Ujung-Ujung Penunggu Jembatan Kali Blimbing

Hai nama saya Huda kali ini saya akan berbagi pengalaman saya yang tidak akan saya lupakan, langsung saja. Saat itu malam minggu saya disuruh bibi untuk jemput anaknya yang ada di Kedung Sari, kampung itu lumayan jauh, karena itu saya berangkat sore hari pukul 17:30 sampai sana pukul 18:30 disana saya nonton tv di rumah anaknya bibi yang bernama Sukma.

loading...

Saya dan sukma ketiduran dan baru bangun pukul 10:00 malam dan saat itu kami bergegas untuk cepat-cepat balik, dengan perasaan cemas kami beranikan diri untuk pulang. Karena kami harus melewati jembatan kali Blimbing yang terkenal angker, saat itu perasaan saya sudah tidak menentu karena itu saya suruh Sukma yang di depan, ”lo kenapa kok pucat gitu?” tanya dia, saya hanya diam dan suruh dia agar hati-hati.

Firasat saya mulai terbukti dengan kejadian yang pertama saya alami, saat itu Sukma lupa membunyikan klakson dan saya coba untuk tidak panik dan berdo’a agar tidak ada apa-apa. Tiba-tiba motor yang kami tumpangi kontaknya off sendiri, Sukma coba putar lagi kontaknya tapi saat sampai di jembatan kali Blimbing tiba-tiba kejadian serupa terulangi dan kali ini kontak motor kami tidak bisa di nyalakan.

Dengan berdo’a kami terus mencoba dengan keadaan yang gelap kami hanya bisa mengandalkan senter hp, saat itu jam 11:50 malam, tiba-tiba saya mendengar ada orang yang lagi mandi di bawah jembatan, “Sukma lo dengar gak ada orang yang lagi mandi”. Mungkin bukan orang, sudah pura-pura gak tau saja, kata Sukma sambil memegang kuat tangan saya.

Suasana makin mencekam ketika saya mencoba menghubungi orang tua saya “halo pak tolong jemput kami di jembatan kali Blimbing” tiba-tiba yang saya telfon berubah suaranya menjadi cekikikan seperti kuntilanak. Saya kaget dan seketika hp saya banting, saat itu juga jok motor saya ketetesan sesuatu yang kami kira air hujan, ternyata darah yang berasal dari pohon randu tua yang di batang pohonnya ada kuntilanak yang menampakan diri dengan wajah penuh darah, mata yang melotot dan lidah yang menjulur keluar.

Perlahan kuntilanak itu mencoba mendekat, kami berdua ketakutan dan lari hingga jatuh bangun, tapi kuntilanak itu masih saja mengikuti. Saya coba membaca ayat suci Al-Qur’an yang saya hafal kemudian saya melihat kuntilanak tersebut hilang, bukan itu saja ketika kami mencoba untuk mengambil motor kami, kami di halangi dengan sesosok bayangan putih kecil yang kemudian menjadi besar dan terus membesar.

Warga desa kerap memanggilnya “ujung-ujung”, benda itu terus membesar dan menelan kami, kami yang tidak kuat lalu kami pingsan, dan saat terbangun kami sudah berada di masjid di desa saya dan pak ustad memberikan saya teh hangat dan mencoba untuk bertanya sebenarnya apa yang kami alami, sekian dan terima kasih maaf kalau bahasanya berbelit-belit.

KCH

HUDA

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

HUDA has write 2,694 posts