Wangi Bunga Melati

Namaku Ayunda. Aku seorang mahasiswi baru di salah satu universitas di daerah Ciumbuleuit. Aku bukan orang Bandung. Di Bandung, aku kost di daerah Ciumbuleuit. Dibanding dengan kost teman-temanku, kost termasuk yang paling jauh. Tapi, apa boleh buat, aku tidak ada waktu lagi untuk mencari kost lain yang sesuai keinginanku. Jadi, mau tidak mau aku pun kost di sana.

Kost ku memiliki sepuluh kamar dan dua kamar mandi. Namun, kost ini hanya ditinggali empat orang saja, termasuk aku. Jadi, masih banyak kamar kosong. Ibu kostnya sendiri tidak tinggal di sini, dia punya rumah sendiri, dan hanya hari tertentu saja datang untuk memeriksa. Suasana kost menurutku cukup seram. Ada beberapa pohon besar di sekelilingnya. Kebayang, kalau malam-malam mau ke toilet.

Untungnya, kamarku memiliki kamar mandinya di dalam. Aku berpikir, aku sangat beruntung. Tapi, ternyata tidak seperti itu. Malam ini, merupakan malam pertama aku menempati kost baru. Kamarku sudah tertata rapi. Aku ingin membuat kamarku senyaman mungkin, agar bisa konsentrasi saat belajar.

“Tok.. tok.. tok”.

“Sebentar” Ketika aku membuka pintu, terlihat seorang wanita dengan cardigan merah mengajakku berkenalan. Badannya sangat wangi, seperti wangi bunga melati. Setelah mengobrol-ngobrol, akhirnya aku tahu namanya Indri. Suaranya agak sedikit serak. Saat aku tanya apa dia sakit, dia menjelaskan kalau suaranya seperti itu sejak dia bangun dari koma selama enam bulan. Lebih dalam lagi aku tanya, kenapa dia bisa koma. Katanya, dia di-guna-guna karena banyak orang yang tidak suka dengannya.

Dari situ, pandanganku tentang Indri mulai berubah. Aku jadi agak sedikit takut. Dia menatapku sambil terus bercerita kalau kost ini rawan. Semua ceritanya hanya membuatku semakin takut, terutama terhadap dirinya. Pantas saja banyak orang yang tidak suka dia, ngomongnya aja kayak gini. Tiba-tiba, dia menghentikan obrolannya, karena ingin ke toilet. Aku mempersilakannya. Aku teringat piring dan gelas yang baru saja aku cuci, dan belum kusimpan kembali.

“Indri, aku ke dapur dulu ya untuk menyimpan gelas sama piring,” ucapku sedikit berteriak. Aku pun keluar kamar dan menuju dapur yang berada tepat di belakang kamarku. Terdengar suara Indri yang sedang bersenandung, lalu menyiram kamar mandi. Saat aku kembali ke kamar, Indri sudah tidak ada. “Ke mana tuh anak?” ujarku penasaran sambil melihat-lihat ke luar kamar. Tanpa memperdulikannya aku pun tidur.

Kamis ini, hari keempat aku berada di kost. Adzan terdengar, aku pun segera mengambil air wudhu, dan menjalankan salat maghrib. Namun, belum sempat aku shalat ada yang mengetuk pintu kamarku. Indri, Dia terlihat menangis tersedu-sedu, aku segera menyuruhnya masuk. Indri tak henti-hentinya menangis. Aku bingung, dan menanyakan apa yang membuatnya menangis begitu tersedu-sedu. Dia hanya bilang “… Sakit hati, nggak ada yang nolongin saya” Aku berusaha menenangkannya, meskipun sebenarnya agak sedikit risih. “Sebentar ya, Ndri, aku salat dulu”.

Namun yang terjadi, Indri tiba-tiba memelukku sangat erat, sambil terus menangis. Indri mulai berkata-kata tidak jelas. Seperti ngomong sendiri? Aku mulai ketakutan. Ada yang tidak aku tahu tentang orang ini, mungkin dia gila. Aku membawanya keluar dan mengatakan kalau aku ada tugas yang harus segera dikerjakan. “Maaf ya, Ndri, kamu bikin aku nggak nyaman. Lagian aku ada tugas penting buat dikumpulin besok.” Indri menatapku tajam, cengkeramannya mulai melemah, dan dia pun melepaskanku.

Indri mundur perlahan. Aku berhasil mengusirnya. Sepertinya dia tidak terima aku usir. Tapi, bagaimana lagi, keberadaanya membuatku tidak nyaman. Aku langsung menutup pintu dan menguncinya. Waktu semakin malam, aku sebenarnya masih kepikiran Indri tadi. Aku bersantai sambil menonton tv. Tapi, tak lama kemudian, listrik mati “Hah? Apa-apaan nih mati lampu?” ucapku. Ya udah, tidur sajalah. Aku memeluk guling dan mulai pejamkan mata.

Aku mendengar ada suara air di kamar mandi. Seperti ada seseorang di balik pintu kamar mandiku yang tertutup tidak rapat itu. Aku menengok ke arah kamar mandi. Aku melihat seperti ada bayangan seseorang di dalam sana. Jantungku berdetak lebih cepat, keringat dingin mengucur dari dahiku. Aku membaca doa-doa yang aku bisa. Sekarang, jelas sekali pintu kamar mandi bergerak-gerak. Tiba-tiba, ada yang mengusap-usap kepalaku dari belakang.

Di ikuti suara isak tangis perempuan tepat di belakangku. Kali ini, aku bisa merasakan ada seseorang yang ikut tidur di belakangku sambil mengusap kepalaku dan menangis. Wangi apa ini? Seperti wangi bunga melati, Wanginya Indri. “Indri? Kamu Indri?” Suara perempuan itu seakan-akan mengiyakan aku tiba-tiba merasa semakin takut karena tadi telah mengusirnya.

“Jangan ganggu saya.” ucapku.
“Ini tempat saya”.
“Iya maaf. Saya akan pindah” Aku histeris, tapi tetap menutup mataku.

Listrik sudah menyala lagi, Aku lemas tak berdaya dengan perasaanku masih diliputi ketakutan. Pagi ini aku cepat-cepat berkemas dan berpamitan pada ibu kost. Teman-teman kost bertanya mengapa aku terburu-buru pindah kostan. Namun, aku tidak berminat untuk bercerita. Aku merasa harus bertanya kepada ibu kost tentang kamar yang kutempati. Benar saja kamar itu sudah kosong sejak setahun lalu. Informasi itu sudah cukup, aku tidak ingin tahu apa-apa lagi. Aku akhirnya menyimpulkan, kita tidak akan tahu kapan kita akan bertemu makhluk-makhluk itu. Hanya doa yang dapat menguatkan iman dalam hati.

loading...

Share This: