Wahana Rumah Hantu

Konon jika kita masuk ke dalam permainan wahana rumah hantu kita dilarang untuk menghitung jumlah hantunya, alasannya karena mungkin saja ada makhluk halus yang sebenarnya juga ikut menakut-nakuti. Sehingga jika kita hitung jumlah hantunya akan bertambah. “sialnya, aku tidak tau akan larangan hal ini” ketika baru masuk kuliah dulu, pada saat itu aku ikut menjadi hantu dalam wahana rumah hantu.

Hal tersebut membuatku mengalami kejadian yang sangat mengerikan, Namaku Dina. Ceritaku berawal ketika aku mendaftar menjadi staff dalam sebuah event dikampusku, event itu dibuka untuk umum dan bisa dibilang punya nama karena sudah diselenggarakan turun temurun dari angkatan terdahulu dan sudah menjadi tradisi juga, untuk fakultas kami membuat wahana rumah hantu karena peminatnya banyak dan semakin ramai.

Rumah hantu itu dibuat diruang auditorium fakultas kami, ruang auditorium itu sangat besar kira-kira setengah lapangan basket. Sehari sebelum event dimulai, kursi dan meja di ruang auditorium sudah menghilang dan berganti menjadi sekat-sekat yang berbentuk labirin. Sekat-sekat itu ada yang terbuat dari triplek dan ada juga yang sebatas kain putih yang digantung dengan tali, foto-foto sudah dipindahkan dan diganti dengan hiasan yang menyeramkan mendukung tema dan hari ini adalah event dikampus kami.

Beberapa jam sebelum acara, koordinator bidang acara datang terburu-buru dan melapor kepada koordinator divisiku kalo ia kekurangan orang untuk menjadi hantu di wahana rumah hantu. Karena kebutuhannya adalah hantu wanita, maka koordinator bidang acara itu menunjukku yang memiliki rambut panjang untuk dijadikan hantu ju-on, film horor asia yang melegenda. Sesuai dengan tema wahana rumah hantu tahun ini, yang mengangkat tema hantu jepang.

Aku langsung mengikuti kakak koordinator itu ke ruang make up, setengah jam kemudian mukaku sudah tampak sangat menyeramkan, setelah itu aku langsung menuju ke wahana rumah hantu yang telah siap untuk dibuka, aku ditempatkan dipos terakhir. Karena sudah diset sedemikian rupa, mau tak mau aku harus melewati pintu depan, pintu masuk utama rumah hantu ini. Selama perjalanan menuju posku, aku iseng menghitung jumlah hantu yang ada disitu.

Total jumlahnya ada 12 dan itu sudah termasuk aku, tugasku menakuti pengunjung dengan merangkak mendekati pengunjung secara tiba-tiba dan membuat mereka ketakutan. Posku terdapat pintu keluar, sekaligus menjadi pos yang terakhir. Sekat yang gelap dan penerangan yang kurang membuat posku ini terasa lebih angker dan lebih horor dibanding pos yang lain.

Tepat jam 11 siang rumah hantu dibuka, ternyata menakuti orang adalah pekerjaan yang menyenangkan “pikirku bahagia”. Walaupun hanya sebentar belajar akting menakut-nakuti tadi dari kakak seniorku. Aku rasa aku berhasil melakukan improvisasi dengan baik, karena semua pengunjung yang datang kepos ku semuanya ketakutan sambil lari terbirit-birit.

Mungkin karena terlalu asik menakuti pengunjung, aku jadi tidak memperhatikan waktu dan sekelilingku. Saat aku sadar aku melihat dibelakangku sudah ada sosok seorang perempuan berpakaian serba merah. Yang berambut hitam panjang, padahal sebelumnya tidak ada siapa-siapa disana. Aku bingung, aku rasa aku mendengar kata kakak seniorku bahwa aku adalah hantu terakhir. Kenapa tiba-tiba ada satu hantu lagi yang berperan diposku.

Perempuan itu berambut panjang, wajahnya pucat dan pandangannya lurus kedepan sambil menatap udara kosong. Aku ingat tadi aku melihatnya berada diruangan make up, ia berdiri menyendiri berada disudut ruangan make up. Aku terus memperhatikannya, berharap ia menyadari keherananku akan keberadaan dia. Aku memutuskan untuk menegurnya “eh, tempat kamu memang disini?” tanyaku padanya, ia tidak menjawab.

Aku berjalan mendekatinya “bukannya gimana-gimana tapi aku gak mau di omelin kak zaski, ini tempat aku. Tempat kamu dimana?”. Ia menoleh perlahan kearahku, tiba-tiba matanya melotot sambil berkata “aku sudah dari dulu ada disini” dengan suara bisikan dan tatapan yang menyeramkan. Mendadak pula aku mencium bau bunga melati dan disusul dengan bulu kudukku yang tiba-tiba berdiri.

Tanpa pikir panjang aku mencoba keluar dari rumah hantu ini, tapi ia berdiri persis menghalangi pintu keluar dan tiba-tiba ia tertawa dengan sangat menyeramkan. “hihihi.. hihihi.. hihihi” Perlahan ia mulai melangkahkan kakinya, makin lama makin dekat. Tidak tau kenapa nyaliku ciut dan aku mendadak tidak bisa bergerak, aku diam terpaku.

Perempuan berbaju merah itu terus mendekatiku dan perlahan pula ia mengangkat tangannya dan berusaha mencekik ku sambil berbisik marah tepat disamping telingaku “ini tempat aku pergi kamu dari sini. Pergi.. pergi jauh dari sini” aku coba meronta dan berteriak minta tolong, tapi sia-sia badanku lemas dan suaraku mendadak hilang, aku makin menangis sejadinya.

Aku pasrah! Nafasku sesak karena cengkraman perempuan itu semakin kuat dan tubuhku mulai melemas, pandanganku semakin kabur. Kali ini tiba-tiba, muncul sesosok anak kecil dengan tubuh yang hitam seperti terbakar, seorang kakek-kakek dengan wajah menyeramkan bahkan aku melihat sosok perempuan dengan jilbab putih penuh darah yang sedang menyeret badannya dilantai. Mereka semua mulai mendekatiku, “apa ini, Ya Tuhan! tolong aku”. Aku tidak ingat apa-apa lagi setelah itu.

Aku terbangun diruangan make up, seluruh pemeran hantu dan panitia ada disitu, rupanya wahana rumah hantu itu di istirahatkan setelah kedua orang pengunjung menemukanku pingsan didekat pintu keluar. Saat aku terbangun, aku sempat terkaget karena melihat teman-temanku masih memakai make up ala hantu.

Belum sempat aku berpikir, tiba-tiba angin bertiup kencang sekali diruang make up lalu disusul salah seorang temanku yang berkostum hantu, ia kemudian menjerit sambil berteriak-teriak tapi suaranya, bukan suara temanku. Suara yang keluar dari temanku adalah suara perempuan setengah baya yang berulang-ulang mengucap kalimat “ini tempat aku, pergi kamu.. pergi kamu dari sini. Pergi jauh dari sini”.

Kemudian sosok temanku itu bergerak mendekatiku dan ia berusaha mencekik leherku, teman-teman yang lain hanya terdiam karena terkaget. Aku sempat dicekik oleh temanku yang kesurupan ini, aku tidak bisa bernafas. Bukannya malah membantuku, temanku semua malah mundur karena takut. Aku yang ingin berteriak tapi tidak bisa, makin lama makin lemas.

loading...

Aku terbangun lagi untuk kedua kalinya, kurasakan sakit dileherku. Sekarang disekelilingku makin banyak orang, tapi sekarang aku melihat ada laki-laki setengah baya sedang memegang tanganku matanya tertutup dan mulutnya komat-kamit membaca doa. Sekarang kurasakan pundakku panas sekali tapi makin lama makin hilang, badanku terasa lemas sekali, kemudian datang sely sahabatku sambil membawa segelas air putih dan memberikannya kepadaku.

Disitulah sely memberitahuku kalo bapak-bapak yang memegang tanganku ini adalah salah satu penjaga gedung fakultasku dan memang tadi salah seorang temanku kesurupan, dia kesurupan salah satu penunggu roh disini. Ia berkata bahwa difakultas ini memang ada penunggunya, sosoknya adalah seorang perempuan berbaju merah.

Ia memang cukup sering menampakkan diri disekitar kampus tapi lebih sering terlihat di auditorium. Bapak itu kemudian meneruskan ceritanya, sosok penunggu itu marah karena merasa terganggu oleh kegiatan di auditorium, dari situlah akhirnya wahana rumah hantu tidak diteruskan dan untuk kegiatan selanjutnya wahana tersebut dipindahkan lokasinya.

Share This: