Wajah Yang Aku Kenal

Nama saya buddi, kejadian ini terjadi ketika saya berumur 7 tahun meskipun saat ini saya berumur 29 tahun, tapi kalo ingat hal itu masih suka bikin bulu kuduk merinding. Awal kisah ada salah satu teman main alias tetangga seusia ku saat itu namanya tony dia meninggal dunia karna sakit. Seperti halnya anak-anak pada umumnya di daerahku biasanya kalau ada yang meninggal pasti warga berbondong-bondong untuk mengantar jenazah ke tempat peristirahatan terakhir alias pemakaman.

Tapi entah kenapa pada saat itu saya merasa tidak ingin ikut mengantar jenazah tony. Padahal kami dulu sering main kelereng bareng dan banyak lagi permainan anak-anak pada saat itu yang kita mainkan. Sekitar sehabis shalat dzuhur warga mengantarkan jenazah temanku ke tempat peristirahatannya yang terakhir, bahkan ayahku sendiri bertanya kepadaku “kok kamu nggak ikut antar jenazah si tony, bud?”.

“Malas” Jawabku. “Kan itu temanmu masa kamu nggak antar buat yang terakhir kalinya” tambah Ayahku. Dengan santai aku jawab “mana juga dia tau kalau kita nganterin dia sampai kubur”. Akhirnya ayahku membiarkanku yang sedang asik bermain game bot tetris. Pada saat itu cuaca memang cukup panas jadi aku merasa lebih nyaman didalam rumah. Karna terlalu asik bermain game tidak terasa waktu sudah menunjukkan waktu ashar.

Mataku mulai merasa mengantuk karna belum tidur siang, memang kebiasaanku dulu selalu aku sempatkan untuk tidur siang karna sekolahku pagi. Siang pasti mengantuk merasa asik main game hampir melewatkan waktu tidur siangku. Kebiasaanku salah satunya tidur dilantai dibawah kolong ranjang saat siang, karna aku rasa dingin dan saat itu tempat tidur masih menggunakan ranjang besi dan berkelambu aku merasa nyaman tidur disana.

loading...

Lagi asik merasakan dinginnya lantai tak terasa langsung terlelap, tapi tak berapa lama ada sesuatu yang mulai mengganggu tidur siangku. Saat itu seperti ada yang menggoyangkan tubuhku sehingga aku terbangun dalam rasa kantuk yang kuat tadinya ku pikir gempa. Aku coba untuk memejamkan kembali mataku setelah ku pastikan tidak terjadi apa-apa. Saat mencoba untuk melanjutkan tidurku aku merasa ada yang meniup tengkuk ku, dengan sigap aku berbalik untuk memastikan siapa yang dibelakangku.

Antara sadar atau mimpi ketika berbalik aku melihat wajah yang tak asing lagi dan sangat ku kenal, ya itu wajah almarhum tony yang siang itu baru aja dimakamkan. Dengan sigap aku kembali ke posisiku yang semula, dalam hatiku bertanya apakah wajah pucat tanpa ekspresi itu benar tony atau hanyalah halusinasi aku saja. Mungkin sekitar 2 – 3 menit aku tetap di posisi semula dan meyakini kalo tadi cuma mimpi dan dengan keberanian aku kembali membalikkan badan melihat apakah sosok hantu itu masih ada.

Dan ternyata dia masih ada, tetap dengan wajah pucat tanpa ekspresi. Kembali aku balikan badan dan mencoba untuk teriak sekeras-kerasnya dan untungnya ayahku mendengar teriakan ku dan segera menghampiri. Sambil menangis dan penuh rasa takut aku tidak bisa cerita apa-apa. Setelah sekitar esok harinya aku baru bisa cerita kepada ayahku tentang apa yang ku saksikan. Ayahku tersenyum dan beliau bilang “kirimkan doa semoga dia tenang disana”.

Share This: