Ujung Genteng Sukabumi

kejadian seram ini terjadi ditahun 2009 bulan september kami berjumlah 7 orang (saya, aris, ryan, joni, okta, putri, anis) berencana berlibur disalah satu pantai yang ada di Sukabumi. Berangkatlah kami siang itu menggunakan sepeda motor menuju ujung genteng sekitar jam 2 siang via Cibadak hingga sampai dilokasi sekitar jam 10 malam, rencananya kami ingin camping di pantai ujung genteng karena kami sudah membawa tenda dari Jakarta menuju Sukabumi tapi rencana kami gagal karena air laut sedang pasang, ditambah hujan deras.

Kami memutuskan mencari villa di daerah Sukabumi yang harganya murah karena bugdet kami pas-pasan, setelah mencari kesana kemari akhirnya kami dapat 1 villa dengan harga 110rb/malam tapi lokasi villa itu lumayan jauh dari rumah penduduk dan sepertinya sudah lama kosong. Tanpa berpikir yang aneh-aneh kami segera masuk kedalam dan mulai membereskan barang bawaan.

Putri langsung menuju kamar mandi yang berada terpisah belakang villa karena kebelet BAK, setelah selesai dia langsung berkumpul bersama kami yang sedang ngobrol diruang tengah. Kali ini aris yang giliran kebelat BAK dan langsung berlari menuju kamar mandi, tapi dia kembali lagi dan menanyakan pada putri “dimana saklar lampu?” putri pun menjawab “tidak tahu karena pada saat dia kekamar mandi keadaan lampu sudah menyala”.

Akhirnya putri menemani aris sambil membawa senter untuk mencari saklar lampu tapi bukan menemukan saklar lampu mereka berdua malah dikejutkan karena saat menyorot kearah tempat lampu tertanya hanya terdapat *pitingnya saja tidak ada bohlamnya, padahal saat pertama putri kekamar mandi dia yakin bahwa lampu dalam keadaan menyala.

Karena penasaran kami semua pergi kekamar mandi dan ternyata benar hanya ada *pitingnya tidak ada bohlamnya, “sudah kencing saja disitu sambil menunjuk arah pojok” kata joni. Kami semua kembali keruang tengah dan langsung bermain kartu remi untuk mengisi waktu, sementara para gadis masih sibuk membicarakan perihal kamar mandi. Lagi-lagi kejadian ganjil terjadi, kali ini pintu depan yang sudah di slot pada saat kami masuk tiba-tiba terbuka sendiri, kami semua mulai panik dan memutuskan untuk tidur bersama diruang tengah, kebetulan kami membawa matras untuk alas.

Tapi sepertinya tidak ada dari kami yang bisa tidur hingga tiba-tiba 4 orang diantara kami (ryan, okta, putri, anis) mendengar suara laki-laki tertawa dengan keras. Mereka langsung terbangun “siapa tuh yang ketawa?” kata anis dengan wajah panik, saya dan joni memutuskan keluar dan mengelilingi villa tapi kami tidak menemukan siapapun. “Sudah pada tidur lagi, mungkin pada kecapekan kali lu” saya mencoba mengalihkan pembicaraan, tapi saya juga sebenarnya penasaran apa yang sebenarnya mengganggu kami. Saya dan joni tetap terjaga sambil ngobrol rencana besok.

Gangguan kembali terjadi kali ini seperti ada yang timpukin genteng villa pakai batu kerikil, saya dan joni saling menatap “*codot kali jon” ucap saya, dan lagi-lagi genteng seperti ditimpuk tapi kali ini dengan jumlah batu yang lebih banyak. Saya sama joni mutusin buat memastikan keluar, baru pintu dibuka joni langsung istighfar.

loading...

“Astagfirullah, astagfirullah, apaan tuh jar” tanya joni.
“Apaan si jon? Saya gak lihat apa-apa”.
“Genderuwo tuh disamping bale” joni sambil menunjuk kearah bale.

Tapi saya benar-benar gak lihat apa-apa. Akhirnya kami kembali masuk kedalam villa.

“Lu kagak lihat jar orang bayangan gede matanya merah disamping bale?” tanya joni.
“Saya kagak lihat apa-apa jon sumpah dah”.

Saya masih percaya nggak percaya dengan yang menimpa kami di villa ini, teman saya yang lain pun juga sudah pada panik mendengar cerita joni terutama para cewek. Kami bingung antara tetap bertahan di villa itu atau keluar mencari bapak yang menyewakan villa ini kepada kami, setelah berunding kami sepakat kalau saya dan joni keluar mencari rumah si empunya villa dan yang lain tetap menunggu di villa.

Tapi baru sekitar 10 meter langkah kami. Kembali kami dikejutkan dengan sosok hitam yang menggelantung dibawah batang pohon, sialnya kali ini saya juga ikut lihat sosok itu, saya dan joni lari menuju villa dan kami memutuskan untuk pergi dari villa itu mencari tempat yang lebih aman. Di tengah hujan kami ber-7 pergi dari villa itu dan setelah jalan sekitar 2 KM kami bertemu warung yang masih buka dan memutuskan beristirahat diwarung itu.

Saya menjelaskan kepada pemilik warung bahwa kami baru saja mengalami hal aneh di villa, dan bapak pemilik warung menjelas kan bahwa villa yang kami sewa memang sudah lama tidak dihuni karena pemilik rumah asli telah lama meninggal dan kabarnya villa itu ada penunggunya makanya di patok dengan harga yang jauh dari standar. Sekian dan terima kasih telah membaca cerita dengan judul ujung genteng Sukabumi.

fajarinjani

fajarinjani

pecinta alam dan menyukai hal hal berbau mistis

All post by:

fajarinjani has write 1 posts

Please vote Ujung Genteng Sukabumi
Ujung Genteng Sukabumi
Rate this post