Usus Kakek

Hai sobat reader setia KCH. Kejadian ini dialami oleh aku sendiri. Aku memang sering banget melihat yang aneh aneh sampai bosan. Dan menurutku dari sekian banyak kejadian yang aku alami, inilah yang aku rasa agak seram, *hehe ingat! Jangan pernah baca ini sendirian, nanti bisa bisa kayak aku loh dicerita “dia ikut baca KCH” *hihi, hihi, hati-hati loh ya.

Ok, lanjut. Bulan januari tahun 2016, aku diajak oleh tetanggaku sekaligus teman rumah bernama Santa Maria Jaquel (akrabnya Jaq) untuk pergi kerumah neneknya. Dia minta tolong ke aku untuk menemaninya karena banyak banget bawaan berupa makanan karena ada suatu acara (kalau bagi agama islam kayak *perwiritan, tapi gak tahu ya kalau agama non islam). Sampai dirumah neneknya, aku melihat sudah ada banyak tikar dibentang didalam rumah dan kursi-kursi plastik diluar rumah.

Saat aku memasuki rumah neneknya Jaq, aku bagaikan masuk ke sebuah gereja. Aku melihat banyak banget patung-patung Tuhannya si Jaq, patung ibu Tuhannya si Jaq, salib-salib mulai dari yang kecil sampai ada yang paling besar yang berada diruang tamu dan juga lilin-lilin khas kayak yang digereja-gereja. Ok, setelah masuk dan mengitari seluruh rumah neneknya Jaq, karena kebelet ingin buang air kecil aku pun permisi ke toilet.

Setelah selesai Jaq mengajak aku untuk main-main dikebun milik neneknya. Katanya dikebun itu aku bisa selfie-selfie, karena pemandangannya cantik, banyak bunga-bunga hias, pohon jeruk, pohon pisang, pokoknya segala jenis pepohonan dan ada ayunannya juga. Mendengar itu aku jadi semangat *dong ya. Saat sampai dikebun selang 10 menit kemudian, Jaq dipanggil neneknya untuk disuruh bantu-bantu, kala itu aku juga mau ikut bantu-bantu, segan kan ya, datang tapi gak bantuin.

Tapi Jaq menolak, dia bilang “ngapain loe mau bantuin segala. Loe kan disini tamu. Loe disini saja dulu Gin, bentaran kok. Nanti aku balik lagi”. Aku pun mengiyakan dan Jaq langsung tancap gas alias berlari kerumah. (Jarak antara rumah neneknya Jaq dan kebun kira-kira 20 meteran gitu). Jadi kira-kira sudah 15 menitan aku sendiri dikebun dan sudah puas foto-foto selfie, tiba-tiba aku melihat seorang kakek yang berada dibawah pohon jeruk dengan membelakangi aku.

Jarak antara aku dan kakek itu gak jauh, kira-kira 1 meteran. Aku tahu, kalau itu bukanlah manusia. Karena aku dari tadi berada disitu saja dan gak kemana-mana. Mataku pun disitu-situ saja melihat pemandangan dan sebelumnya aku gak pernah melihat ada seseorang atau seorang kakek. Melihat kakek itu, aku diam saja. Aku gak pergi dari situ, gak lari ketakutan apalagi pingsan. Pokoknya kala itu aku diam saja ditempat.

Aku lihatin saja kakek itu dari belakang. Kakek itu masih juga stay dipohon. Aduh! Kakek ini kok gak pergi-pergi ya. Mau ngapain dia? Malas kali aku begini. Aku tungguin saja kakek itu sampai menghilang. Tapi gak hilang juga tuh kakek. Sampai tiba-tiba kakek itu meringis kesakitan. Ku lihat dari belakang, dia memegang perutnya. “Aduh. Aduh! Sakit” kata kakek itu meringis, seperti ada sesuatu diperutnya yang ditahan.

“Ah! Sakit, aduh”. Karena menurutku bising, akhirnya dari kejauhan aku bilang “sudah sana. Pergi. Jangan ganggu aku. Aku gak ganggu kakek” selesai aku berbicara, kakek itu bukannya pergi, malah balik badan menghadapku. Waduh! Kakek ini kepala batu banget ya. Dia meringis kesakitan, memegang perutnya yang disebelah kiri. Mau gak mau aku harus berkomunikasi dengan itu kakek.

*Huft entah apa sih kakek ini. Di komunikasi itu aku tanya “kenapa kek? Perutnya kenapa?” kemudian dia jawab sambil meringis “sakit, sakit”. Kemudian ku tanya lagi “iya sakit. Sakit apa? Kenapa?” setelah aku tanya itu, tiba-tiba *jleb berjatuhan semua isi perut si kakek. Aku yang melihatnya, seketika langsung muntah. Ih menjijikan banget. Usus. Ih, usus kakek yang panjang berjatuhan ditanah dengan darah dan belatung, sebagian ususnya mulai membusuk dan sangat bau sekali. Menyengat. Aku saja sampai muntah. Menjijikan banget.

Dengan menahan muntahan untuk yang ke 3 kali, aku bertanya dengan gagap (dialog dipersingkat) “I-i-itu u-usus kakek? Kenapa? Kok bisa? Ih!” Kakek itu pun menceritakan kenapa perutnya bisa bolong. Jadi ceritanya begini guys. Kakek ini adalah kakeknya Jaq, jadi 2 tahun yang lalu, kakek ini hendak membeli bibit pohon jeruk untuk menanam jeruk (sekedar info. Pohon jeruknya sekarang sudah berbuah).

Sewaktu hendak pulang dari membeli bibit, dia pun akan menanamnya dikebun belakang (kebun tempat aku selfie-selfie) sebelum ditanam, dia lupa membeli polybag dan kemudian dia balik lagi ketoko tempat dimana dia membeli bibit jeruk itu dan sesudah membeli polybag dan hendak pulang, ditengah jalan kakek itu ketabrak. Sebuah truk menambrak kakek itu pas diperutnya. Akhirnya perutnya koyak dan mengeluarkan semua usus-ususnya.

loading...

Ternyata, kakek ini bukanlah mau nakut-nakuti aku, tapi hanya ingin kenalan saja dan hanya ingin curhat sedikit. Kakek itupun sempat bilang kalau pohon jeruk ini selalu berbuah lebat dan manis berkat kuburannya yang ada disamping pohon jeruk yang hendak ditanamnya dulu. Ah! Kuburan? Perasaan dari tadi aku gak melihat kuburan. Jangan-jangan? Sekian.

Fiolin Fradah

Sezgina Fradah

Thank you for reading my stories.
Thank you for liking my stories
Thank you so much…
Terimakasih,Thank you,Arigato gozaimasu, kamsahamnida,Xie-xie,Merci bien,Dankejewel,Matur nuwun,Tarimo kasih,Hatur nuhun,Bujur…

All post by:

Sezgina Fradah has write 94 posts

Please vote Usus Kakek
Usus Kakek
Rate this post