mba A: pak, maaf saya tidak ikut. Saya disini sama reni saja ya pak. Soalnya saya takut ada telepon dari perpajakan.
Bos: oke

Kami pun dikantor hanya berdua.

S: mba, kok gak ikut?
Mba A: saya disini sama kamu saja ren.
S: kenapa mba?
Mba A: mau jagain kamu saja. *Hehe.
S: si mba ada-ada saja *hehe.
Mba A: kamu mau makan apa ren? Mba beli dulu ya ketoprak kebetulan di depan kantor kita mangkalnya.
S: baik mba. Saya pesan 1 ya mba gak pedas.

Dan saya pun kembali sendirian dikantor ini. Di sebelah saya ada komputer mba B yang mati. Dan seketika tiba-tiba nyala dengan sendiri. Awalnya *parno. Tapi saya hiraukan. Kemudian mouse yang letaknya tidak jauh dari saya berpindah tempat sendiri. Saya pikir “halusinasi lu saja ren”. Bangku yang bergerak sendiri mendekati saya. Saya benar-benar ketakutan. Kemudian saya berlari keluar pintu kantor.

Mba A: kamu kenapa ren?

Orang orang yang beli ketoprak pada melihat tingkah saya yang aneh.

Mba A: ayo masuk. Ceritanya didalam saja ya.

Saya masih diam.

Mba A: kamu kenapa?
S: itu mba.
Mba A: *ssstt, eh kamu ngapain disini. Apa yang kamu mau dari anak ini. Dia masih baru disini, kenapa kamu ganggu?

Saya bingung. Mba A bicara sama siapa. Jelas jelas cuma berdua.

Mba A: kamu bisa lihat ya ren?
S: saya? Lihat apa?
Mba A: kamu selama ini di isengin. Padahal kamu lihat. Tapi kamu tutupin kan dari saya.
S: iya mba. Tapi saya bingung. Kenapa saya cuma bisa lihat dia. Padahal saya merasa disini banyak. Bahkan di gudang atas lebih banyak. Kenapa saya bisa lihat dia *doang?
Mba A: karena dia mau kamu tahu tentang kehidupan dia. Saya saranin, *cuekin saja ya ren.
S: baik mba.

Kami libur. Tanggal 13 kembali masuk. Saya pun kembali hanya berlima sama karyawan. Mba A gak masuk, mba B masih ke pameran. Dan hanya 4 karyawan di ruang seberang ruang tempat kerja karyawati. Seketika angin tiba-tiba kencang pukul 15:30 dan kebetulan saya lagi haid. Saya merasa seperti ada yang ingin datang. Dan ternayata benar. Komputer karyawati pada nyala. Padahal saya hanya sendiri.

Karyawan pada asik sendiri dengan pekerjaannya. Mouse yang berbunyi, keyboard seperti ada yang mengetik. Feeling saya “di ganggu lagi ini mah”. Dan ternyata benar. Saya melihat pintu toilet kebuka sendiri. Dan saya melihat Mba/perempuan yang suka duduk ditangga itu ingin menghampiri saya. Hanya berbedanya dia tidak nampak kakinya. Dia terbang. Pakaiannya masih sama. Saya masih gak mau takutin diri saya. Saya bikin lelucon di pikiran saya “*jablay mana lagi itu. Ya Allah lindungin saya”.

Ingin rasanya teriak. Biar karyawan yang didepan pada dengar saya. Tapi saya gak bisa teriak dan menakuti yang lainnya. Kemudian saya ambil headset di tas. Saya pakai headset itu. Tak lama saya pakai headset itu. “Dia” yang tak nampak menurut pandangan orang lain. Duduk persis ditempat duduk samping saya (tempat duduknya mba B) mungkin hanya berjarak 3 meter (ngeri gila) keringat dingin. Dan benar-benar ngelihat.

Mukanya penuh lembab, pucat, bibir penuh darah, mata yang lesu seperti menangis terus, rambut panjang yang tidak pernah terurus seperri tidak disisir, kaki yang biru-biru seperti membusuk. “Ya Allah, kenapa perempuan ini. Apa yang dia alami semasa hidupnya”. Kemudian terdengar suara dia (walaupun saya memakai headset, saya masih bisa mendengar suaranya, tetapi pura-pura menghiraukannya).

Dia: reni.

(Gila benar-benar gila. Saya menyesal kenalan sama hantu saat pertama ketemu).

Dia: tolong.
Dia: tolong.
Dia: tolong saya.
Dia: saya tahu kamu dengar saya. Tolong lihat saya. Saya ingin tenang.
Dia: tolong saya.
Dia: tolong. (Dengan suara yang menyeramkan).

Akhirnya memberanikan diri saya mencoba mencopot headset. Dan seketika bunyi telepon dari mba A.

Mba A bilang: ren, kamu kalau dimintain tolong sama dia. Jawab saja. Tapi jangan menatap matanya. Nanti kamu dibawa ke alamnya. Dia baik. Dia cuma mau didoain *doang. Awalnya saya kira dia jahat. Dia juga pernah ngegentayangin saya. Karena saya bisa lihat. Tapi saya hiraukan akhirnya dia menangis ditangga toilet.
S: baik mba.

Dan akhirnya saya lepas headset saya. Saya menunduk. Tidak melihat wajahnya hanya melihat kaki dan lantai. Saya jawab.

S: apa yang mba harapkan dari saya? Saya gak bisa apa-apa.
Dia: tolong doakan saya. Bacakan saya. Saya ingin tenang.
S: tapi kalau saya bacain mba pakai surat-surat Al Quran. Mba janji gak akan ganggu saya.
Dia: saya janji.
S: baiklah. Tolong mba pergi. Mba jangan ganggu kami. Dan mba jangan duduk disitu lagi. Mba pergi ke alam yang Allah sudah tentukan.

Kemudian dia pergi. Dan saya langsung ambil tas. Saya cari Al Quran . Saya pikir lagi, saya kan lagi haid, ya Allah saya lupa. Sudah mana keburu janji. Kemudian saya lari ke ruang karyawan. Saya minta tolong sama 4 karyawan . “Mas, mas, baca Al Quran yuk. Tolong. Soalnya saya lagi haid”.

Mas: kenapa dik? Kamu kenapa?
S: gak apa-apa mas. Ayo mas tolong. Baca Al Quran bareng ya. Saya buka surat yasin lewat ponsel. Mas, mas ambil Al Quran dilemari.

Dan kitapun membaca bersama-sama. Alhamdulillah setelah kejadian tersebut. Dia tidak mengganggu saya. Dan saya hidup didunia masing-masing yang sudah Allah tentukan. Banyak pelajaran dari kejadian seperti ini.

Reni Dwi Ningsih

Reni Dwi Ningsih

Hallo saya Reni Dwi Ningsih
Hanya Wanita yang suka menulis dan membuat karya tulisan dalam bentuk cerita.
Semoga suka ya
Mau lebih kenal bisa follow ig : rdn_13

All post by:

Reni Dwi Ningsih has write 2 posts

Please vote Tolong
Tolong
4.4 (88.57%) 7 votes